Abdullah Ibnu Rawahah radhiallahu 'anhu
Yang bersemboyan :
Wahai Diri ……..
Jika Kau Tidak Gugur di Medan Juang ……..
Kau Tetap Akan Mati ……..
Walau di Atas Ranjang ..……
Waktu itu Rasulullah saw. sedang duduk di suatu tempat dataran tinggi kota Mekah, menghadapi para utusan yang datang dari kota Madinah, dengan bersembunyi-sembunyi dari kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari duabelas orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan nama Kaum Anshar.(penolong Rasul). Mereka sedang dibai'at Rasul (diambil Janji sumpah setia) yang terkenal pula dengan nama Bai'ah Al-Aqabah al-Ula (Aqabah pertama). Merekalah pembawa dan penyi'ar IsIam pertama ke kota Madinah, dan bai'at merekalah yang membuka jalan bagi hijrah Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya kemudian, membawa kemajuan pesat bagi Agama Allah yaitu Islam ....Maka salah seorang dari utusan yang dibai'at Nabi itu, adalah Abdullah binRawahah.
Dan sewaktu pada tahun berikutnya, Rasulullah saw. membai'at. lagi tujuhpuluh tiga orang Anshar dari penduduk Madinah pada bai'at 'Aqabah kedua, maka tokoh Ibnu Rawahah ini pun termasuk salah seorang utusan yang dibai'at itu.
Kemudian sesudah Rasullullah bersama shahabatnya hijrah ke Madinah dan menetap di sana, maka Abdullah bin Rawahah pulalah yang paling banyak usaha dan kegiatannya dalam membela Agama dan mengukuhkan sendi-sendinya. Ialah yang paling waspada mengawasi sepak terjang dan tipu muslihat Abdulla bin Ubay (pemimpin golongan munafik) yang oleh penduduk Madinah telah dipersiapkan untuk diangkat menjadi raja sebelum Islam hijrah ke sana, dan yang tak putus-putusnya berusaha menjatuhkan Islam dengan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada. Berkat kesiagaan Abdullah bin Rawahah yang terus-menerus mengikuti gerak-gerik Abdullah bin Ubay dengan cermat, maka gagalah usahanya, dan maksud-maksud jahatnya terhadap Islam dapat di patahkan.
Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka degan kepandaian tulisi baca. Ia juga seorang penyair yang lancar, untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan indah didengar ....
Semenjak ia memeluk Islam, dibaktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam .....Dan Rasullullah menyukai dan menikmati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun lagi membuat syair.
Pada suatu hari, beliau duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah, lalu Nabi bertanya kepadanya: "Apa yang anda lakukan jika anda hendak mengucapkan syair?"
Jawab Abdullah: "Kurenungkan dulu, kemudian baru kuucapkan". Lalu teruslah ia mengucapkan syairnya tanpa bertangguh, demikian kira-kira artinya secara bebas:
"Wahai putera Hasyim yang baik, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia.dan memberimu keutamaan, di mana orang tak usah iri.
Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini terhadap dirimu. Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka.
Seandainya anda bertanya dan meminta pertolongan mereka dan memecahkan persoalan tiadalah mereka henhak menjawab atau membela
Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang anda,bawa
Sebagaimana Ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa".
Mendengar itu Rasul menjadi gembira dan ridla kepadanya, lalu sabdanya: "Dan engkau pun akan diteguhkan Allah".
Dan sewaktu Rasulullah sedang thawaf di Baitullah pada 'umrah qadla, Ibnu Rawahah berada di muka beliau sambil membaca syair dari rajaznya:
"Oh Tuhan, kalauIah tidak karena Engkau, niscaya tidaklah ami akan mendapat petunjuk, tidak akan bersedeqah dan Shalat!
Maka mohon diturunkan sakinah atas kami dan diteguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang.
,Sesuhgguhnya Qrang-orang yang telah aniaya terhadap kami, biIa mereka membuat fitnah akan kami tolak dan kami tentang".
Orang-orang Islam pun sering mengulang-ulangi syair-syairnya yang indah.
Penyair Rawahah yang produktif ini amat berduka sewaktu turun ayat al-Quranul Karim yang artinya :
"Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat". (Q.S. Asy-syu'ara: 224)
Tetapi kedukaan hatinya jadi terlipur waktu turun pula ayat lainnya : Artinya :
"Kecuali orang-orang(penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya". (Q.S. Asy-syu'ara : 227)
Dan sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri, tampillah Abdullah ibnu Rawahah membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qashidahnya menjadi slogan perjuangan:
"Wahai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, tetapi engkau pasti akan mati juga!"
Ia juga menyorakkan teriakan perang:
"Menyingkir kamu, hai anak-anak kafir dari jalannya. Menyingkir kamu setiap kebaikkan akan ditemui pada Rasulnya".
Dan datanglah waktunya perang Muktah ….Abdullah bin Rawahah adalah panglima yang ketiga dalam pasukan Islam.
Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukkan Islam yang berangkat meninggalkan kota Madinah …ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya;
" Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk lututnya angkatan perang syetan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan ….. Mati syahid di medan perang…!!"
Benar, itulah cita-citanya kemenangan dan hilang terbilang …., pukulan pedang atau tusukan tombak, yang akan membawanya ke alam syuhada yang berbahagia…!!
Balatentara Islam maju bergerak kemedan perang muktah. Sewaktu orang-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya balatentara Romawi sekitar duaratus ribu orang …, karena menurut kenyataan barisan tentara mereka seakan tak ada ujung alhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya ….!
Orang-orang Islam melihat jumlahmereka yang sedikit, lalu terdiam …dan sebagian ada yang menyeletuk berkata:
"Baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jurnlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi".
Tetapi.Ibnu Rawahah,.bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap:
"Kawan:kawan sekalian! Demi Ailah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah Kita tidak memerangi memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah ... !
Ayohlah kita maju ….! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenagan atau syahid di jalan Allah ... !"
Dengan bersorak-sorai Kaum Muslimin yang sedikit bilangannya tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak: "Sungguh, demi Allah, benar yang dibilang Ibnu Rawahah.. !"
Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya.
Kedua pasukan, balatentara itu pun bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran di antara keduanya.
Pemimpin yang pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid yang mulia, disusul oleh pemimpin yang kedua Ja'far bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kesabaran, dan menyusl pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah. Dikala itu ia memungut panji perang dari tangan kananya Ja'far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan Islam yang kecil itu, tersapu musnah diantara pasukan-pasukan Romawi yang datang membajir laksana air bah, yang berhasil dihimpun oleh Heraklius untuk maksud ini.
Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu Rawahah ini menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat kehebatan tentara romawi seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru:
"Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga …..
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …….
Tibalah waktunya apa yng engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!"
(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja'far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).
Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati…..!" Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya …… Kalau tidaklah taqdir Allah yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke syurga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka …. Tetapi waktu keberangkatan sudah tiba, yang memberitahukan awal perjalananya pulang ke hadirat Allah, maka naiklah ia sebagai syahid…..
Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya:
"Hingga dikatakan, yaitu bila mereka meliwati mayatku:
Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah, dan benar ia telah terpimpin!"
"Benar engkau, ya Ibnu Rawahah….! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah…..!"
Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa' di Syam, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sedang duduk beserta para shahabat di Madinah sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi ter;liam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatu disebabkan rasa duka dan belas kasihan ... ! Seraya memandang berkeliling ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata: "Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid ..... Kemudian diambil alih oleh Ja'far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula ....". Be!iau berdiam sebentar, lain diteruskannya ucapannya: "Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia•pun syahid pula".
Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula : "Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga …"
Perjalanan manalagi yang lebih mulia …….
Kesepakatan mana lagi yang lebih berbahagia …….
Mereka maju ke medan laga bersama-sama …….
Dan mereka naik ke syurga bersama-sama pula ….
Dan penghormatan terbaik yang diberikan untuk mengenangkan jasa mereka yang abadi, ialah ucapan Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam yang berbunyi :
"Mereka telah diangkatkan ke tempatku ke syurga……
Kamis, 10 September 2009
ABU LUBABAH BIN MUNZHIR
Abu Lubabah bin Abdil Mundzir radhiallâhu 'anhu
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang di percayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya. Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allahlah pahala yang besa". (al-Anfaal:27-28)
Menurut keterangan beberapa ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu Lubabah bin Abdil Mundzir radhiallâhu 'anhu.
Abu Lubabah bin Abdil Mundzir radhiallâhu 'anhu
Abu Lubabah termasuk salah seorang muslim pilihan yang telah membela dan menegakkan agama Islam. Dia adalah salah seorang pahlawan muslimin dalam peperangan, yang telah mempersembahkan diri dan nyawanya di jalan Allah untuk menegakkan kebenaran dan meninggikan agama-Nya.
Dia dilahirkan di Yatsrib yang subur dan banyak terdapat mata air, yang banyak ditumbuhi pepohonan dan tetumbuhan yang dapat dinikmati oleh manusia dan hewan.
Kiranya tiap daerah memiliki pengaruh kuat terhadap sepak terjang seseorang dan arah pemikirannya juga. Begitu pula dengan penduduk kota Madinah. Mereka pada umumnya dikenal memiliki akhlak yang luhur, pemaaf, berperasaan halus, dan suka berbuat baik sesamanya.
Abu Lubabah termasuk laki-laki seperti itu, yang diisyaratkan oleh Allah Ta'ala dalam al-Qur'anul Karim.
"Dan orang-orang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (kaum Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (kaum muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum muhajirin); dan mereka mengutamakan (kaum muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung". (al-Hasyr:9)
Isterinya adalah Khansa' binti Khanddam al-Anshariyah dari golongan al-Aus. Pada awalnya, ayahnya ingin mengawinkan putrinya itu dengan seorang dari bani Auf, namun putrinya sudah terlanjur cinta kepada Abu Lubabah. Akhirnya,ia pergi menghadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan melaporkan hasrat hatinya itu, lalu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam memerintahkan kepada ayahnya supaya memberikan kebebasan kepada putrinya dalam memilih calon suaminya sendiri. Akhirnya,iapun dinikahkan dengan Abu Lubabah bin Abdil Mundzir radhiallaahu 'anhu.
Perkawinan keduanya mendapat karunia seorang anak perempuan, Lubabah namanya. Demikinlah, akhirnya Abu Lubabah menjadi panggilan ayahnya.
Lubabah diperistri oleh Zaid ibnul Khaththab radhiallaahu 'anhu yang dipercaya memegang panji kaum muslimin dalam peperangan di al-Yamamah yang mencemaskan seraya menyeru dengan suara nyaring,"Ya Allah, aku dapat menjawab dengan apa yang dikumandangkan Musailamah dan Muhkam Ibnu Thufail…..".
Dengan panji dan pedang di tangan, ia menyerang lawannya dengan tangkas dan berani sehingga ia tewas sebagai syahid. Umar ibnul Khaththab radhiallaahu 'anhu berkomentar atasnya, "Allah akan merahmati saudaraku, Zaid radhiallaahu 'anhu, insya Allah. Dia masuk Islam sebelum aku dan tewas sebagai syahid sebelum aku juga."
Abu Lubabah termasuk orang pertama yang masuk Islam, ketika beberapa orang anshar berjumpa dengan Mush'ab bin Umair di Yatsrib. Kepada mereka ditawarkan agama Islam, lalu mereka dengan spontan percaya kepada Muhammad Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
Abu Lubabah salah seorang Anshor yang menghadiri bai'at al-'Aqabah II. Adapun orang pertama yang berbicara di majelis itu ialah Abbas bin Abdul Muthalib, padahal pada waktu itu ia menganut agama kaumnya (musyrik). Ini dilakukannya hanya karena ia ingin mengetahui dengan pasti dan meyakinkan kedudukan keponakannya, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam , dalam bai'at itu;Ia berkata:
"Wahai kaum Khazraj, ketahuilah bahwa Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam adalah dari golongan kami dan kami telah mempertahankannya dari kaum kami yang masih sealiran dengan kami dan ternyata dia masih tetap dimuliakan tengah-tengah kaumnya dan terlindung dari Tanah Airnya. Akan tetapi, ia tetap saja mau pergi bersama kalian ke negeri kalian. Kalau kalian benar-benar mau menepati janji akan melindunginya dari orang-orang yang tidak sepaham dengan dia maka kami akan mempercayakannya kepada janjimu itu. Akan tetapi, kalau kalian akan menyerahkannya dan tidak akan mempertahankannya dari orang-orang yang tidak sepaham dengannya, setelah dia keluar dan pergi kepada kalian, maka dari sekarang, sebaiknyalah kalian membiarkannya dalam kemuliaan dan perlindungan dari kaumnya di negeri sendiri."
Mereka berkata:"Kami telah mendengar apa yang anda katakan. Sekarang katakanlah ,wahai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam untuk dirimu dan Rabbmu, sesukamu!"
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawab,"Aku akan membai'at kalian bahwa kalian melindungiku seperti kalian melindungi isteri-isteri dan anak-anakmu".
Al-Barra' bin Ma'rur menjabat tangan beliau dan berkata,"Ya, Atas nama Yang mengutusmu dengan kebenaran, Kami berjanji akan melindungimu seperti melindungi isteri-isteri dan anak-anak kami, maka bai'atlah kami,wahai Rasulullah, karena kami sejak nenek moyang kami memang ahli perang."
Selagi Al-Barra' berbicara dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tiba-tiba Abul Haitsam bin an-Nahyan memotong pembicaraannya," wahai Rasulullah, antara kami dan segolongan kaumku (maksudnya, kaum yahudi) sudah terjalin ikatan dan kemungkinan kami memutuskannya. Apakah kalau kami memutuskannya, kemudian Allah berkenan memenangkanmu, apakah tidak mungkin engkau kembali kepada kaummu dan meniggalkan kami?"
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tersenyum, lalu berkata menegaskan: "Darah dibayar dengan darah dan penghancuran dibayar dengan penghancuran. Aku bagian dari kalian dan kalian juga bagian dariku . Aku akan memerangi siapa yang kalian perangi dan akan berdamai dengan siapa yang berdamai dengan kalian."
Abu Lubabah kemudian kembali ke Madinah setelah pertempurannya dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam itu. Ia merasa kagum sekali atas kepribadian dan keluhuran budi pekerti beliau. Ia kembali dari sana sebagai orang baru yang menjelma dari masa lalunya secara keseluruhan, menjadi seorang yang berusaha keras yang merealisasikan isi Al-Qur'anul Karim dalam hidup dan sepak terjangnya.
Tidak lama setelah itu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam sudah berada di tengah-tengah mereka di Madinah, menyusun syariat dan menetapkan undang-undang yang dibawa oleh Jibril dari Rabbnya. Ternyata, kaum muslimin menyambutnya dengan gegap gempita, tidak seorangpun merasa berkeberatan atau hendak menyelewengkannya sedikitpun.
Tak lama setelah itu, perang badar pun pecah antara kaum musyrikin dan kaum muslimin pilihan Allah Ta'ala itu. Abu Lubabah mengetahui persiapan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam , lalu ia mempersiapkan dirinya dan pergi menyandangkan senjatanya hendak menemui kaum kafir Quraisy bersama dengan kaum muslimin. Akan tetapi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tidak mengizinkan Abu Lubabah pergi bersamanya, tetapi ia diamanatkan mewakilinya di Madinah. Penjagaan keamanan dan ketertiban kota itu tidak kurang pentingnya dengan perang di medan laga. Ia di beri tanggung jawab memelihara keamanan dan keselamatan penduduk kota Madinah, anak-anak, kaum wanita, dan semua orang yang ada di dalamnya. Ia juga diberi amanat menjaga keamanan dan keselamatan buah-buahan, perkebunan, dan perbatasannya. Ia diberi tanggung jawab memberi warganya yang sedang kelaparan, memenuhi semua kebutuhan yang ada, baik anak-anak maupun oran tua, sampai pasukan yang berada di jalan Allah itu kembali.
Abu Lubabah mematuhi perintah dan pengarahan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dengan baik. Ia memimpin kota Madinah dengan baik, mempersiapkan juga bekal yang mungkin dibutuhkan oleh pasukan yang sedang berperang, dan menggalakkan pembuatan senjata perang siang dan malam, sehingga pasukan kaum muslimin memiliki persenjataan dan perbekalan yang lengkap.
Tiap hari, ia pergi keluar kota Madinah untuk mengetahui terlebih dahulu berita jihad kaum muslimin. Akhirnya, berita kemenangan yang gilang-gemilang itu sampai diterimanya, lalu ia pergi bergegas-gegas memasuki kota untuk menyampaikan berita kemenangan itu. Penduduk kota Madinah bersuka cita dan bersyukur kepada Allah Ta'ala yang telah memenangkan saudara-saudaranya melawan musuh-musuhnya yang jauh lebih lengkap dan kuat. Akan tetapi, ada sekelompok penduduk kota Madinah yang tidak bergembira atas kemenangan yang telah diraih kaum muslimin itu. Mereka adalah orang-orang yang senang bermain di gelap gulita, orang-orang yang telah mengetahui kebenaran, namun menutup mata dan telinganya darinya. Mereka adalah segolongan kaum yahudi yang bertetangga dengan kaum muslimin di Madinah, yang dengan terang-terangan memperlihatkan rasa dengki dan hasudnya atas kemenangan yang diraih kaum muslimin dan tidak segan-segan melanggar perjanjian yang sudah mereka sepakati.
Setelah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam mendengar dan melihat gelagat yang diperlihatkan kaum yahudi di Madinah, beliau lalu memerintahkan wakil-wakilnya untuk mengadakan pertemuan di sebuah pasar di perkampungan Bani Qainuqa', seraya berkata,"Apa yang menimpa kaum Quraisy hendaknya dijadikan pelajaran yang harus diwaspadai. Kalian sudah mengetahui bahwa aku ini adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah."
Mereka menjawab dengan lantang,"Hai Muhammad, janganlah kau takabbur atas kemenangan yang engkau peroleh melawan orang-orang yang tidak memiliki keahlian dalam peperangan, lalu engkau berhasil memenangkannya".
Ini merupakan ketegangan pertama dan terang-terangan antara kaum Yahudi dan kaum muslimin. Sesudah itu disusul kasus wanita muslimah yang sedang duduk di depan toko perhiasan seorang yahudi di pasar Bani Qainuqa', menunggu perhiasannya diselesaikan. Datanglah seorang diantara mereka menindihkan baju besinya dibagian belakang rok wanita itu sedangkan wanita itu tidak menyadarinya. Ketika ia bangun, tiba-tiba roknya tertarik kebelakang dan auratnyapun terlihat. Mereka sertamerta menertawakannya. Seorang muslim yang sedang kebetulan ada di tempat itu tidak sabar melihat peristiwa keji itu, lalu ia melompat dan membunuh salah seorang dari mereka.
Dengan demikian, mereka telah melanggar perjanjian yang telah mereka sepakati bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam karena takut pada dosanya itu, mereka mengurung diri dalam perbentengannya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan para sahabatnya datang mengepungnya selama lima belas hari. Akhirnya, mereka pun keluar dan menyatakan siap menerima hukumannya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bermaksud hendak membunuh mereka. Mereka adalah sekutu golongan Khazraj. Abdullah bin Abi Salul lalu menghampiri Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan berbicara dengan beliau tentang mereka, seraya memasukkan tangannya ke dalam kantong Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam marah sekali kepadanya seraya menghardiknya,"Lepaskan aku!"
Dia menjawab,"Aku tidak akan melepaskanmu hingga kau berbuat baik terhadap para sekutuku; 400 orang tak bersenjata dan 300 orang bersenjata lengkap. Mereka telah melindungiku dari berbagai peperangan yang memusnahkan segalanya dan aku khawatir terhadap masa depanku."
Nabi Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam, bersabda lagi: "Mereka aku serahkan kepadamu! Keluarkan mereka, Allah melaknat mereka dan laknat Allah bersama dengan mereka."
Mereka diusir keluar dari kota Madinah oleh Ubadah bin ash-Shamit. Mereka pergi menuju Adzri'at di negeri Syam. Tidak lama setelah itu, mereka pun tewas di sana.
Pada waktu pengepungan terhadap perbentengan Bani Qainuqa' itu, Abu Lubabah diserahi tugas memimpin kota Madinah. Ternyata, dia melaksanakan tugasnya dengan baik.
Kami sudah berbicara tentang perang badar, bagaimana kaum muslimin dalam perang itu telah meraih kemenangan gilang gemilang dan dan bagaimana kaum musyrikin hancur luluh disana.
Sisa pasukan yang hancur itu kembali ke Mekah dibawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb yang setelah perang itu bernazar tidak akan membasahi rambutnya dengan air jinabah hingga berhasil membalas memerangi Muhammad. Tak lama setelah itu, ia keluar dengan dua ratus pasukan berkuda kaum Quraisy untuk memenuhi nazarnya itu hingga ke pinggiran kota Madinah pada malam hari.
Pasukan kaum musyrikin dalam perang badar berjumlah hampir seribu orang. Walaupun begitu, mereka kembali dengan membawa kekalahan yang memalukan, lalu mengapa Abu Sufyan malah datang ke pinggiran kota Madinah dengan pasukan yang jauh lebih sedikit?.
Kesimpulan yang bisa ditarik dari ulah Abu Sufyan itu adalah bahwa ia hanya menebus sumpahnya saja, bukan ingin mengadakan peperangan dengan kaum muslimin. Ia datang diam-diam pada malam hari menemui pimpinan yahudi Bani an-Nadhir di bawah pimpinan Salam bin Misykam. Walau pun begitu, beritanya tercium juga akhirnya.
Pada malam itu juga pasukan tersebut pergi membakar kebun korma dan membunuh seorang anshor sekutu yahudi Bani an-Nadhir itu dan kembali ke Mekah.
Mendengar berita itu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam mengerahkan pasukannya untuk mengejar pasukan Abu Sufyan dan sekali lagi beliau mengangkat Abu Lubabah menjadi pimpinan pemerintahan di Madinah, namun pasukan kaum musyrikin itu tidak terkejar.
Abu Sufyan tahu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tidak akan membiarkannya lari begitu saja. Ia melarikan kudanya dengan kecepatan yang diharapkan, ia meninggalkan sebagian perbekalannya supaya jangan sampai terkejar dan tertangkap.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan para sahabatnya kembali ke Madinah menunggu kesempatan baik untuk memberikan palajaran kepada para perusuh itu.
Bagi orang yang mengamati sejarah Islam, selama masa itu akan berkesimpulan bahwa Abu Lubabah adalah seorang mukmin yang jujur, seorang pejuang yang ikhlas kepada agama, Nabi, dan Rabbnya.
Dalam penyerbuan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam ke perbentengan yahudi Bani Quraizhah, Abu Lubabah ikut bersama beliau dan pimpinan pemerintahan di Madinah diserahkan kepada Abdullah ibnu Ummi Maktum.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersama para sahabatnya mengepung benteng Bani Quraizhah itu selama 25 malam sehingga mereka hidup dalam kekurangan dan ketakutan.
Setelah mereka meyakini bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tidak akan membiarkan mereka tanpa hukuman, akhirnya Ka'ab bin Asad bertindak sebagai penengah untuk mereka. Ia berkata:"Wahai orang-orang yahudi! kalian sudah mengetahui petaka apa yang telah menimpa kalian dan aku mencoba menawarkan tiga hal; terserah kalian untuk memilih yang mana diantaranya yang kalian senangi."
"Apa itu ?"
Kita mengikuti Muhammad dan mempercayainya. Demi Allah! sebenarnya kalian sudah mengetahui bahwa dia adalah seorang Nabi dan Rasul Allah, dan bahwa ciri-cirinya sudah dinyatakan dalam kitab kalian. Dengan demikian, kalian telah mengamankan darah, harta, anak-anak, dan istri-istri kalian semuanya.
"Kami tidak akan meninggalkan hukum taurat dan tidak akan menggantikannya dengan hukum lainnya hingga kapanpun".
"Kalau kalian menolak usulku itu, baiklah kita membunuh anak-anak dan istri-istri kita, lalu kita keluar dengan pedang terhunus melawan Muhammad dan para sahabatnya tanpa meninggalkan rasa berat sedikit pun, hingga Allah menentukan siapa diantara kita yang menjadi pemenangnya. Kalau kita tewas, kita tewas tanpa meninggalkan keturunan yang kita khawatirkan di belakang hari dan kalau kita menang, kita yakin masih bisa mendapatkan perempuan dan masih bisa mendapatkan anak-anak lagi".
"Apakah kita akan membunuh anak-anak dan istri-istri kita? Apa artinya hidup tanpa mereka?"
"Kalau kalian menolak juga usulku itu, ketahuilah bahwa malam ini adalah malam sabtu. Mungkin kalau kalian keluar menemui Muhammad dan para sahabatnya, mereka akan mau mengampuni kalian".
Mereka lalu mengirim seorang utusan kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam meminta Abu Lubabah bin Abdil Mundzir dikirimkan kepada mereka untuk dimintakan pendapatnya karena mereka sekutu golongan kalian".
Mengapa Abu Lubabah ? Apa yang mungkin diberikan kepada mereka oleh sahabat yang mulia ini?
Mungkinkah sahabat ini akan mengkhianati Rasulullah dan mendurhakai Rabbnya, lalu memberikan nasihat yang bukan-bukan pada kaum yahudi itu?
Hal ini karena kedudukan seorang penasihat itu harus dapat dipercaya. Semua hukum dan syariatpun menyatakan demikian. Sedangkan, kaum yahudi ingin menjadikan Abu Lubabah sebagai penasihatnya.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam memerintahkan kepada Abu Lubabah untuk pergi menemui hasrat mereka. Abu Lubabah pergi menemui pimpinan kaum yahudi itu. Begitu anak-anak dan istri-istri mereka melihat Abu Lubabah datang, mereka menangis meraung-raung memohon belas kasihannya. Sudah tentu, Abu Lubabah sebagai manusia tidak bisa menyembunyikan rasa iba dan harunya kepada mereka.
Kami sudah mengatakan bahwa penduduk Madinah pada umumnya berhati lembut dan berjiwa pemaaf, kasih sayangnya sesamanya menggebu-gebu.
Abu Lubabah sebagai manusia tidak bisa tidak terpengaruh oleh peristiwa itu. Begitu pimpinan yahudi bertanya kepadanya, "Apakah anda menyetujui hukuman Muhammad?". Ia menjawab:"Ya", Seraya mengisyaratkan dengan tangannya ke lehernya, yakni mereka akan dibunuh.
Abu Lubabah berkata: "Demi Allah! belum beranjak kedua kakiku dari tempatnya melainkan aku menyadari bahwa aku sudah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam".
Abu Lubabah lalu pergi ke masjid an-Nabawi dan tidak menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam lagi. Ia mengikatkan dirinya di salah sebuah tiangnya di sana, seraya berkata: "Aku tidak akan meninggalkan tempatku ini sehingga Allah mengampuni apa yang telah aku perbuat dan telah bersumpah tidak akan pergi lagi ke perkampungan Bani Quraizhah, dan aku tidak akan melihat negeri yang pernah aku berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya untuk selama-lamanya".
Baiklah, kita tinggalkan Abu Lubabah yang mengikatkan dirinya pada salah sebuah tiang masjid an-Nabawi dan mengikuti hukum apa yang dikenakan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam kepada yahudi Bani Quraizhah itu.
Esok paginya, mereka keluar dari perbentengannya untuk menerima keputusan dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam; berdatanganlah pimpinan golongan al-Aus menghadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam. Mereka mengeluh, "wahai Rasulullah! mereka dahulu sekutu kami melawan al-Khazraj dan baginda telah berbuat terhadap sekutu saudara-saudara kami kemarin seperti yang baginda ketahui".
Sesudah pimpinan al-Aus berbicara dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam, beliau bertanya kepada mereka: "Wahai pimpinan al-Aus, Apakah kalian ridha jika yang memberikan hukuman itu seorang dari kalian sendiri?".
Mereka menjawab,"Ya, ridha".
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda: "panggil Sa'ad bin Mu'adz kesini!".
Mereka memanggilnya dan berkata: "wahai Aba Umar! Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam memanggil anda menyerahkan hukuman sekutumu kepadamu".
Sa'ad menjawab: "Kalian harus menyatakan sumpah setia kepada Allah Ta'ala bahwa kalian akan menerima keputusanku".
Mereka menjawab,"Ya, kami menerimamu".
Sa'ad selanjutnya bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam: "Apakah keputusanku akan diterima sebagai keputusan yang sah?".
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam pun menjawab: "Ya, Kami akan menerimamu".
Sa'ad berkata: "Saya memutuskan agar semua laki-lakinya dibunuh, harta bendanya dirampas dan dibagi-bagikan, dan wanita-wanitanya di tawan".
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda kepadanya: "Engkau telah menjatuhkan hukuman terhadap mereka dengan hukuman Allah dari atas langit yang ketujuh!".
Adapun kepada Abu Lubabah telah diberikan ampunan, baik Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam maupun dari Allah Ta'ala, dan dia pun ikut aktif bersama kaum muslimin lainnya dalam berbagai kerja dan peperangannya. Dalam penaklukan kota Mekah, ia memegang panji Bani Amru bin Auf dan ia menyaksikan masuknya orang berbondong-bondong ke dalam agama Islam. Demikianlah akhirnya, ia kembali ke rahmatullah pada zaman pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallaahu 'anhu. semoga Allah Ta'ala menempatkannya di dalam surga-Nya, sesuai dengan jasa dan baktinya kepada agama Islam dan kaum muslimin.
Sebab Turunnya Ayat
Menurut sebagian mufasirin, ayat tersebut diturunkan untuk Abu Lubabah bin Abdil Mundzir al-Anshari. Hal itu terjadi ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam sedang mengepung perbentengan Yahudi Bani Quraizhah selama 21 malam. Mereka lalu memohon berdamai dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam seperti yang pernah diberikan kepada saudara-saudaranya di Bani an-Nadhir………,mereka mohon diizinkan keluar dari Madinah untuk menyusul saudara-saudaranya ke Adzri'at atau ke Ariha di negeri Syam. Akan tetapi, mereka menolak menerima keputusannya. Mereka berkata, "Kami meminta Abu Lubabah dikirimkan kepada kami. Dia seorang sahabat karib dengan kami. Dahulu, harta dan anak-anaknya bersama dengan kami. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam lalu mengirimkannya kepada mereka.
Mereka bertanya kepadanya: "wahai Abu Lubabah, bagaimana pendapatmu, apakah kami akan tunduk kepada keputusan Sa'ad Bin Mu'adz?"
Abu Lubabah lalu mengisyaratkan kepada mereka dengan tangannya ke lehernya bahwa mereka akan disembelih, berarti jangan mau menerima.
Abu Lubabah berkata: "Demi Allah, kedua kakiku belum beranjak dari tempatku melainkan telah mengetahui bahwa aku telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya". Lalu, turunlah ayat itu.
Sesudah ayat itu turun maka ia memperkeras ikatannya pada pilar masjid an-Nabawi, seraya berkata: "Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati atau Allah mengampuni dosaku itu".
Sudah tujuh hari lamanya ia tidak memakan makanan sehingga tidak sadarkan diri, kemudian Allah mengampuninya. Lalu, ada yang menyampaikan berita itu kepadanya, "wahai Abu Lubabah, Allah telah mengampuni dosamu!".
Ia berkata: "Tidak. Aku tidak akan membuka ikatanku sebelum Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam datang membukanya".
Tak lama setelah itu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam pun datang membukanya. Abu Lubabah lalu berkata kepadanya: "Kiranya akan sempurna tobatku kalau aku meninggalkan kampung halaman kaumku tempat aku melakukan dosa di sana dan aku sumbangkan seluruh hartaku?".
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawabnya: " Kau hanya dibenarkan menyumbangkan sepertiganya saja" .
Menurut riwayat ibnu Hisyam, sesudah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam mendengar ceritanya, hal itu sudah agak terlambat benar, maka beliau bersabda: "Kalau dia datang menemuiku, tentu aku akan memohonkan ampunan untuknya. Akan tetapi, karena ia bertindak sendiri maka aku tidak mungkin bisa melepaskannya dari tempatnya sehingga Allah melepaskannya".
Ada yang mengatakan bahwa di terimanya tobat Abu Lubabah diberitahukan oleh Allah kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam ketika beliau berada di rumah Abu Salamah radhiallaahu 'anhu, Istri Abu Salamah, berkata: "Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tertawa pada waktu sahur aku bertanya: 'wahai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam, apa gerangan yang baginda tertawakan? 'Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawab, 'Allah telah mengampuni dosa Abu Lubabah. 'Aku bertanya kepadanya: 'Apakah aku boleh menyampaikan berita gembira itu kepadanya?. 'Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawab: 'Boleh saja kalau kau mau'. Dia lalu berdiri di pintu kamarnya; kejadian itu terjadi sebelum kewajiban berhijab diundangkan.
Aku berkata: 'wahai Abu Lubabah, bergemberilah, Allah telah mengampuni dosamu'.
Setelah itu, banyaklah orang yang datang hendak melepaskan ikatannya, namun ia menolak seraya berkata: 'Tidak. Demi Allah, aku tidak mau sebelum Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam datang membebaskan aku dengan tangannya'.
Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam hendak shalat shubuh, baginda menghampirinya dan membukakan ikatannya".
Adapun ayat yang melepaskannya dari dosa ialah firman-Nya:
"Dan (ada pula) orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan yang lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang".(at-Taubah:102)
Renungan
Amanat adalah salah satu keutamaan seorang muslim yang lahir dari akidahnya dan yang membuktikan pada kejujuran hidupnya dan kemuliaan tujuannya. Karena itulah, amanat merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari keimanan dan berkhianat sebagai pertanda ingkar dan kafir, seperti yang dikatakan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
"Tidak beriman siapa yang tidak memiliki amanat dan tidak beragama siapa yang tidak bisa dipegang janjinya".
Amanat merupakan salah satu sifat orang baik dan salah sebuah unsur kesempurnaan pribadi, firman-Nya:
"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya". ( al-Mu'minuun:8)
Dibawakan oleh Ubadah bin ash-Shamit radhiallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda:
"Jamin untukku enam perkara, aku akan menjamin untuk kalian surga: 1). berbicaralah dengan jujur, 2). Tepatilah janjimu, 3). Tunaikanlah amanatmu, 4). Tundukanlah pandanganmu, 5). Peliharalah kemaluanmu, dan 6). Peliharalah tangan (tindakkan)mu".
Memisahkan diri dari keutamaan itu berarti memisahkan orang tersebut dari semua keutamaan, meskipun tidak bisa disangkal bahwa anak-anak Adam adalah pelaku kesalahan. Hal itu merupakan tabiat manusia yang tidak bisa di ingkari lagi dan tidak mungkin bisa ditutup-tutupi.
Bertolak dari sanalah dicurahkan perhatian Allah kepada manusia ini, manusia yang kepadanya Allah memerintahkan malaikat-Nya bersujud, Yang mengangkatnya menjadi khalifah-Nya dimika bumi, dan yang memuliakannya diatas semua mahluk-Nya serta dipercaya untuk memakmurkan alam ini.
Manusia bisa meningkatkan harkat dan martabat ke kelas malaikat kalau ia berpegang teguh kepada ajaran Agama Islam, namun ia bisa saja merosot ke kelas setan kalau ia menjauhkan diri dari ajaran Allah. Hikmah Allah menetapkan karena kasih-Nya kepada manusia-untuk mengirimkan para rasul dan munurunkan beberapa buah Kitab-Nya adalah untuk menggiring manusia itu ke jalan-Nya yang lurus. Kalau sudah agak lama tidak turun nabi atau rasul, lalu manusia beranggapan bahwa selama masa itu tidak ada hisab dan tidak ada hukuman.
Karena itulah, manusia selalu diberi peringatan supaya tidak terjerumus ke dalam tindakan yang di haramkan Rabbnya, yang selalu diperintahkan untuk dijauhinya, Firman-Nya:
"Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman". (adz-Dzaariyaat:55)
"Maka berilah peringatan karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan". (al-Ghaasyiyah:21)
Shalat yang di wajibkan sehari semalam lima waktu itu untuk mendekatkannya dengan Rabbnya, untuk senantiasa mengingatkan dan menyadarkannya.
Sungguhpun begitu, manusia selalu tergoda oleh gemerlapnya kehidupan duniawi ini. Ia mudah dibujuk rayu oleh setan untuk meninggalkan ajaran Rabbnya. Akhirnya, ia pun tersesat. Akan tetapi, kalau dalam hati nuraninya masih terdapat setitik keimanan, ia masih mudah digiring kembali ke jalan Allah, lalu ia kembali bertobat dan beristighfar kepada Rabbnya, Firman-Nya:
"Katakanlah Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri: 'janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang .'"(az-Zumar:53)
Berkat ampunan dan kasih sayang Allah Ta'ala, manusia yang semula berlumuran dosa itu menjadi seorang maKhluk yang paling mulia, sesuai dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam,"Sebaik-baik pelaku kesalahan ialah yang bertobat".
Dalam hal ini, Abu Lubabah radhiallaahu 'anhu adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam yang hatinya didapati oleh keimanan. Ia termasuk orang pertama yang masuk Islam, yang menyambut panggilan Allah Ta'ala, namun ia tergelincir seperti halnya manusia lain ketika hatinya sedang lemah dan jiwanya sedang lengah, lalu ia berbuat sesuatu yang menimbulkan Allah dan Rasul-Nya gusar kepadanya karena ia memberi isyarat kepada orang-orang Yahudi bekas sekutunya di jaman jahiliyah supaya tidak mau menerima hukum yang hendak di berikan Rasulullah karena hal itu berati hukuman mati bagi mereka.
Begitu awan mendung itu hilang diembus angin maka percikan cahaya menyinari kalbunya kembali. Pada saat itulah kesadarannya pulih kembali dan mulai merasakan bahwa ia telah terperosok mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, lalu ia menghukum dirinya sebagai kifarat atas dosanya, Firman-Nya:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) Janganlah kamu mengkhianati amanat-amanatyang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui". (al-Anfaal:27)
Khianat kepada Allah Ta'ala dan kepada Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari hidayah Allah dan hidayah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam artinya menolak melaksanakan syariat Allah dalam kehidupan dan mengabaikan apa-apa yang diwajibkan kepadanya, baik berupa kewajiban maupun ibadah-ibadah lainnya.
Khianat kepada Allah dan Rasul-Nya berarti tidak membulatkan keikhlasan dan kesetiaan, lalu menyekutukan-Nya dengan kekuata-kekuatan lain yang tidak mampu memberikan manfaat dan mudarat, yang tidak bisa menentukan mati, hidup, dan kebangkitan, Firman-Nya:
"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun walaupun mereka satu untuk menciptakannya. Dan, jika lalat itu, merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyebabkan dan amat lemah (pulalah) yang disembah".(al-Hajj:73).
Induk semua khianat ialah kalau kita mengorupsi kewajiban kita atau meninggalkannya sama sekali, atau kita berpura-pura beriman padahal hati kita kafir, atau mengkhianati orang yang mempercayakan hal ihwalnya kepada kita, atau kita tidak menepati janji setia kawan kita. Padahal, Islam sudah jelas-jelas anti khianat dan mencemoohkan para pengkhianat yang suka melanggar janjinya. Islam juga tidak menyukai orang muslim yang mengkhianati janjinya demi mencapai maksudnya, meskipun maksudnya itu mulia, Firman-Nya :
"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membaalkan sumpah-sumpah (mu) itu sesudah meneguhkannya sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat". (an-Nahl:91)
Amanat pemerintahan harus diberikan kepada orang-orang yang dapat dipercaya, yang kuat, yang cakap memerintah, dan ikhlas dalam melaksanakan tugasnya. Kalau ia memajukan orang yang seharusnya dimundurkan atau memundurkan orang yang seharusnya dimajukan maka orang itu telah mengundang maklumat perang dari Allah dan Rasul-Nya.
Yazid bin Abi Sufyan berkata bahwa Abu Bakar ash-Ashiddiq radhiallaahu 'anhu berkata ketika mengutusnya ke Syam: "wahai Yazid! Sesungguhnya engkau mempunyai kerabat karib; mungkin engkau utamakan mereka dengan memberikan kekuasaan (pemerintahan), itulah yang saya takutkan atasmu setelah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda:"Siapa yang diberi kuasa mengurus kepentingan kaum muslimin, Lalu ia mengangkat seseorang dengan bertindak tidak jujur, maka laknat Allah baginya dan Allah tidak akan menerima tebusan atau imbalan pun hingga orang itu dimasukkan ke dalam api neraka".
Ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan bertanya kepadanya: "Kapan datangnya hari kiamat itu?"
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawab: "Bilamana amanat sudah dihilangkan maka tunggulah saat (kehancuran) itu!"
Orang itu bertanya lagi, "Bagaimana amanat itu di hilangkan?"
Baginda menjelaskan: "Apabila kekuasaan diserahkan kepada bukan ahlinya".
Harta kekayaan negara adalah amanat di tangan penguasa. Penguasa berkewajiban untuk menempatkan di tempatnya dan menafkahkan sesuai dengan keperluannya, demi kepentingan rakyat dan masyarakatnya. Kalau ia berbuat lain dari itu, maka ia telah berkhianatdan telah melenceng dari syariat Allah.
Kapan kiranya bendera amanat dan keamanan berkibar di tengah-tengah kaum muslimin? Kapan kaum muslimin akan merasa aman atas tanah airnya sehingga tidak merasa khawatir terhadap bumi dan hasil buminya dirampok orang sehingga harta benda dan kekayaan buminya tidak dirampas orang dari depan matanya?
Kapan kehormatan umat dan masyarakatnya tidak dirobek-robek oleh media massa cetak dan elektronik yang terarah serta terpimpin karena hilangnya nilai-nilai dan akhlaknya? Ya, kapan hal itu akan terwujud? Kapan hal itu akan terjadi,Ya Rabb?.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang di percayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya. Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allahlah pahala yang besa". (al-Anfaal:27-28)
Menurut keterangan beberapa ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu Lubabah bin Abdil Mundzir radhiallâhu 'anhu.
Abu Lubabah bin Abdil Mundzir radhiallâhu 'anhu
Abu Lubabah termasuk salah seorang muslim pilihan yang telah membela dan menegakkan agama Islam. Dia adalah salah seorang pahlawan muslimin dalam peperangan, yang telah mempersembahkan diri dan nyawanya di jalan Allah untuk menegakkan kebenaran dan meninggikan agama-Nya.
Dia dilahirkan di Yatsrib yang subur dan banyak terdapat mata air, yang banyak ditumbuhi pepohonan dan tetumbuhan yang dapat dinikmati oleh manusia dan hewan.
Kiranya tiap daerah memiliki pengaruh kuat terhadap sepak terjang seseorang dan arah pemikirannya juga. Begitu pula dengan penduduk kota Madinah. Mereka pada umumnya dikenal memiliki akhlak yang luhur, pemaaf, berperasaan halus, dan suka berbuat baik sesamanya.
Abu Lubabah termasuk laki-laki seperti itu, yang diisyaratkan oleh Allah Ta'ala dalam al-Qur'anul Karim.
"Dan orang-orang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (kaum Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (kaum muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum muhajirin); dan mereka mengutamakan (kaum muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung". (al-Hasyr:9)
Isterinya adalah Khansa' binti Khanddam al-Anshariyah dari golongan al-Aus. Pada awalnya, ayahnya ingin mengawinkan putrinya itu dengan seorang dari bani Auf, namun putrinya sudah terlanjur cinta kepada Abu Lubabah. Akhirnya,ia pergi menghadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan melaporkan hasrat hatinya itu, lalu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam memerintahkan kepada ayahnya supaya memberikan kebebasan kepada putrinya dalam memilih calon suaminya sendiri. Akhirnya,iapun dinikahkan dengan Abu Lubabah bin Abdil Mundzir radhiallaahu 'anhu.
Perkawinan keduanya mendapat karunia seorang anak perempuan, Lubabah namanya. Demikinlah, akhirnya Abu Lubabah menjadi panggilan ayahnya.
Lubabah diperistri oleh Zaid ibnul Khaththab radhiallaahu 'anhu yang dipercaya memegang panji kaum muslimin dalam peperangan di al-Yamamah yang mencemaskan seraya menyeru dengan suara nyaring,"Ya Allah, aku dapat menjawab dengan apa yang dikumandangkan Musailamah dan Muhkam Ibnu Thufail…..".
Dengan panji dan pedang di tangan, ia menyerang lawannya dengan tangkas dan berani sehingga ia tewas sebagai syahid. Umar ibnul Khaththab radhiallaahu 'anhu berkomentar atasnya, "Allah akan merahmati saudaraku, Zaid radhiallaahu 'anhu, insya Allah. Dia masuk Islam sebelum aku dan tewas sebagai syahid sebelum aku juga."
Abu Lubabah termasuk orang pertama yang masuk Islam, ketika beberapa orang anshar berjumpa dengan Mush'ab bin Umair di Yatsrib. Kepada mereka ditawarkan agama Islam, lalu mereka dengan spontan percaya kepada Muhammad Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
Abu Lubabah salah seorang Anshor yang menghadiri bai'at al-'Aqabah II. Adapun orang pertama yang berbicara di majelis itu ialah Abbas bin Abdul Muthalib, padahal pada waktu itu ia menganut agama kaumnya (musyrik). Ini dilakukannya hanya karena ia ingin mengetahui dengan pasti dan meyakinkan kedudukan keponakannya, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam , dalam bai'at itu;Ia berkata:
"Wahai kaum Khazraj, ketahuilah bahwa Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam adalah dari golongan kami dan kami telah mempertahankannya dari kaum kami yang masih sealiran dengan kami dan ternyata dia masih tetap dimuliakan tengah-tengah kaumnya dan terlindung dari Tanah Airnya. Akan tetapi, ia tetap saja mau pergi bersama kalian ke negeri kalian. Kalau kalian benar-benar mau menepati janji akan melindunginya dari orang-orang yang tidak sepaham dengan dia maka kami akan mempercayakannya kepada janjimu itu. Akan tetapi, kalau kalian akan menyerahkannya dan tidak akan mempertahankannya dari orang-orang yang tidak sepaham dengannya, setelah dia keluar dan pergi kepada kalian, maka dari sekarang, sebaiknyalah kalian membiarkannya dalam kemuliaan dan perlindungan dari kaumnya di negeri sendiri."
Mereka berkata:"Kami telah mendengar apa yang anda katakan. Sekarang katakanlah ,wahai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam untuk dirimu dan Rabbmu, sesukamu!"
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawab,"Aku akan membai'at kalian bahwa kalian melindungiku seperti kalian melindungi isteri-isteri dan anak-anakmu".
Al-Barra' bin Ma'rur menjabat tangan beliau dan berkata,"Ya, Atas nama Yang mengutusmu dengan kebenaran, Kami berjanji akan melindungimu seperti melindungi isteri-isteri dan anak-anak kami, maka bai'atlah kami,wahai Rasulullah, karena kami sejak nenek moyang kami memang ahli perang."
Selagi Al-Barra' berbicara dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tiba-tiba Abul Haitsam bin an-Nahyan memotong pembicaraannya," wahai Rasulullah, antara kami dan segolongan kaumku (maksudnya, kaum yahudi) sudah terjalin ikatan dan kemungkinan kami memutuskannya. Apakah kalau kami memutuskannya, kemudian Allah berkenan memenangkanmu, apakah tidak mungkin engkau kembali kepada kaummu dan meniggalkan kami?"
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tersenyum, lalu berkata menegaskan: "Darah dibayar dengan darah dan penghancuran dibayar dengan penghancuran. Aku bagian dari kalian dan kalian juga bagian dariku . Aku akan memerangi siapa yang kalian perangi dan akan berdamai dengan siapa yang berdamai dengan kalian."
Abu Lubabah kemudian kembali ke Madinah setelah pertempurannya dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam itu. Ia merasa kagum sekali atas kepribadian dan keluhuran budi pekerti beliau. Ia kembali dari sana sebagai orang baru yang menjelma dari masa lalunya secara keseluruhan, menjadi seorang yang berusaha keras yang merealisasikan isi Al-Qur'anul Karim dalam hidup dan sepak terjangnya.
Tidak lama setelah itu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam sudah berada di tengah-tengah mereka di Madinah, menyusun syariat dan menetapkan undang-undang yang dibawa oleh Jibril dari Rabbnya. Ternyata, kaum muslimin menyambutnya dengan gegap gempita, tidak seorangpun merasa berkeberatan atau hendak menyelewengkannya sedikitpun.
Tak lama setelah itu, perang badar pun pecah antara kaum musyrikin dan kaum muslimin pilihan Allah Ta'ala itu. Abu Lubabah mengetahui persiapan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam , lalu ia mempersiapkan dirinya dan pergi menyandangkan senjatanya hendak menemui kaum kafir Quraisy bersama dengan kaum muslimin. Akan tetapi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tidak mengizinkan Abu Lubabah pergi bersamanya, tetapi ia diamanatkan mewakilinya di Madinah. Penjagaan keamanan dan ketertiban kota itu tidak kurang pentingnya dengan perang di medan laga. Ia di beri tanggung jawab memelihara keamanan dan keselamatan penduduk kota Madinah, anak-anak, kaum wanita, dan semua orang yang ada di dalamnya. Ia juga diberi amanat menjaga keamanan dan keselamatan buah-buahan, perkebunan, dan perbatasannya. Ia diberi tanggung jawab memberi warganya yang sedang kelaparan, memenuhi semua kebutuhan yang ada, baik anak-anak maupun oran tua, sampai pasukan yang berada di jalan Allah itu kembali.
Abu Lubabah mematuhi perintah dan pengarahan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dengan baik. Ia memimpin kota Madinah dengan baik, mempersiapkan juga bekal yang mungkin dibutuhkan oleh pasukan yang sedang berperang, dan menggalakkan pembuatan senjata perang siang dan malam, sehingga pasukan kaum muslimin memiliki persenjataan dan perbekalan yang lengkap.
Tiap hari, ia pergi keluar kota Madinah untuk mengetahui terlebih dahulu berita jihad kaum muslimin. Akhirnya, berita kemenangan yang gilang-gemilang itu sampai diterimanya, lalu ia pergi bergegas-gegas memasuki kota untuk menyampaikan berita kemenangan itu. Penduduk kota Madinah bersuka cita dan bersyukur kepada Allah Ta'ala yang telah memenangkan saudara-saudaranya melawan musuh-musuhnya yang jauh lebih lengkap dan kuat. Akan tetapi, ada sekelompok penduduk kota Madinah yang tidak bergembira atas kemenangan yang telah diraih kaum muslimin itu. Mereka adalah orang-orang yang senang bermain di gelap gulita, orang-orang yang telah mengetahui kebenaran, namun menutup mata dan telinganya darinya. Mereka adalah segolongan kaum yahudi yang bertetangga dengan kaum muslimin di Madinah, yang dengan terang-terangan memperlihatkan rasa dengki dan hasudnya atas kemenangan yang diraih kaum muslimin dan tidak segan-segan melanggar perjanjian yang sudah mereka sepakati.
Setelah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam mendengar dan melihat gelagat yang diperlihatkan kaum yahudi di Madinah, beliau lalu memerintahkan wakil-wakilnya untuk mengadakan pertemuan di sebuah pasar di perkampungan Bani Qainuqa', seraya berkata,"Apa yang menimpa kaum Quraisy hendaknya dijadikan pelajaran yang harus diwaspadai. Kalian sudah mengetahui bahwa aku ini adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah."
Mereka menjawab dengan lantang,"Hai Muhammad, janganlah kau takabbur atas kemenangan yang engkau peroleh melawan orang-orang yang tidak memiliki keahlian dalam peperangan, lalu engkau berhasil memenangkannya".
Ini merupakan ketegangan pertama dan terang-terangan antara kaum Yahudi dan kaum muslimin. Sesudah itu disusul kasus wanita muslimah yang sedang duduk di depan toko perhiasan seorang yahudi di pasar Bani Qainuqa', menunggu perhiasannya diselesaikan. Datanglah seorang diantara mereka menindihkan baju besinya dibagian belakang rok wanita itu sedangkan wanita itu tidak menyadarinya. Ketika ia bangun, tiba-tiba roknya tertarik kebelakang dan auratnyapun terlihat. Mereka sertamerta menertawakannya. Seorang muslim yang sedang kebetulan ada di tempat itu tidak sabar melihat peristiwa keji itu, lalu ia melompat dan membunuh salah seorang dari mereka.
Dengan demikian, mereka telah melanggar perjanjian yang telah mereka sepakati bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam karena takut pada dosanya itu, mereka mengurung diri dalam perbentengannya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan para sahabatnya datang mengepungnya selama lima belas hari. Akhirnya, mereka pun keluar dan menyatakan siap menerima hukumannya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bermaksud hendak membunuh mereka. Mereka adalah sekutu golongan Khazraj. Abdullah bin Abi Salul lalu menghampiri Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan berbicara dengan beliau tentang mereka, seraya memasukkan tangannya ke dalam kantong Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam marah sekali kepadanya seraya menghardiknya,"Lepaskan aku!"
Dia menjawab,"Aku tidak akan melepaskanmu hingga kau berbuat baik terhadap para sekutuku; 400 orang tak bersenjata dan 300 orang bersenjata lengkap. Mereka telah melindungiku dari berbagai peperangan yang memusnahkan segalanya dan aku khawatir terhadap masa depanku."
Nabi Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam, bersabda lagi: "Mereka aku serahkan kepadamu! Keluarkan mereka, Allah melaknat mereka dan laknat Allah bersama dengan mereka."
Mereka diusir keluar dari kota Madinah oleh Ubadah bin ash-Shamit. Mereka pergi menuju Adzri'at di negeri Syam. Tidak lama setelah itu, mereka pun tewas di sana.
Pada waktu pengepungan terhadap perbentengan Bani Qainuqa' itu, Abu Lubabah diserahi tugas memimpin kota Madinah. Ternyata, dia melaksanakan tugasnya dengan baik.
Kami sudah berbicara tentang perang badar, bagaimana kaum muslimin dalam perang itu telah meraih kemenangan gilang gemilang dan dan bagaimana kaum musyrikin hancur luluh disana.
Sisa pasukan yang hancur itu kembali ke Mekah dibawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb yang setelah perang itu bernazar tidak akan membasahi rambutnya dengan air jinabah hingga berhasil membalas memerangi Muhammad. Tak lama setelah itu, ia keluar dengan dua ratus pasukan berkuda kaum Quraisy untuk memenuhi nazarnya itu hingga ke pinggiran kota Madinah pada malam hari.
Pasukan kaum musyrikin dalam perang badar berjumlah hampir seribu orang. Walaupun begitu, mereka kembali dengan membawa kekalahan yang memalukan, lalu mengapa Abu Sufyan malah datang ke pinggiran kota Madinah dengan pasukan yang jauh lebih sedikit?.
Kesimpulan yang bisa ditarik dari ulah Abu Sufyan itu adalah bahwa ia hanya menebus sumpahnya saja, bukan ingin mengadakan peperangan dengan kaum muslimin. Ia datang diam-diam pada malam hari menemui pimpinan yahudi Bani an-Nadhir di bawah pimpinan Salam bin Misykam. Walau pun begitu, beritanya tercium juga akhirnya.
Pada malam itu juga pasukan tersebut pergi membakar kebun korma dan membunuh seorang anshor sekutu yahudi Bani an-Nadhir itu dan kembali ke Mekah.
Mendengar berita itu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam mengerahkan pasukannya untuk mengejar pasukan Abu Sufyan dan sekali lagi beliau mengangkat Abu Lubabah menjadi pimpinan pemerintahan di Madinah, namun pasukan kaum musyrikin itu tidak terkejar.
Abu Sufyan tahu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tidak akan membiarkannya lari begitu saja. Ia melarikan kudanya dengan kecepatan yang diharapkan, ia meninggalkan sebagian perbekalannya supaya jangan sampai terkejar dan tertangkap.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan para sahabatnya kembali ke Madinah menunggu kesempatan baik untuk memberikan palajaran kepada para perusuh itu.
Bagi orang yang mengamati sejarah Islam, selama masa itu akan berkesimpulan bahwa Abu Lubabah adalah seorang mukmin yang jujur, seorang pejuang yang ikhlas kepada agama, Nabi, dan Rabbnya.
Dalam penyerbuan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam ke perbentengan yahudi Bani Quraizhah, Abu Lubabah ikut bersama beliau dan pimpinan pemerintahan di Madinah diserahkan kepada Abdullah ibnu Ummi Maktum.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersama para sahabatnya mengepung benteng Bani Quraizhah itu selama 25 malam sehingga mereka hidup dalam kekurangan dan ketakutan.
Setelah mereka meyakini bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tidak akan membiarkan mereka tanpa hukuman, akhirnya Ka'ab bin Asad bertindak sebagai penengah untuk mereka. Ia berkata:"Wahai orang-orang yahudi! kalian sudah mengetahui petaka apa yang telah menimpa kalian dan aku mencoba menawarkan tiga hal; terserah kalian untuk memilih yang mana diantaranya yang kalian senangi."
"Apa itu ?"
Kita mengikuti Muhammad dan mempercayainya. Demi Allah! sebenarnya kalian sudah mengetahui bahwa dia adalah seorang Nabi dan Rasul Allah, dan bahwa ciri-cirinya sudah dinyatakan dalam kitab kalian. Dengan demikian, kalian telah mengamankan darah, harta, anak-anak, dan istri-istri kalian semuanya.
"Kami tidak akan meninggalkan hukum taurat dan tidak akan menggantikannya dengan hukum lainnya hingga kapanpun".
"Kalau kalian menolak usulku itu, baiklah kita membunuh anak-anak dan istri-istri kita, lalu kita keluar dengan pedang terhunus melawan Muhammad dan para sahabatnya tanpa meninggalkan rasa berat sedikit pun, hingga Allah menentukan siapa diantara kita yang menjadi pemenangnya. Kalau kita tewas, kita tewas tanpa meninggalkan keturunan yang kita khawatirkan di belakang hari dan kalau kita menang, kita yakin masih bisa mendapatkan perempuan dan masih bisa mendapatkan anak-anak lagi".
"Apakah kita akan membunuh anak-anak dan istri-istri kita? Apa artinya hidup tanpa mereka?"
"Kalau kalian menolak juga usulku itu, ketahuilah bahwa malam ini adalah malam sabtu. Mungkin kalau kalian keluar menemui Muhammad dan para sahabatnya, mereka akan mau mengampuni kalian".
Mereka lalu mengirim seorang utusan kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam meminta Abu Lubabah bin Abdil Mundzir dikirimkan kepada mereka untuk dimintakan pendapatnya karena mereka sekutu golongan kalian".
Mengapa Abu Lubabah ? Apa yang mungkin diberikan kepada mereka oleh sahabat yang mulia ini?
Mungkinkah sahabat ini akan mengkhianati Rasulullah dan mendurhakai Rabbnya, lalu memberikan nasihat yang bukan-bukan pada kaum yahudi itu?
Hal ini karena kedudukan seorang penasihat itu harus dapat dipercaya. Semua hukum dan syariatpun menyatakan demikian. Sedangkan, kaum yahudi ingin menjadikan Abu Lubabah sebagai penasihatnya.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam memerintahkan kepada Abu Lubabah untuk pergi menemui hasrat mereka. Abu Lubabah pergi menemui pimpinan kaum yahudi itu. Begitu anak-anak dan istri-istri mereka melihat Abu Lubabah datang, mereka menangis meraung-raung memohon belas kasihannya. Sudah tentu, Abu Lubabah sebagai manusia tidak bisa menyembunyikan rasa iba dan harunya kepada mereka.
Kami sudah mengatakan bahwa penduduk Madinah pada umumnya berhati lembut dan berjiwa pemaaf, kasih sayangnya sesamanya menggebu-gebu.
Abu Lubabah sebagai manusia tidak bisa tidak terpengaruh oleh peristiwa itu. Begitu pimpinan yahudi bertanya kepadanya, "Apakah anda menyetujui hukuman Muhammad?". Ia menjawab:"Ya", Seraya mengisyaratkan dengan tangannya ke lehernya, yakni mereka akan dibunuh.
Abu Lubabah berkata: "Demi Allah! belum beranjak kedua kakiku dari tempatnya melainkan aku menyadari bahwa aku sudah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam".
Abu Lubabah lalu pergi ke masjid an-Nabawi dan tidak menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam lagi. Ia mengikatkan dirinya di salah sebuah tiangnya di sana, seraya berkata: "Aku tidak akan meninggalkan tempatku ini sehingga Allah mengampuni apa yang telah aku perbuat dan telah bersumpah tidak akan pergi lagi ke perkampungan Bani Quraizhah, dan aku tidak akan melihat negeri yang pernah aku berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya untuk selama-lamanya".
Baiklah, kita tinggalkan Abu Lubabah yang mengikatkan dirinya pada salah sebuah tiang masjid an-Nabawi dan mengikuti hukum apa yang dikenakan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam kepada yahudi Bani Quraizhah itu.
Esok paginya, mereka keluar dari perbentengannya untuk menerima keputusan dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam; berdatanganlah pimpinan golongan al-Aus menghadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam. Mereka mengeluh, "wahai Rasulullah! mereka dahulu sekutu kami melawan al-Khazraj dan baginda telah berbuat terhadap sekutu saudara-saudara kami kemarin seperti yang baginda ketahui".
Sesudah pimpinan al-Aus berbicara dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam, beliau bertanya kepada mereka: "Wahai pimpinan al-Aus, Apakah kalian ridha jika yang memberikan hukuman itu seorang dari kalian sendiri?".
Mereka menjawab,"Ya, ridha".
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda: "panggil Sa'ad bin Mu'adz kesini!".
Mereka memanggilnya dan berkata: "wahai Aba Umar! Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam memanggil anda menyerahkan hukuman sekutumu kepadamu".
Sa'ad menjawab: "Kalian harus menyatakan sumpah setia kepada Allah Ta'ala bahwa kalian akan menerima keputusanku".
Mereka menjawab,"Ya, kami menerimamu".
Sa'ad selanjutnya bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam: "Apakah keputusanku akan diterima sebagai keputusan yang sah?".
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam pun menjawab: "Ya, Kami akan menerimamu".
Sa'ad berkata: "Saya memutuskan agar semua laki-lakinya dibunuh, harta bendanya dirampas dan dibagi-bagikan, dan wanita-wanitanya di tawan".
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda kepadanya: "Engkau telah menjatuhkan hukuman terhadap mereka dengan hukuman Allah dari atas langit yang ketujuh!".
Adapun kepada Abu Lubabah telah diberikan ampunan, baik Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam maupun dari Allah Ta'ala, dan dia pun ikut aktif bersama kaum muslimin lainnya dalam berbagai kerja dan peperangannya. Dalam penaklukan kota Mekah, ia memegang panji Bani Amru bin Auf dan ia menyaksikan masuknya orang berbondong-bondong ke dalam agama Islam. Demikianlah akhirnya, ia kembali ke rahmatullah pada zaman pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallaahu 'anhu. semoga Allah Ta'ala menempatkannya di dalam surga-Nya, sesuai dengan jasa dan baktinya kepada agama Islam dan kaum muslimin.
Sebab Turunnya Ayat
Menurut sebagian mufasirin, ayat tersebut diturunkan untuk Abu Lubabah bin Abdil Mundzir al-Anshari. Hal itu terjadi ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam sedang mengepung perbentengan Yahudi Bani Quraizhah selama 21 malam. Mereka lalu memohon berdamai dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam seperti yang pernah diberikan kepada saudara-saudaranya di Bani an-Nadhir………,mereka mohon diizinkan keluar dari Madinah untuk menyusul saudara-saudaranya ke Adzri'at atau ke Ariha di negeri Syam. Akan tetapi, mereka menolak menerima keputusannya. Mereka berkata, "Kami meminta Abu Lubabah dikirimkan kepada kami. Dia seorang sahabat karib dengan kami. Dahulu, harta dan anak-anaknya bersama dengan kami. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam lalu mengirimkannya kepada mereka.
Mereka bertanya kepadanya: "wahai Abu Lubabah, bagaimana pendapatmu, apakah kami akan tunduk kepada keputusan Sa'ad Bin Mu'adz?"
Abu Lubabah lalu mengisyaratkan kepada mereka dengan tangannya ke lehernya bahwa mereka akan disembelih, berarti jangan mau menerima.
Abu Lubabah berkata: "Demi Allah, kedua kakiku belum beranjak dari tempatku melainkan telah mengetahui bahwa aku telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya". Lalu, turunlah ayat itu.
Sesudah ayat itu turun maka ia memperkeras ikatannya pada pilar masjid an-Nabawi, seraya berkata: "Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati atau Allah mengampuni dosaku itu".
Sudah tujuh hari lamanya ia tidak memakan makanan sehingga tidak sadarkan diri, kemudian Allah mengampuninya. Lalu, ada yang menyampaikan berita itu kepadanya, "wahai Abu Lubabah, Allah telah mengampuni dosamu!".
Ia berkata: "Tidak. Aku tidak akan membuka ikatanku sebelum Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam datang membukanya".
Tak lama setelah itu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam pun datang membukanya. Abu Lubabah lalu berkata kepadanya: "Kiranya akan sempurna tobatku kalau aku meninggalkan kampung halaman kaumku tempat aku melakukan dosa di sana dan aku sumbangkan seluruh hartaku?".
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawabnya: " Kau hanya dibenarkan menyumbangkan sepertiganya saja" .
Menurut riwayat ibnu Hisyam, sesudah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam mendengar ceritanya, hal itu sudah agak terlambat benar, maka beliau bersabda: "Kalau dia datang menemuiku, tentu aku akan memohonkan ampunan untuknya. Akan tetapi, karena ia bertindak sendiri maka aku tidak mungkin bisa melepaskannya dari tempatnya sehingga Allah melepaskannya".
Ada yang mengatakan bahwa di terimanya tobat Abu Lubabah diberitahukan oleh Allah kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam ketika beliau berada di rumah Abu Salamah radhiallaahu 'anhu, Istri Abu Salamah, berkata: "Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tertawa pada waktu sahur aku bertanya: 'wahai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam, apa gerangan yang baginda tertawakan? 'Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawab, 'Allah telah mengampuni dosa Abu Lubabah. 'Aku bertanya kepadanya: 'Apakah aku boleh menyampaikan berita gembira itu kepadanya?. 'Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawab: 'Boleh saja kalau kau mau'. Dia lalu berdiri di pintu kamarnya; kejadian itu terjadi sebelum kewajiban berhijab diundangkan.
Aku berkata: 'wahai Abu Lubabah, bergemberilah, Allah telah mengampuni dosamu'.
Setelah itu, banyaklah orang yang datang hendak melepaskan ikatannya, namun ia menolak seraya berkata: 'Tidak. Demi Allah, aku tidak mau sebelum Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam datang membebaskan aku dengan tangannya'.
Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam hendak shalat shubuh, baginda menghampirinya dan membukakan ikatannya".
Adapun ayat yang melepaskannya dari dosa ialah firman-Nya:
"Dan (ada pula) orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan yang lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang".(at-Taubah:102)
Renungan
Amanat adalah salah satu keutamaan seorang muslim yang lahir dari akidahnya dan yang membuktikan pada kejujuran hidupnya dan kemuliaan tujuannya. Karena itulah, amanat merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari keimanan dan berkhianat sebagai pertanda ingkar dan kafir, seperti yang dikatakan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
"Tidak beriman siapa yang tidak memiliki amanat dan tidak beragama siapa yang tidak bisa dipegang janjinya".
Amanat merupakan salah satu sifat orang baik dan salah sebuah unsur kesempurnaan pribadi, firman-Nya:
"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya". ( al-Mu'minuun:8)
Dibawakan oleh Ubadah bin ash-Shamit radhiallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda:
"Jamin untukku enam perkara, aku akan menjamin untuk kalian surga: 1). berbicaralah dengan jujur, 2). Tepatilah janjimu, 3). Tunaikanlah amanatmu, 4). Tundukanlah pandanganmu, 5). Peliharalah kemaluanmu, dan 6). Peliharalah tangan (tindakkan)mu".
Memisahkan diri dari keutamaan itu berarti memisahkan orang tersebut dari semua keutamaan, meskipun tidak bisa disangkal bahwa anak-anak Adam adalah pelaku kesalahan. Hal itu merupakan tabiat manusia yang tidak bisa di ingkari lagi dan tidak mungkin bisa ditutup-tutupi.
Bertolak dari sanalah dicurahkan perhatian Allah kepada manusia ini, manusia yang kepadanya Allah memerintahkan malaikat-Nya bersujud, Yang mengangkatnya menjadi khalifah-Nya dimika bumi, dan yang memuliakannya diatas semua mahluk-Nya serta dipercaya untuk memakmurkan alam ini.
Manusia bisa meningkatkan harkat dan martabat ke kelas malaikat kalau ia berpegang teguh kepada ajaran Agama Islam, namun ia bisa saja merosot ke kelas setan kalau ia menjauhkan diri dari ajaran Allah. Hikmah Allah menetapkan karena kasih-Nya kepada manusia-untuk mengirimkan para rasul dan munurunkan beberapa buah Kitab-Nya adalah untuk menggiring manusia itu ke jalan-Nya yang lurus. Kalau sudah agak lama tidak turun nabi atau rasul, lalu manusia beranggapan bahwa selama masa itu tidak ada hisab dan tidak ada hukuman.
Karena itulah, manusia selalu diberi peringatan supaya tidak terjerumus ke dalam tindakan yang di haramkan Rabbnya, yang selalu diperintahkan untuk dijauhinya, Firman-Nya:
"Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman". (adz-Dzaariyaat:55)
"Maka berilah peringatan karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan". (al-Ghaasyiyah:21)
Shalat yang di wajibkan sehari semalam lima waktu itu untuk mendekatkannya dengan Rabbnya, untuk senantiasa mengingatkan dan menyadarkannya.
Sungguhpun begitu, manusia selalu tergoda oleh gemerlapnya kehidupan duniawi ini. Ia mudah dibujuk rayu oleh setan untuk meninggalkan ajaran Rabbnya. Akhirnya, ia pun tersesat. Akan tetapi, kalau dalam hati nuraninya masih terdapat setitik keimanan, ia masih mudah digiring kembali ke jalan Allah, lalu ia kembali bertobat dan beristighfar kepada Rabbnya, Firman-Nya:
"Katakanlah Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri: 'janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang .'"(az-Zumar:53)
Berkat ampunan dan kasih sayang Allah Ta'ala, manusia yang semula berlumuran dosa itu menjadi seorang maKhluk yang paling mulia, sesuai dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam,"Sebaik-baik pelaku kesalahan ialah yang bertobat".
Dalam hal ini, Abu Lubabah radhiallaahu 'anhu adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam yang hatinya didapati oleh keimanan. Ia termasuk orang pertama yang masuk Islam, yang menyambut panggilan Allah Ta'ala, namun ia tergelincir seperti halnya manusia lain ketika hatinya sedang lemah dan jiwanya sedang lengah, lalu ia berbuat sesuatu yang menimbulkan Allah dan Rasul-Nya gusar kepadanya karena ia memberi isyarat kepada orang-orang Yahudi bekas sekutunya di jaman jahiliyah supaya tidak mau menerima hukum yang hendak di berikan Rasulullah karena hal itu berati hukuman mati bagi mereka.
Begitu awan mendung itu hilang diembus angin maka percikan cahaya menyinari kalbunya kembali. Pada saat itulah kesadarannya pulih kembali dan mulai merasakan bahwa ia telah terperosok mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, lalu ia menghukum dirinya sebagai kifarat atas dosanya, Firman-Nya:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) Janganlah kamu mengkhianati amanat-amanatyang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui". (al-Anfaal:27)
Khianat kepada Allah Ta'ala dan kepada Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari hidayah Allah dan hidayah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam artinya menolak melaksanakan syariat Allah dalam kehidupan dan mengabaikan apa-apa yang diwajibkan kepadanya, baik berupa kewajiban maupun ibadah-ibadah lainnya.
Khianat kepada Allah dan Rasul-Nya berarti tidak membulatkan keikhlasan dan kesetiaan, lalu menyekutukan-Nya dengan kekuata-kekuatan lain yang tidak mampu memberikan manfaat dan mudarat, yang tidak bisa menentukan mati, hidup, dan kebangkitan, Firman-Nya:
"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun walaupun mereka satu untuk menciptakannya. Dan, jika lalat itu, merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyebabkan dan amat lemah (pulalah) yang disembah".(al-Hajj:73).
Induk semua khianat ialah kalau kita mengorupsi kewajiban kita atau meninggalkannya sama sekali, atau kita berpura-pura beriman padahal hati kita kafir, atau mengkhianati orang yang mempercayakan hal ihwalnya kepada kita, atau kita tidak menepati janji setia kawan kita. Padahal, Islam sudah jelas-jelas anti khianat dan mencemoohkan para pengkhianat yang suka melanggar janjinya. Islam juga tidak menyukai orang muslim yang mengkhianati janjinya demi mencapai maksudnya, meskipun maksudnya itu mulia, Firman-Nya :
"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membaalkan sumpah-sumpah (mu) itu sesudah meneguhkannya sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat". (an-Nahl:91)
Amanat pemerintahan harus diberikan kepada orang-orang yang dapat dipercaya, yang kuat, yang cakap memerintah, dan ikhlas dalam melaksanakan tugasnya. Kalau ia memajukan orang yang seharusnya dimundurkan atau memundurkan orang yang seharusnya dimajukan maka orang itu telah mengundang maklumat perang dari Allah dan Rasul-Nya.
Yazid bin Abi Sufyan berkata bahwa Abu Bakar ash-Ashiddiq radhiallaahu 'anhu berkata ketika mengutusnya ke Syam: "wahai Yazid! Sesungguhnya engkau mempunyai kerabat karib; mungkin engkau utamakan mereka dengan memberikan kekuasaan (pemerintahan), itulah yang saya takutkan atasmu setelah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda:"Siapa yang diberi kuasa mengurus kepentingan kaum muslimin, Lalu ia mengangkat seseorang dengan bertindak tidak jujur, maka laknat Allah baginya dan Allah tidak akan menerima tebusan atau imbalan pun hingga orang itu dimasukkan ke dalam api neraka".
Ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan bertanya kepadanya: "Kapan datangnya hari kiamat itu?"
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawab: "Bilamana amanat sudah dihilangkan maka tunggulah saat (kehancuran) itu!"
Orang itu bertanya lagi, "Bagaimana amanat itu di hilangkan?"
Baginda menjelaskan: "Apabila kekuasaan diserahkan kepada bukan ahlinya".
Harta kekayaan negara adalah amanat di tangan penguasa. Penguasa berkewajiban untuk menempatkan di tempatnya dan menafkahkan sesuai dengan keperluannya, demi kepentingan rakyat dan masyarakatnya. Kalau ia berbuat lain dari itu, maka ia telah berkhianatdan telah melenceng dari syariat Allah.
Kapan kiranya bendera amanat dan keamanan berkibar di tengah-tengah kaum muslimin? Kapan kaum muslimin akan merasa aman atas tanah airnya sehingga tidak merasa khawatir terhadap bumi dan hasil buminya dirampok orang sehingga harta benda dan kekayaan buminya tidak dirampas orang dari depan matanya?
Kapan kehormatan umat dan masyarakatnya tidak dirobek-robek oleh media massa cetak dan elektronik yang terarah serta terpimpin karena hilangnya nilai-nilai dan akhlaknya? Ya, kapan hal itu akan terwujud? Kapan hal itu akan terjadi,Ya Rabb?.
AMR BIN 'ASH
'AMR BIN 'ASH
( Pembebas Mesir Dari Cengkeraman Romawi ))
Ada tiga orang gembong Quraisy yang amat menyusahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam disebabkan sengitnya perlawanan mereka terhadap da'wahnya dan siksaan mereka terhadap shahabatnya.
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu berdo'a dan memohon kepada Tuhannya agar menurunkan adzabnya pada mereka.
Tiba-tiba sementara ia berdo'a dan memohon itu, turunlah wahyu atas kalbunya berupa ayat yang mulia ini:
Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. (Q.S. 3 Ali Imran: 128)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memahami bahwa maksud ayat itu ialah menyuruhnya agar menghentikan do'a untuk menyiksa mereka serta menyerahkan urusan mereka kepada Allah semata. Kemungkinan, mereka tetap berada dalam keaniayaan hingga akan menerima adzab-Nya. Atau mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka hingga akan mempereroleh rahmat karunia-Nya ....
Maka 'Amr bin 'Ash adalah salah satu dari ketiga orang tersebut. Allah memilihkan bagi mereka jalan untuk bertaubat dan menerima rahmat, maka ditunjukiNya mereka jalan untuk menganut Islam, dan 'Amr bin 'Ash pun beralih rupa menjadi seorang Muslim pejuang, dan salah seorang panglima yang gagah berani. ...
Dan bagaimana pun juga sebagian dari pendiriannya yang arah pandangannya tak dapat kita terima, namun peranannya sebagai seorang shahabat yang mulia, yang telah memberi dan berbuat jasa, berjuang dan berusaha, akan selalu membuka mata dan hati kita terhadap dirinya ....
Dan di sini di bumi Mesir sendiri, orang-orang yang memandang Islam itu adalah Agama yang lurus dan mulia, dan melihat pada diri Rasulnya shallallahu 'alaihi wasallam rahmat dan ni'mat serta karunia, serta penyampai kebenaran utama, yang menyeru kepada Allah berdasarkan pemikiran dan mengilhami kehidupan ini dengan sebagian besar dari kebenaran dan ketaqwaan... , orang-orang yang beriman itu akan memendam rasa cinta kasih kepada laki-laki, yang oleh taqdir dijadikan alat-alat bagaimanapun untuk memberikan Islam ke haribaan Mesir, dan menyerahkan Mesir ke pangkuan Islam ... ! Maka alangkah tinggi nilai hadiah itu, dan alangkah besar jasa Pemberinya ... ! Sementara laki-laki yang menjadi taqdir dan dicintai oleh mereka itu, itulah dia 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu.
Para muarrikh atau ahli-ahli sejarah biasa menggelari 'Amr radhiyallahu 'anhu dengan "Penakluk Mesir". Tetapi, menurut kita gelar ini tidaklah tepat dan bukan pada tempatnya. Mungkin gelar yang paling tepat untuk 'Amr radhiyallahu 'anhu ini dengan memanggilnya "Pembebas Mesir". Islam membuka negeri itu bukanlah menurut pengertian yang lazim digunakan di masa modern ini, tetapi maksudnya tiada lain ialah membebaskannya dari cengkraman dua kerajaan besar yang menimpakan kepada negeri ini serta rakyatnya perbudakan dan penindasan yang dahsyat, yaitu imperium Persi dan Romawi ....
Mesir sendiri, ketika pasukan perintis tentara Islam memasuki wilayahnya, merupakan jajahan dari Romawi, sementara perjuangan penduduk untuk menentangnya tidak membuahkan hasil apa-apa .... Maka tatkala dari tapal batas kerajaan-kerajaan itu bergema suara takbir dari pasukan-pasukan yang beriman: "Allahu Akbar, Allahu Akbar .... ", mereka pun dengan berduyun-duyun segera menuju fajar yang baru terbit itu lalu memeluk Agama Islam yang dengannya mereka menemukan kebebasan mereka dari kekuasaan kisra maupun kaisar.
Jika demikian halnya, 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu bersama anak buahnya tidaklah menaklukkan Mesir! Mereka hanyalah merintis serta membuka jalan bagi Mesir agar dapat mencapai tujuannya dengan kebenaran dan mengikat norma dan peraturan-peraturannya dengan keadilan, serta menempatkan diri dan hakikatnya dalam cahaya kalimat-kalimat Ilahi dan dalam prinsip-prinsip Islami... !
'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu, amat berharap sekali akan dapat menghindarkan penduduk Mesir dan orang-orang Kopti dari peperang agar pertempuran terbatas antaranya dengan tentara Romawi saja, yang telah menduduki negeri orang secara tidak sah, dan mencuri harta penduduk dengan sewenang-wenang ....
Oleh sebab itulah kita dapati ia berbicara ketika itu kepada pemuka-pemuka golongan Nasrani dan uskup-uskup besar mereka, katanya: "Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam membawa kebenaran dan menitahkan kebenaran itu .... Dan sesungguhnya beliau shallallahu 'alaihi wasallam telah menunaikan tugas risalahnya kemudian berpulang setelah meninggalkan kami di jalan lurus terang benderang.
Di antara perintah-perintah yang disampaikannya kepada kami ialah memberikan kemudahan bagi manusia. Maka kami menyeru kalian kepada Islam ....Barang siapa yang memenuhi seruan kami, maka ia termasuk golongan kami, beroleh hak seperti hak-hak kami dan memikul kewajiban seperti kewajiban-kewajiban kami .... dan barang siapa yang tidak memenuhi seruan kami itu, kami tawarkan membayar pajak, dan kami berikan padanya keamanan serta perlindungan. Dan sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kami telah memberitakan bahwa Mesir akan menjadi tanggung jawab kami untuk membebaskannya dari penjajah, dan diwasiatkannya kepada kami agar berlaku baik terhadap penduduknya, sabdanya: -
"Sepeninggalku nanti, Mesir, menjadi kewajiban kalian untuk membebaskannya, maka perlakukanlah penduduknya dengan baik, karena mereka masih mempunyai ikatan dan hubungan kekeluargaan dengan kita ... !"') HR. Muslim (1)
Maka jika kalian memenuhi seruan kami ini, hubungan kita semakin kuat dan bertambah erat ... !"
'Amr radhiyallahu 'anhu menyudahi ucapannya, dan sebagian uskup dan pendeta menyerukan: "Sesungguhnya hubungan silaturrahmi yang diwasiatkan Nabimu shallallahu 'alaihi wasallam itu adalah suatu pendekatan dengan pandangan jauh, yang tak mungkin disuruh hubungkan kecuali oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam... !"
Percakapan ini merupakan permulaan yang baik untuk tercapainya saling pengertian yang diharapkan antara 'Amr radhiyallahu 'anhu dan orang Kopti penduduk Mesir, walau panglima-panglima Romawi berusaha untuk menggagalkannya ....
'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu tidaklah termasuk angkatan pertama yang masuk Islam. Ia baru masuk Islam bersama Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu tidak lama sebelum dibebaskannya kota Mekah ....
Anehnya keislamannya itu diawali dengan bimbingan Negus raja Habsyi. Sebabnya ialah karena Negus ini kenal dan menaruh rasa hormat terhadap 'Amr radhiyallahu 'anhu yang sering bolak-balik ke Habsyi dan mempersembahkan barang-barang berharga sebagai hadiah bagi raja .... Di waktu kunjungannya yang terakhir ke negeri itu, tersebutlah berita munculnya Rasul yang menyebarkan tauhid dan akhlaq mulia di tanah Arab.
(1) Hadits tersebut memberi petunjuk bahwa orang-orang Kopti di Mesir merupakan paman-paman dari Ismail shallallahu 'alaihi wasallam. .... Karena ibunda Ismail Siti Hajar seorang wanita warga Mesir, diambil oleh Ibrahim shallallahu 'alaihi wasallam. menjadi isterinya, sewaktu ia datang ke Mesir dan diberi hadiah oleh Fir'aun dan kemudian melahirkan Ismail 'alaihissalam....
Maharaja Habsyi itu menanyakan kepada 'Amr radhiyallahu 'anhu kenapa ia tak hendak beriman dan mengikutinya, padahal orang itu benar-benar utusan Allah? "Benarkah begitu...?" tanya 'Amr radhiyallahu 'anhu kepada Negus. "Benar", ujar Negus, "Turutlah petunjukku, hai 'Amr dan ikutilah dia ! Sungguh dan demi Allah, ia adalah di atas kebenaran dan akan mengalahkan orang-orang yang menentangnya... !"
Secepatnya 'Amr radhiyallahu 'anhu terjun mengarungi lautan kembali ke kampung halamannya, lalu mengarahkan langkahnya menuju Madinah untuk menyerahkan diri kepada Allah Robbul'alamin.
Dalam perjalanan ke Madinah itu ia bertemu dengan Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu dan Utsman bin Thalhah, yang juga datang dari Mekah dengan maksud hendak bai'at kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Demi Rasul shallallahu 'alaihi wasallam melihat ketiga orang itu datang, wajahnya pun berseri-seri, lalu katanya pada shahabat-shahabatnya : "Mekah telah melepas jantung-jantung hatinya kepada kita .... " Mula-mula tampil Khalid radhiyallahu 'anhu dan mengangkat bai'at. Kemudian majulah 'Amr radhiyallahu 'anhu dan katanya: "Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ... ! Aku akan bai'at kepada anda, asal saja Allah mengampuni dosa-dosaku yang terdahulu ... !"
Maka jawab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Hai 'Amr! Bai'atlah, karena Islam menghapus dosa-dosa yang sebelumnya ... !"
'Amr radhiyallahu 'anhu pun bai'at, dan diletakkannya kecerdikan dan keberaniannya dalam darmabaktinya kepada Agamanya yang baru ....
Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpindah ke Rafiqul A'la, 'Amr radhiyallahu 'anhu sedang berada di Oman menjadi gubernurnya. Dan di masa pemerintah Umar radhiyallahu 'anhu, jasa-jasanya dapat disaksikan dalam peperangan-peperangan di Syria, kemudian dalam membebaskan Mesir dari penjajahan Romawi.
Wahai, kenapa 'Amr bin 'Ash tidak menahan ambisi pribadinya untuk dapat berkuasa! Seandainya demikian, tentulah ia akan dapat mengatasi dengan mudah sebagian kesulitan yang dialaminya disebabkan ambisinya ini ... !
Tetapi ambisinya ingin berkuasa ini, sampai suatu batas tertentu, hanyalah merupakan gambaran lahir dari tabiat bathinnya yang bergejolak dan dipenuhi bakat ... !
Bahkan bentuk tubuh, cara berjalan dan bercakapnya, memberi isyarat bahwa ia diciptakan untuk menjadi amir atau penguasa ... ! Hingga pernah diriwayatkan bahwa pada suatu hari Amirul Mu'minin Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu melihatnya datang. Ia tersenyum melihat caranya berjalan itu, lalu katanya: "Tidak pantas bagi Abu Abdillah untuk berjalan di muka bumi kecuali sebagai amir ... !"
Sungguh, sebenarnya 'Amr atau Abu Abdillah tidak mengurangkan hak dirinya ini ... ! Bahkan ketika bahaya-bahaya besar datang mengancam Kaum Muslimin, 'Amr radhiyallahu 'anhu menghadapi peristiwa-peristiwa itu dengan cara seorang amir ... seorang amir yang cerdik dan licin serta berkemampuan, menyebabkannya percaya akan dirinya, serta yakin akan keunggulannya ... !
Tetapi di samping itu ia juga memiliki sifat amanat, menyebabkan Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu -seorang yang terkenal amat teliti dalam memilih gubernur-gubernurnya - menetapkannya sebagai gubernur di Palestina dan Yordania, kemudian di Mesir selama hayatnya Amirul Mu'minin ini ....
Bahkan ketika Amirul Mu'minin radhiyallahu 'anhu mengetahui bahwa 'Amr radhiyallahu 'anhu, dalam kesenangan hidup telah melampaui batas yang telah digariskannya terhadap para pembesamya, dengan tujuan agar taraf hidup mereka setingkat atau hampir setingkat dengan taraf hidup umumnya rakyat biasa, maka khalifah tidaklah memecatnya, hanya mengirimkan Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu dan memerintahkannya agar membagi dua semua harta dan barang 'Amr radhiyallahu 'anhu, lalu meninggalkan untuknya separohnya, sedang yang separuhnya iagi hendaklah dibawanya ke Madinah untuk Baitul mal.
Seandainya Amirul Mu'minin radhiyallahu 'anhu mengetahui bahwa ambisi 'Amr radhiyallahu 'anhu terhadap kekuasaan sampai menyebabkannya agak lalai terhadap tanggung jawabnya, tentulah jiwanya yang waspada itu tidak akan membiarkannya memegang kekuasaan walau agak sekejap pun ... !
'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu adalah seorang yang berfikiran tajam, cepat tanggap dan jauh pandang ... hingga Amirul Mu'minin Umar radhiyallahu 'anhu, setiap ia melihat seorang yang singkat akal, dipertepukkannya kedua telapak tangannya dengan keras karena herannya, Seraya katanya:
"Subhanallah ... ! Sesungguhnya Pencipta orang ini dan Pencipta 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu hanyalah Tuhan Yang Tunggal, keduanya sama benar ... !"
Di samping itu ia juga seorang yang amat berani dan berkemauan keras....
Pada beberapa peristiwa dan suasana, keberaniannya itu disisipinya dengan kelihaiannya, hingga disangka orang ia sebagai pengecut atau penggugup. Padahal itu tiada lain dari tipu muslihat yang istimewa yang oleh 'Amr radhiyallahu 'anhu digunakannya secara tepat dan dengan kecerdikan mengagumkan untuk membebaskan dirinya dari bahaya yang mengancam ... !
Amirul Mu'minin Umar radhiyallahu 'anhu mengenal bakat dan kelebihannya ini sebaik-baiknya, serta menghitungkannya dengan sepatutnya.
Oleh sebab itu sewaktu ia dikirimnya ke Syria sebelum pergi ke Mesir, dikatakan orang kepada Umar radhiyallahu 'anhu bahwa tentara Romawi dipimpin oleh Arthabon, maksudnya panglima yang lihai dan gagah berani.
Jawaban Umar radhiyallahu 'anhu ialah: "Kita hadapkan arthabon Romawi kepada arthabon Arab, dan baiklah kita saksikan nanti bagaimana akhir kesudahannya Ternyata bahwa pertarungan itu berkesudahan dengan kemenangan mutlak bagi arthabon Arab dan ahli tipu muslihat mereka yang ulung 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu, sehingga arthabon Romawi, meninggalkan tentaranya menderita kekalahan dan meluputkan diri ke Mesir ..., yang tak lama antaranya akan disusul oleh 'Amr radhiyallahu 'anhu ke negeri itu untuk membiarkan bendera dan panji-panji Islam di angkasanya yang aman damai....
Tidak sedikit peristiwa, di mana kecerdikan dan kelicinan 'Amr radhiyallahu 'anhu menonjol dengan gemilang! Dalam hal ini kita tidak memasukkan perbuatan sehubungan dengan Abu Musa al-'Asy'ari pada peristiwa tahkim, yakni ketika kedua mereka menyetujui bahwa masing-masing akan menanggalkan Ali dan Mu'awiyah radhiyallahu 'anhuma dari jabatan mereka, agar urusan itu dikembalikan kepada Kaum Muslimin untuk mereka musyawarahkan bersama. Ternyata Abu Musa radhiyallahu 'anhu melaksanakan hasil persetujuan tersebut, sementara 'Amr radhiyallahu 'anhu tidak melaksanakannya ....
Sekiranya kita ingin menyaksikan bagaimana kelicinan serta kesigapan tanggapnya, maka pada peristiwa yang dialaminya bersama komandan benteng Babilon di saat peperangannya dengan orang-orang Romawi di Mesir, atau menurut riwayat-riwayat lain, bersama arthabon Romawi di pertempuran Yarmuk di Syria ... !
Yakni ketika ia diundang oleh komandan benteng atau oleh arthabon untuk berunding, dan sementara itu komandan Romawi telah menyuruh beberapa orang anak buahnya untuk menggulingkan batu besar ke atas kepalanya sewaktu ia hendak pulang meninggalkan benteng itu, sementara segala sesuatu dipersiapkan, agar rencana tersebut dapat berjalan lancar dan menghasilkan apa yang dimaksud mereka ....
'Amr pun berangkat menemui komandan, tanpa sedikit pun menaruh curiga, dan setelah berunding mereka berpisahlah.
Tiba-tiba dalam perjalanannya ke luar benteng, terkilaslah olehnya di atas tembok, gerakan yang mencurigakan, hingga membangkitkan gerakan refleknya dengan amat cepatnya, dan dengan tangkas berhasil menghindarkan diri dengan cara yang mengagumkan ....
Dan sekarang ia kembali mendapatkan komandan benteng dengan langkah-langkah yang tepat dan tegap serta kesadaran tinggi yang tak pernah goyah, seolah-olah ia tak dapat dikejutkan oleh sesuatu pun dan tidak dapat dipengaruhi oleh rasa curiga Kemudian ia masuk ke dalam, lalu katanya kepada komandan: "timbul dalam hatiku suatu fikiran yang ingin kusampaikan kepada anda sekarang ini ..... Di pos komandoku sekarang ini sedang menunggu segolongan shahabat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam angkatan pertama masuk Islam, yang pendapat mereka biasa didengar oleh Amirul Mu'minin radhiyallahu 'anhu untuk mengambil sesuatu keputusan penting. Bahkan setiap mengirim tentara, mereka selalu diikutsertakan untuk mengawasi tindakan tentara dan langkah-langkah yang mereka ambil. Maka maksudku hendak membawa mereka ke sini agar dapat mendengar dari mulut anda apa yang telah kudengar, hingga mereka beroleh penjelasan yang sebaik-baiknya mengenai urusan kita ini ... !"
Komandan Romawi itu secara bersahaja maklum karena nasib mujurnya, 'Amr lolos dari lobang jarum, dengan sikap gembira ia menyetujui usul 'Amr radhiyallahu 'anhu, hingga bila 'Amr radhiyallahu 'anhu nanti kembali dengan sejumlah besar pimpinan dan panglima Islam pilihan, ia akan dapat menjebak mereka semua, daripada hanya 'Amr seorang Dan secara sembunyi-sembunyi hingga tidak diketahui oleh 'Amr, dipertahankannyalah untuk tidak mengganggu 'Amr dan menyiapkan kembali perangkap yang disediakan untuk panglima Islam tadi, guna menghabisi para pemimpin mereka yang utama ....
Lalu dilepasnya 'Amr dengan besar hati, dan disalaminya amat hangat sekali ..., disambut oleh ahli siasat dan tipu muslihat Arab itu dengan tertawa dalam hati ....
Dan di waktu subuh keesokan harinya, dengan memacu kudanya yang meringkik keras dengan nada bangga dan mengejek, 'Amr radhiyallahu 'anhu kembali memimpin tentaranya menuju benteng.
Memang, kuda itu merupakan suatu makhluq lain yang banyak mengetahui kelihaian dan kecerdikan tuannya ... !
Dan pada tahun ke-43 Hijrah, wafatlah 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu di Mesir, sewaktu ia menjadi gubernur di sana.... Di saat-saat kepergiannya itu, ia mengemukakan riwayat hidupnya, itu secara bersahaja maklum bahwa kepergiannya katanya: "Pada mulanya aku ini seorang kafir, dan orang yang amat keras sekali terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hingga seandainya aku meninggal pada saat itu, pastilah masuk neraka ... !
Kemudian aku bai'at kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka tak seorang pun di antara manusia yang lebih kucintai, dan lebih mulia dalam pandangan mataku, daripada beliau shallallahu 'alaihi wasallam Dan seandainya aku diminta untuk melukiskannya, maka aku tidak sanggup karena disebabkan hormatku kepadanya, aku tak kuasa menatapnya sepenuh mataku ... !
Maka seandainya aku meninggal pada saat itu, besar harapan akan menjadi penduduk surga Kemudian setelah itu, aku diberi ujian dengan beroleh kekuasaan begitupun dengan hal-hal lain. Aku tidak tahu, apakah ujian itu akan membawa keuntungan bagi diriku ataukah kerugian... !"
Lalu diangkatnya kepalanya ke arah langit dengan hati yang tunduk, sambil bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Pengasih, katanya: "Ya Allah, daku ini orang yang tak luput dari kesalahan, maka mohon dimaafkan Daku tak sunyi dari kelemahan, maka mohon diberi pertolongan... ! Sekiranya daku tidak beroleh rahmat karunia-Mu, pasti celakalah nasibku... !"
Demikianlah ia asyik dalam bermohon dan berhina diri hingga akhirnya ruhnya naik ke langit tinggi, di sisi Allah Rabbul- 'izzatl, sementara akhir ucapan penutup hayatnya, ialah : La ilaha illallah ....
Di pangkuan bumi Mesir, negeri yang diperkenalkannya dengan ajaran Islam itu, bersemayamlah tubuh kasamya....
Dan di atas tanahnya yang keras, majlisnya yang selama ini digunakannya untuk mengajar, mengadili dan mengendalikan pemerintahan, masih tegak berdiri melalui kurun waktu, dinaungi oleh atap mesjidnya yang telah berusia lanjut "Jami'u 'Amr", yakni mesjid yang mula pertama didirikan di Mesir, yang disebut di dalamnya asma Allah Yang Tunggal lagi Esa serta dikumandangkan ke setiap pojoknya dari atas mimbarnya kaiimat-kalimat Allah serta pokok-pokok Agama Islam ....
( Pembebas Mesir Dari Cengkeraman Romawi ))
Ada tiga orang gembong Quraisy yang amat menyusahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam disebabkan sengitnya perlawanan mereka terhadap da'wahnya dan siksaan mereka terhadap shahabatnya.
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu berdo'a dan memohon kepada Tuhannya agar menurunkan adzabnya pada mereka.
Tiba-tiba sementara ia berdo'a dan memohon itu, turunlah wahyu atas kalbunya berupa ayat yang mulia ini:
Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. (Q.S. 3 Ali Imran: 128)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memahami bahwa maksud ayat itu ialah menyuruhnya agar menghentikan do'a untuk menyiksa mereka serta menyerahkan urusan mereka kepada Allah semata. Kemungkinan, mereka tetap berada dalam keaniayaan hingga akan menerima adzab-Nya. Atau mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka hingga akan mempereroleh rahmat karunia-Nya ....
Maka 'Amr bin 'Ash adalah salah satu dari ketiga orang tersebut. Allah memilihkan bagi mereka jalan untuk bertaubat dan menerima rahmat, maka ditunjukiNya mereka jalan untuk menganut Islam, dan 'Amr bin 'Ash pun beralih rupa menjadi seorang Muslim pejuang, dan salah seorang panglima yang gagah berani. ...
Dan bagaimana pun juga sebagian dari pendiriannya yang arah pandangannya tak dapat kita terima, namun peranannya sebagai seorang shahabat yang mulia, yang telah memberi dan berbuat jasa, berjuang dan berusaha, akan selalu membuka mata dan hati kita terhadap dirinya ....
Dan di sini di bumi Mesir sendiri, orang-orang yang memandang Islam itu adalah Agama yang lurus dan mulia, dan melihat pada diri Rasulnya shallallahu 'alaihi wasallam rahmat dan ni'mat serta karunia, serta penyampai kebenaran utama, yang menyeru kepada Allah berdasarkan pemikiran dan mengilhami kehidupan ini dengan sebagian besar dari kebenaran dan ketaqwaan... , orang-orang yang beriman itu akan memendam rasa cinta kasih kepada laki-laki, yang oleh taqdir dijadikan alat-alat bagaimanapun untuk memberikan Islam ke haribaan Mesir, dan menyerahkan Mesir ke pangkuan Islam ... ! Maka alangkah tinggi nilai hadiah itu, dan alangkah besar jasa Pemberinya ... ! Sementara laki-laki yang menjadi taqdir dan dicintai oleh mereka itu, itulah dia 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu.
Para muarrikh atau ahli-ahli sejarah biasa menggelari 'Amr radhiyallahu 'anhu dengan "Penakluk Mesir". Tetapi, menurut kita gelar ini tidaklah tepat dan bukan pada tempatnya. Mungkin gelar yang paling tepat untuk 'Amr radhiyallahu 'anhu ini dengan memanggilnya "Pembebas Mesir". Islam membuka negeri itu bukanlah menurut pengertian yang lazim digunakan di masa modern ini, tetapi maksudnya tiada lain ialah membebaskannya dari cengkraman dua kerajaan besar yang menimpakan kepada negeri ini serta rakyatnya perbudakan dan penindasan yang dahsyat, yaitu imperium Persi dan Romawi ....
Mesir sendiri, ketika pasukan perintis tentara Islam memasuki wilayahnya, merupakan jajahan dari Romawi, sementara perjuangan penduduk untuk menentangnya tidak membuahkan hasil apa-apa .... Maka tatkala dari tapal batas kerajaan-kerajaan itu bergema suara takbir dari pasukan-pasukan yang beriman: "Allahu Akbar, Allahu Akbar .... ", mereka pun dengan berduyun-duyun segera menuju fajar yang baru terbit itu lalu memeluk Agama Islam yang dengannya mereka menemukan kebebasan mereka dari kekuasaan kisra maupun kaisar.
Jika demikian halnya, 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu bersama anak buahnya tidaklah menaklukkan Mesir! Mereka hanyalah merintis serta membuka jalan bagi Mesir agar dapat mencapai tujuannya dengan kebenaran dan mengikat norma dan peraturan-peraturannya dengan keadilan, serta menempatkan diri dan hakikatnya dalam cahaya kalimat-kalimat Ilahi dan dalam prinsip-prinsip Islami... !
'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu, amat berharap sekali akan dapat menghindarkan penduduk Mesir dan orang-orang Kopti dari peperang agar pertempuran terbatas antaranya dengan tentara Romawi saja, yang telah menduduki negeri orang secara tidak sah, dan mencuri harta penduduk dengan sewenang-wenang ....
Oleh sebab itulah kita dapati ia berbicara ketika itu kepada pemuka-pemuka golongan Nasrani dan uskup-uskup besar mereka, katanya: "Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam membawa kebenaran dan menitahkan kebenaran itu .... Dan sesungguhnya beliau shallallahu 'alaihi wasallam telah menunaikan tugas risalahnya kemudian berpulang setelah meninggalkan kami di jalan lurus terang benderang.
Di antara perintah-perintah yang disampaikannya kepada kami ialah memberikan kemudahan bagi manusia. Maka kami menyeru kalian kepada Islam ....Barang siapa yang memenuhi seruan kami, maka ia termasuk golongan kami, beroleh hak seperti hak-hak kami dan memikul kewajiban seperti kewajiban-kewajiban kami .... dan barang siapa yang tidak memenuhi seruan kami itu, kami tawarkan membayar pajak, dan kami berikan padanya keamanan serta perlindungan. Dan sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kami telah memberitakan bahwa Mesir akan menjadi tanggung jawab kami untuk membebaskannya dari penjajah, dan diwasiatkannya kepada kami agar berlaku baik terhadap penduduknya, sabdanya: -
"Sepeninggalku nanti, Mesir, menjadi kewajiban kalian untuk membebaskannya, maka perlakukanlah penduduknya dengan baik, karena mereka masih mempunyai ikatan dan hubungan kekeluargaan dengan kita ... !"') HR. Muslim (1)
Maka jika kalian memenuhi seruan kami ini, hubungan kita semakin kuat dan bertambah erat ... !"
'Amr radhiyallahu 'anhu menyudahi ucapannya, dan sebagian uskup dan pendeta menyerukan: "Sesungguhnya hubungan silaturrahmi yang diwasiatkan Nabimu shallallahu 'alaihi wasallam itu adalah suatu pendekatan dengan pandangan jauh, yang tak mungkin disuruh hubungkan kecuali oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam... !"
Percakapan ini merupakan permulaan yang baik untuk tercapainya saling pengertian yang diharapkan antara 'Amr radhiyallahu 'anhu dan orang Kopti penduduk Mesir, walau panglima-panglima Romawi berusaha untuk menggagalkannya ....
'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu tidaklah termasuk angkatan pertama yang masuk Islam. Ia baru masuk Islam bersama Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu tidak lama sebelum dibebaskannya kota Mekah ....
Anehnya keislamannya itu diawali dengan bimbingan Negus raja Habsyi. Sebabnya ialah karena Negus ini kenal dan menaruh rasa hormat terhadap 'Amr radhiyallahu 'anhu yang sering bolak-balik ke Habsyi dan mempersembahkan barang-barang berharga sebagai hadiah bagi raja .... Di waktu kunjungannya yang terakhir ke negeri itu, tersebutlah berita munculnya Rasul yang menyebarkan tauhid dan akhlaq mulia di tanah Arab.
(1) Hadits tersebut memberi petunjuk bahwa orang-orang Kopti di Mesir merupakan paman-paman dari Ismail shallallahu 'alaihi wasallam. .... Karena ibunda Ismail Siti Hajar seorang wanita warga Mesir, diambil oleh Ibrahim shallallahu 'alaihi wasallam. menjadi isterinya, sewaktu ia datang ke Mesir dan diberi hadiah oleh Fir'aun dan kemudian melahirkan Ismail 'alaihissalam....
Maharaja Habsyi itu menanyakan kepada 'Amr radhiyallahu 'anhu kenapa ia tak hendak beriman dan mengikutinya, padahal orang itu benar-benar utusan Allah? "Benarkah begitu...?" tanya 'Amr radhiyallahu 'anhu kepada Negus. "Benar", ujar Negus, "Turutlah petunjukku, hai 'Amr dan ikutilah dia ! Sungguh dan demi Allah, ia adalah di atas kebenaran dan akan mengalahkan orang-orang yang menentangnya... !"
Secepatnya 'Amr radhiyallahu 'anhu terjun mengarungi lautan kembali ke kampung halamannya, lalu mengarahkan langkahnya menuju Madinah untuk menyerahkan diri kepada Allah Robbul'alamin.
Dalam perjalanan ke Madinah itu ia bertemu dengan Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu dan Utsman bin Thalhah, yang juga datang dari Mekah dengan maksud hendak bai'at kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Demi Rasul shallallahu 'alaihi wasallam melihat ketiga orang itu datang, wajahnya pun berseri-seri, lalu katanya pada shahabat-shahabatnya : "Mekah telah melepas jantung-jantung hatinya kepada kita .... " Mula-mula tampil Khalid radhiyallahu 'anhu dan mengangkat bai'at. Kemudian majulah 'Amr radhiyallahu 'anhu dan katanya: "Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ... ! Aku akan bai'at kepada anda, asal saja Allah mengampuni dosa-dosaku yang terdahulu ... !"
Maka jawab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Hai 'Amr! Bai'atlah, karena Islam menghapus dosa-dosa yang sebelumnya ... !"
'Amr radhiyallahu 'anhu pun bai'at, dan diletakkannya kecerdikan dan keberaniannya dalam darmabaktinya kepada Agamanya yang baru ....
Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpindah ke Rafiqul A'la, 'Amr radhiyallahu 'anhu sedang berada di Oman menjadi gubernurnya. Dan di masa pemerintah Umar radhiyallahu 'anhu, jasa-jasanya dapat disaksikan dalam peperangan-peperangan di Syria, kemudian dalam membebaskan Mesir dari penjajahan Romawi.
Wahai, kenapa 'Amr bin 'Ash tidak menahan ambisi pribadinya untuk dapat berkuasa! Seandainya demikian, tentulah ia akan dapat mengatasi dengan mudah sebagian kesulitan yang dialaminya disebabkan ambisinya ini ... !
Tetapi ambisinya ingin berkuasa ini, sampai suatu batas tertentu, hanyalah merupakan gambaran lahir dari tabiat bathinnya yang bergejolak dan dipenuhi bakat ... !
Bahkan bentuk tubuh, cara berjalan dan bercakapnya, memberi isyarat bahwa ia diciptakan untuk menjadi amir atau penguasa ... ! Hingga pernah diriwayatkan bahwa pada suatu hari Amirul Mu'minin Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu melihatnya datang. Ia tersenyum melihat caranya berjalan itu, lalu katanya: "Tidak pantas bagi Abu Abdillah untuk berjalan di muka bumi kecuali sebagai amir ... !"
Sungguh, sebenarnya 'Amr atau Abu Abdillah tidak mengurangkan hak dirinya ini ... ! Bahkan ketika bahaya-bahaya besar datang mengancam Kaum Muslimin, 'Amr radhiyallahu 'anhu menghadapi peristiwa-peristiwa itu dengan cara seorang amir ... seorang amir yang cerdik dan licin serta berkemampuan, menyebabkannya percaya akan dirinya, serta yakin akan keunggulannya ... !
Tetapi di samping itu ia juga memiliki sifat amanat, menyebabkan Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu -seorang yang terkenal amat teliti dalam memilih gubernur-gubernurnya - menetapkannya sebagai gubernur di Palestina dan Yordania, kemudian di Mesir selama hayatnya Amirul Mu'minin ini ....
Bahkan ketika Amirul Mu'minin radhiyallahu 'anhu mengetahui bahwa 'Amr radhiyallahu 'anhu, dalam kesenangan hidup telah melampaui batas yang telah digariskannya terhadap para pembesamya, dengan tujuan agar taraf hidup mereka setingkat atau hampir setingkat dengan taraf hidup umumnya rakyat biasa, maka khalifah tidaklah memecatnya, hanya mengirimkan Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu dan memerintahkannya agar membagi dua semua harta dan barang 'Amr radhiyallahu 'anhu, lalu meninggalkan untuknya separohnya, sedang yang separuhnya iagi hendaklah dibawanya ke Madinah untuk Baitul mal.
Seandainya Amirul Mu'minin radhiyallahu 'anhu mengetahui bahwa ambisi 'Amr radhiyallahu 'anhu terhadap kekuasaan sampai menyebabkannya agak lalai terhadap tanggung jawabnya, tentulah jiwanya yang waspada itu tidak akan membiarkannya memegang kekuasaan walau agak sekejap pun ... !
'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu adalah seorang yang berfikiran tajam, cepat tanggap dan jauh pandang ... hingga Amirul Mu'minin Umar radhiyallahu 'anhu, setiap ia melihat seorang yang singkat akal, dipertepukkannya kedua telapak tangannya dengan keras karena herannya, Seraya katanya:
"Subhanallah ... ! Sesungguhnya Pencipta orang ini dan Pencipta 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu hanyalah Tuhan Yang Tunggal, keduanya sama benar ... !"
Di samping itu ia juga seorang yang amat berani dan berkemauan keras....
Pada beberapa peristiwa dan suasana, keberaniannya itu disisipinya dengan kelihaiannya, hingga disangka orang ia sebagai pengecut atau penggugup. Padahal itu tiada lain dari tipu muslihat yang istimewa yang oleh 'Amr radhiyallahu 'anhu digunakannya secara tepat dan dengan kecerdikan mengagumkan untuk membebaskan dirinya dari bahaya yang mengancam ... !
Amirul Mu'minin Umar radhiyallahu 'anhu mengenal bakat dan kelebihannya ini sebaik-baiknya, serta menghitungkannya dengan sepatutnya.
Oleh sebab itu sewaktu ia dikirimnya ke Syria sebelum pergi ke Mesir, dikatakan orang kepada Umar radhiyallahu 'anhu bahwa tentara Romawi dipimpin oleh Arthabon, maksudnya panglima yang lihai dan gagah berani.
Jawaban Umar radhiyallahu 'anhu ialah: "Kita hadapkan arthabon Romawi kepada arthabon Arab, dan baiklah kita saksikan nanti bagaimana akhir kesudahannya Ternyata bahwa pertarungan itu berkesudahan dengan kemenangan mutlak bagi arthabon Arab dan ahli tipu muslihat mereka yang ulung 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu, sehingga arthabon Romawi, meninggalkan tentaranya menderita kekalahan dan meluputkan diri ke Mesir ..., yang tak lama antaranya akan disusul oleh 'Amr radhiyallahu 'anhu ke negeri itu untuk membiarkan bendera dan panji-panji Islam di angkasanya yang aman damai....
Tidak sedikit peristiwa, di mana kecerdikan dan kelicinan 'Amr radhiyallahu 'anhu menonjol dengan gemilang! Dalam hal ini kita tidak memasukkan perbuatan sehubungan dengan Abu Musa al-'Asy'ari pada peristiwa tahkim, yakni ketika kedua mereka menyetujui bahwa masing-masing akan menanggalkan Ali dan Mu'awiyah radhiyallahu 'anhuma dari jabatan mereka, agar urusan itu dikembalikan kepada Kaum Muslimin untuk mereka musyawarahkan bersama. Ternyata Abu Musa radhiyallahu 'anhu melaksanakan hasil persetujuan tersebut, sementara 'Amr radhiyallahu 'anhu tidak melaksanakannya ....
Sekiranya kita ingin menyaksikan bagaimana kelicinan serta kesigapan tanggapnya, maka pada peristiwa yang dialaminya bersama komandan benteng Babilon di saat peperangannya dengan orang-orang Romawi di Mesir, atau menurut riwayat-riwayat lain, bersama arthabon Romawi di pertempuran Yarmuk di Syria ... !
Yakni ketika ia diundang oleh komandan benteng atau oleh arthabon untuk berunding, dan sementara itu komandan Romawi telah menyuruh beberapa orang anak buahnya untuk menggulingkan batu besar ke atas kepalanya sewaktu ia hendak pulang meninggalkan benteng itu, sementara segala sesuatu dipersiapkan, agar rencana tersebut dapat berjalan lancar dan menghasilkan apa yang dimaksud mereka ....
'Amr pun berangkat menemui komandan, tanpa sedikit pun menaruh curiga, dan setelah berunding mereka berpisahlah.
Tiba-tiba dalam perjalanannya ke luar benteng, terkilaslah olehnya di atas tembok, gerakan yang mencurigakan, hingga membangkitkan gerakan refleknya dengan amat cepatnya, dan dengan tangkas berhasil menghindarkan diri dengan cara yang mengagumkan ....
Dan sekarang ia kembali mendapatkan komandan benteng dengan langkah-langkah yang tepat dan tegap serta kesadaran tinggi yang tak pernah goyah, seolah-olah ia tak dapat dikejutkan oleh sesuatu pun dan tidak dapat dipengaruhi oleh rasa curiga Kemudian ia masuk ke dalam, lalu katanya kepada komandan: "timbul dalam hatiku suatu fikiran yang ingin kusampaikan kepada anda sekarang ini ..... Di pos komandoku sekarang ini sedang menunggu segolongan shahabat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam angkatan pertama masuk Islam, yang pendapat mereka biasa didengar oleh Amirul Mu'minin radhiyallahu 'anhu untuk mengambil sesuatu keputusan penting. Bahkan setiap mengirim tentara, mereka selalu diikutsertakan untuk mengawasi tindakan tentara dan langkah-langkah yang mereka ambil. Maka maksudku hendak membawa mereka ke sini agar dapat mendengar dari mulut anda apa yang telah kudengar, hingga mereka beroleh penjelasan yang sebaik-baiknya mengenai urusan kita ini ... !"
Komandan Romawi itu secara bersahaja maklum karena nasib mujurnya, 'Amr lolos dari lobang jarum, dengan sikap gembira ia menyetujui usul 'Amr radhiyallahu 'anhu, hingga bila 'Amr radhiyallahu 'anhu nanti kembali dengan sejumlah besar pimpinan dan panglima Islam pilihan, ia akan dapat menjebak mereka semua, daripada hanya 'Amr seorang Dan secara sembunyi-sembunyi hingga tidak diketahui oleh 'Amr, dipertahankannyalah untuk tidak mengganggu 'Amr dan menyiapkan kembali perangkap yang disediakan untuk panglima Islam tadi, guna menghabisi para pemimpin mereka yang utama ....
Lalu dilepasnya 'Amr dengan besar hati, dan disalaminya amat hangat sekali ..., disambut oleh ahli siasat dan tipu muslihat Arab itu dengan tertawa dalam hati ....
Dan di waktu subuh keesokan harinya, dengan memacu kudanya yang meringkik keras dengan nada bangga dan mengejek, 'Amr radhiyallahu 'anhu kembali memimpin tentaranya menuju benteng.
Memang, kuda itu merupakan suatu makhluq lain yang banyak mengetahui kelihaian dan kecerdikan tuannya ... !
Dan pada tahun ke-43 Hijrah, wafatlah 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu di Mesir, sewaktu ia menjadi gubernur di sana.... Di saat-saat kepergiannya itu, ia mengemukakan riwayat hidupnya, itu secara bersahaja maklum bahwa kepergiannya katanya: "Pada mulanya aku ini seorang kafir, dan orang yang amat keras sekali terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hingga seandainya aku meninggal pada saat itu, pastilah masuk neraka ... !
Kemudian aku bai'at kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka tak seorang pun di antara manusia yang lebih kucintai, dan lebih mulia dalam pandangan mataku, daripada beliau shallallahu 'alaihi wasallam Dan seandainya aku diminta untuk melukiskannya, maka aku tidak sanggup karena disebabkan hormatku kepadanya, aku tak kuasa menatapnya sepenuh mataku ... !
Maka seandainya aku meninggal pada saat itu, besar harapan akan menjadi penduduk surga Kemudian setelah itu, aku diberi ujian dengan beroleh kekuasaan begitupun dengan hal-hal lain. Aku tidak tahu, apakah ujian itu akan membawa keuntungan bagi diriku ataukah kerugian... !"
Lalu diangkatnya kepalanya ke arah langit dengan hati yang tunduk, sambil bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Pengasih, katanya: "Ya Allah, daku ini orang yang tak luput dari kesalahan, maka mohon dimaafkan Daku tak sunyi dari kelemahan, maka mohon diberi pertolongan... ! Sekiranya daku tidak beroleh rahmat karunia-Mu, pasti celakalah nasibku... !"
Demikianlah ia asyik dalam bermohon dan berhina diri hingga akhirnya ruhnya naik ke langit tinggi, di sisi Allah Rabbul- 'izzatl, sementara akhir ucapan penutup hayatnya, ialah : La ilaha illallah ....
Di pangkuan bumi Mesir, negeri yang diperkenalkannya dengan ajaran Islam itu, bersemayamlah tubuh kasamya....
Dan di atas tanahnya yang keras, majlisnya yang selama ini digunakannya untuk mengajar, mengadili dan mengendalikan pemerintahan, masih tegak berdiri melalui kurun waktu, dinaungi oleh atap mesjidnya yang telah berusia lanjut "Jami'u 'Amr", yakni mesjid yang mula pertama didirikan di Mesir, yang disebut di dalamnya asma Allah Yang Tunggal lagi Esa serta dikumandangkan ke setiap pojoknya dari atas mimbarnya kaiimat-kalimat Allah serta pokok-pokok Agama Islam ....
AMAR BI YASIR
Amar bin Yasir radhiallahu 'anhu
SEORANG TOKOH PENGHUNI SURGA
Seandainya ada orang yang dilahirkan di Surga, lain dibesarkan dalam haribaannya dan jadi dewasa, kemudian dibawa ke dunia untuk jadi hiasan dan nur cahaya, maka'Ammar bersama ibunya Sumayyah dan bapaknya Yasir, adalah beberapa orang di antara mereka....
Tetapi kenapa kita mengatakan tadi "seandainya", seolah-olah itu hanya pengandaian belaka, padahal keluarga Yasir benar-benar penduduk Surga? Ketika Rasululiah saw. bersabda:
"Shabar wahai keluarga Yasir, tempat yang telah dijanjikan bagi kalian adalah Surga!"
kata-kata itu diucapkannya bukanlah hanya sebagai hiburan belaka, tetapi benar-benar mengakui kenyataan yang diketahuinya dan menguatkan fakta yang dilihat dan disaksikannya ....
Yasir bin 'Amir yakni ayahanda 'Ammar, berangkat meninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya .... Rupanya ia berkenan dan merasa cocok tinggal di Mekah. Bermukimlah ia di sana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah ibnul Mughirah ....
Abu Hudzaifah mengawinkannya dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayyah binti Khayyath, dan dari perkawinan yang penuh berkah ini, kedua suami isteri itu dikaruniai seorang putera bernama 'Ammar....
Keislaman mereka• termasuk dalam golongan yang mula pertama, sebagai halnya orang shalih;yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan sebagai halnya orang-orang shalih yang termasuk dalam golongan yang mula pertama masuk Islam, mereka cukup menderita karena siksa dan kekejaman Quraisy ....
Orang-orang Quraisy menjalankan siasat terhadap Kaum Muslimin sesuai suasana. Seandainya mereka ini golongan bangsawan dan berpengaruh, mereka hadapi dengan ancaman dan gertakan. Abu Jahal orang yang menggertaknya dengan ungkapan: "Kamu berani meninggalkan agama nenek moyangmu padahal mereka lebih baik daripadamu ! Akan kami uji sampai di mana ketabahanmu, akan kami jatuhkan kehormatanmu, akan kami rusak perniagaanmu dan akan kami musnahkan harta bendamu!"
Dan setelah itu mereka lancarkan kepadanya perang urat syaraf yang amat sengit.
Dan sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Mekah yang rendah martabatnya dan yang miskin, atau dari golongan budak belian, maka mereka didera dan disulutnya dengan api bernyala.
Maka keluarga Yasir termasuk dalam golongan yang kedua ini .... Dan soal penyiksaan mereka, diserahkan kepada Bani Makhzum. Setiap hari Yasir, Sumayyah dan 'Ammar dibawa ke padang pasir Mekah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai adzab dan siksa!
Penderitaan dan pengalaman Sumayyah dari siksaan ini amat ngeri dan`menakutkan, tetapi tidak akan kita paparkan panjang lebar sekarang ini. Insya Allah pada kesempatan lain akan -kita ceritakan pengurbanan dan- keteguhan hati yang ditunjukkan oleh Sumayyah bersama shahabat-shahabat dan kawan-kawan seperjuangannya di hari-hari yang bersejarah itu ....
Cukuplah kita sebutkan sekarang tanpa berlebih-lebihan bahwa syahidah Sumayyah telah menunjukkan sikap dan pendirian tangguh, yang dari awal hingga akhirnya telah membuktikan kepada kemanusiaan suatu kemuliaan yang tak pernah hapus dan kehormatan yang pamornya tak pernah luntur. Suatu sikap yang telah menjadikannya seorang bunda kandung bagi orang-orang Mu'min di setiap zaman, dan. bagi para budiman di sepanjang masa ....
Rasulullah saw. tidak lupa mengunjungi tempat-tempat yang diketahuinya sebagai arena penyiksaan bagi keluarga Yasir. Ketika itu tidak suatu apa pun yang dimilikinya untuk menolak bahaya dan mempertahankan diri.'Dan rupanya demikian itu sudah menjadi kehendak Allah ....
Maka Agama baru, yakni Agama Nabi Ibrahim yang suci murni, suatu Agama yang hendak dikibarkan panji-panjinya oleh Muhammad saw, bukakiah suatu gerakan perubahan secara vertikal dan horizontal, tetapi merupakan suatu tata cara hidup bagi manusia beriman. Dan manusia beriman ini haruslah memiliki dan mewarisi bersama Agama itu secara lengkap dengan kepahlawanan, perjuangan dan pengurbanannya....
Pengurbanan-pengurbanan mulia yang dahsyat ini tak ubahnya dengan tumbal yang akan menjamin bagi Agama dan 'aqidah keteguhan yang takkan lapuk ... .! Ia juga.menjadi contoh teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggaan dan kasih sayang.... Ia adalah menara yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang untuk mencapai hakikat Agama, kebenaran dan kebesarannya....
Demikianlah, berlaku pula bagi Agama Islam, qurban dan pengurbanan ini. Makna ini telah dijelaskan oleh al-Quran kepada Kaum Muslimin bukan hanya pada satu atau dua ayat.
Firman Allah swt.:
Apakah manusia mengira bahwa mereha ahan dibiarkan mengatahan: "Kami telah beriman" padahal mereka belum lagi diuji?(Q.S. 29 al-'Ankabut:2)
Apakah halian mengira akan dapat masuh surga, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang di antara kalian, begitu pun orang-orang yang tabah ?(Q.S. 3 Ali Imran: 142)
Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah orang-orang Yang benar dan terbukti pula orang-orang yang dusta.(Q.S. 29 al-'ankabut: 3)
Apakah kalian mengira akan dibiarhan begitu saja, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang di antara kalian?(Q.S. 9 Attaubat: 16)
Allah tiada hendah membiarhan orang-orang beriman dalam Keadaan kalian sekarang ini, hingga dipisahhan-Nya mana-mana yang jelek daripada yang baik.(Q.S. 3 Ali Imran: 179)
Dan mushibah yang telah menimpa halian di saat berhadapannya dua pasukan, adalah dengan idzin Allah, yakni agar terbukti baginya orang-orang yang beriman!"(Q.S. 3 Ali Imran: 166)
Memang, demikianlah Al-Qur'an mendidik putera dan para pendukungnya bahwa pengurbanan merupakan esensi atau sari dari keimanan, dan bahwa kepahlawanan menghadapi kekejaman dan kekerasan dihadapi dengan keshabaran, keteguhan dan pantang mundur, hanyalah akan membentuk keutamaan iman yang cemerlang dan mengagumkan ....
Oleh sebab itu di kala sedang meletakkan dasarnya, memancangkan tiang-tiang dan mengemukakan model contohnya, hendaklah Agama Allah ini memperkukuh diri dengan pengurbanan jiwa dan memhersihkan jiwa dengan pengurbanan harta, maka terpilihlah untuk kepentingan mulia ini beberapa orang putera, para pemuka dan tokoh-tokoh utamanya untuk menjadi ikutan sempurna dan teladan istimewa bagi orang-orang beriman yang menyusul kemudian!
Maka Sumayyah ...,Yassir...,dan 'Ammar dari golongan luar biasa yang beroleh barkah ini, adalah pilihan dari taqdir, yang dengan pengurbanan, ketekunan dan keuletan mereka itu, dapat memateri kebesaran dan keabadian Islam secara kuat dan kukuh ....
Telah kita katakan tadi bahwa Rasulullah saw. tiap hari berkunjung ke tempat disiksanya keluarga Yasir, mengagumi ketabahan dan kepahlawanannya ...,sementara hatinya yang mulia bagaikan hancur karena santun dan belas kasihan menyaksikan mereka menerima siksa yang tak terderitakan lagi.
Pada suatu hari ketika Rasulullah saw. mengunjungi mereka, 'Ammar memanggilnya, katanya:
"WahaiRasulullah, adzab yang kami derita telah sampai ke puncak".
Maka seru Rasulullah saw.:
"Shabarlah, wahai Abal Yaqdhan ....
"Shabarlah, wahai heluarga Yasir ....
"Tempat yang dijanjikan bagi halian ialah Surga ... .!"
Siksaan yang diami oleh 'Ammar dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat. Berkata 'Amar bin Hakam:'Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tak menyadari apa yang diucapkannya"
Berkata pula 'Ammar bin Maimun:
"Orang-rang musyrik membakar 'Ammar bin Yasir dengan api. Maka Rasulullah saw. lewat di tempatnya lain memegang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda:
"Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh 'Ammar, sebagaimana dulu hamu juga sejuk dingin di tubuh Ibrahim...!"
Bagaimanapun juga, semua bencana itu tidaklah dapat menekan jiwa 'Ammar, walau telah menekan punggung dan menguras tenaganya. Ia baru merasa dirinya benar-benar celaka, ketika pada suatu hari tukang-tukang cambuk dan para penderanya menghabiskan segala daya upaya dalam melampiaskan kedhaliman dan kekejannya...., semenjak hukuman bakar dengan besi panas, sampai disalib di atas pasir panas dengan ditindih batu laksana bara merah, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka.
Pada hari itu, ketika ia telah tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu mengatakan kepadanya: "Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami!", lain diajarkan mereka kepadanya kata-kata pujaan itu, sementara ia mengikutinya tanpa menyadari apa yang diucapkannya.
Ketika ia siuman sebentar akibat dihentikannya siksaan, tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkannya ...,maka hilanglah akalnya dan terbayanglah di ruang matanya betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi ...,hingga beberapa saat dirasakannya siksaan orang-orang musyrik terhadap dirinya sebagai obat pembalur luka dan suatu keni'matan juga ....!
Dan seandainya ia dibiarkan dalam perasaan itu agak beberapa jam saja, tak dapat tiada tentulah akan membawa ajalnya ...
'Ammar dapat bertahan menanggungkan semua siksa yang ditimpakan atas tubuhnya, ialah karena jiwanya sedang berada pada kondisi puncak. Tetapi sekarang ini, demi disangkanya jiwanya telah menyerah kalah, maka dukacita dan sesal kecewa hampir saja menghabiskan tenaga dan melenyapkan nyawanya ....
Tetapi iradat Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah memutuskan agar peristiwa yang' mengharukan itu mencapai titik kesudahan yang amat luhur... Dan tangan wahyu yang penuh berkah itu pun terulurlah menjabat tangan'Ammar, sambil menyampaikan ucapan selamat kepadanya: "Bangunlah hai pahlawan .. • •! Tak ada sesalan atasmu dan tak ada cacat"
Ketika Rasulullah saw. menemui shahabatnya itu didapatinya ia sedang menangis, maka disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau seraya sabdanya:
"Orang-orang hafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu …?"
"Benar': wahai RasuIullah': ujar 'Ammar sambil meratap.
Maha sabda Rasulullah sambil tersenyum: "Jika mereka memaksaimu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi ....!"
Lalu dibacakan Rasulullah kepadanya ayat mulia berikut ini:
Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan ...(Q.S. 16 an-Nahl: 106)
Kembalilah 'Ammar diliputi oleh ketenangan dan dera yang menimpa tubuhnya: bertubi-tubi tidak terasa sakit lagi, dan apa juga yang akan terjadi, terjadilah dan ia tidak akan peduli. Jiwanya berbahagia, keimanannya di fihak yang menang! Ucapannya yang dikeluarkan secara terpaksa itu dijamin bebas oleh al-Quran, maka apa lagi yang akan dirisaukannya….?
'Ammar menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahan luar biasa, hingga pendera-penderanya merasa lelah dan menjadi lemah, dan bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang maha kukuh ....!
Setelah pindahnya Rasulullah saw. ke Medinah, Kaum Muslimin tinggal bersama beliau bermukim di sana, secepatnya masyarakat Islam terbentuk dan menyempurnakan barisannya.
Maka di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman ini 'Ammar pun mendapatkan kedudukan yang tinggi Rasulullah saw. amat sayang kepadanya, dan beliau sering membanggakan keimanan dan ketaqwaan 'Ammar kepada para shahabat.
Bersabda Rasulullah saw:
"Diri 'Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya…..!"
Dan sewaktu terjadi selisih faham antara Khalid bin Walid dengan 'Ammar, Rasulullah saw. bersabda:
"Siapa yang memusuhi 'Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah, dan siapa yang membenci 'Ammar, maka ia akan dibenci Allah! "
Maka tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid pahlawan Islam itu selain segera mendatangi 'Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta ma'af ....!
Suatu peristiwa terjadi pula ketika Rasulullah saw. bersama para shahabat mendirikan mesjid di Madinah, yakni tiada lama setelah kepindahannya ke sana. Imam Ali karamallahu wajhah menggubah sebuah bait sya'ir yang didendangkan berulang-ulang diikuti oleh Kaum Muslimin yang sedang bekerja itu, dan baitnya adalah sebagai beribut:
"Orang yang memakmurkan mesjid nilainya tidak sama....
Sibuk bekerja sambil duduk di sini berdiri di sana ....
Sedang pemalas lari menghindar tertidur di sana…."
Kebetulan waktu itu 'Ammar sedang bekerja di salah satu sisi bangunan. Ia juga turut berdendang, mengulang-ulangnya dengan nada tinggi .... Salah seorang kawan menyangka bahwa 'Ammar bermaksud dengan nyanyian itu hendak menonjolkan dirinya, hingga di antara mereka terjadi pertengkaran dan keluar kata-kata yang menunjukkan kemarahan. Mendengar itu Rasulullah murka, sabdanya:
"Apa mahsud mereka terhadap 'Ammar ....?
Diserunya mereka ke Surga, tapi mereka hendak mengajaknya ke neraha ....!
Sungguh, 'Ammar adalah biji matahu sendiri... .!"
Jika Rasulullah saw. telah menyatakan kesayangannya terhadap seorang Muslim demikian rupa, pastilah keimanan orang itu, kecintaan dan jasanya terhadap Islam, kebesaran jiwa dan ketulusan hati serta keluhuran budinya telah mencapai batas dan puncak kesempurnaan…..!
Demikian halnya 'Ammar ....!
Berkat ni'mat dan petunjuk-Nya, Allah telah memberikan kepada 'Ammar ganjaran setimpal, dan menilai takaran kebaikannya secara penuh. Hingga disebabkan tingkatan petunjuk dan keyakinan yang telah dicapainya, maka Rasulullah menyatakan kesucian imannya dan mengangkat dirinya sebagai contoh teladan bagi para shahabat, sabdanya:
"Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti Abu Bakar dan Umar dan ambillah pula hidayah yang dipakai 'Ammar untuk Jadi bimbingan!"
Mengenai perawakannya, para ahli riwayat melukiskannya sebagai berikut:
Ia adalah seorang yang bertubuh tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya yang biru ...,seorang yang amat pendiam dan tak suka banyak bicara ....
Nah, bagaimanakah kiranya garis kehidupan raksasa pendiam yang bermata biru dan berdada lebar, serta tubuhnya penuh dengan bekas-bekas siksaan kejam, dan di waktu yang bersamaan jiwanya telah ditempa dengan ketabahan yang amat mengagumkan dan kebesaran yang luar biasa ... ? Bagaimanakah jalan kehidupan yang ditempuh oleh pengikut yang jujur dan Mu'min yang tulus serta pejuang yang berani mati ini .:..; ?
Sungguh telah diterjuninya bersama Rasulullah sebagai gurunya semua perjuangan bersenjata, baik.Badar, Uhud, Khandaq, Tabuk ... pendeknya semua tanpa keculali .... Dan tatkala Rasulullah telah mendahuluinya ke ar Rafiqul A'la, maka raksasa ini tidaklah berhenti, tetapi melanjutkan perjuangannya terus-menerus ....
Di kala Kaum Muslimin berhadap-hadapan dengan kaum Persi dan Romawi, begitu juga ketika menghadapi pasukan kaum murtad,'Ammar selalu berada di barisan pertama ..., sebagai seorang prajurit yang gagah perkasa dengan tebasan pedangnya yang tak pernah meleset, ia sebagai seorang Mu'min yang shalih dan mulia tidak satu pun yang dapat menghalanginya dalam mencapai ridla Allah.
Dan tatkala Amirul Mu'minin Umar memilih calon-calon wail negeri secara cermat dan hati-hati bagi Kaum Muslimin, maka matanya tetap tertuju dan tak hendak beralih dari 'Ammar bin Yasir .... Ia segera menemuinya dan mengangkatnya sebagai wali negeri Kufah dengan Ibnu Mas'ud sebagai •Bendaharanya.
Dan kepada penduduknya Umar menulis sepucuk surat berita gembira dengan diangkatnya wali negeri baru itu, katanya:
"Saya kirim kepada tuan-tuan 'Ammar bin Yasir sebagai 'Amir, dan Ibnu Mas'ud sebagai Bendahara dan Wazir ....Kedua mereka adalah orang-orang pilihan, dari golongan shahabat Muhammad saw., dan termasuk pahlawan-pahlawan Badar... .!"
Dalam melaksanakan pemerintahan,'Ammar melakukan suatu sistim yang rupanya tidak dapat diikuti oleh ouang-orang yang rakus akan dunia, hingga mereka mengadakan atau hampir mengadakan persekongkolan terhadap dirinya . • • • Pangkat dan jabatannya itu tidak menambah kecuali keshalihan, zuhud dan kerendahan hatinya. Salah seorang yang hidup semasa dengannya di Kufah, yaitu Ibnu Abil Hudzail, bercerita:
"Saya lihat 'Ammar bin Yasir sewaktu menjadi 'Amir di Kufah, membeli Sayuran di pasar lain mengikatnya dengan tail dan memikulnya di atas punggung, dan membawanya pulang….".
Dan salah seorang awam berkata kepadanya sewaktu ia menjadi Amir di Kufah itu: "Hai yang telinganya terpotong!", menghinanya dengan telinganya yang putus ketika menghadapi orang-orang murtad di pertempuran Yamamah. Tetapi jawaban amir yang memegang tampuk kekuasaan itu tidak lebih dari:
"Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik ... •
Karena ia ditimpa kecelakaan waktu perang fi sabilillah
Memang, telinganya itu putus dalam perang sabil di Yamamah • . .,yakni salah satu diantara hari-hari gemilang bagi 'Ammar….Raksasa ini maju bagaikan angin topan dan menyerbu barisan tentara Musailamatul Kadzab sehingga melumpuhkan kekuatan musuh ... •
Ketika dilihatnya gerakan Muslimin mengendor segera dibangkitkannya semangat mereka dengan seruannya yang gemuruh, hingga mereka kembali maju menerjang bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya • • • •
Abdullah bin Umar r.a. menceritakan peristiwa itu sebagai berikut :
'Waktu perang Yamamah saya lihat 'Ammar sedang berada di atas sebuah batu karang. Ia berdiri sambil berseru: "Hai Kaum Muslimin, apakah tuan-tuan hendak lari dari Surga ...? Inilah saya 'Ammar bin Yasir, kemarilah tuan-tuan…..!
Ketika saya melihat dan memperhatikannya, kiranya sebelah telinganya telah putus beruntai-untai, sedang ia berperang dengan amat sengitnya ...!
Wahai, barang siapa yang masih meragukan kebesaran Muhammad saw., seorang Rasul yang benar dan guru yang sempurna, baiklah ia berdiri sejenak di hadapan contoh-contoh yang telah ditunjukkan oleh para pengikut dan shahabatnya, lalu bertanya kepada dirinya: "Siapakah yang akan mampu mengemukakan teladan dan contoh luhur ini kalau bukan seorang Rasul mulia dan maha guru utama?"
Jika mereka menerjuni suatu perjuangan di jalan Allah, pastilah mereka akan maju ke depan bagaikan orang yang hendak mencari maut dan bukan merebut kemenangan ....!
Jika mereka para khalifah dan hakim-hakim pengadilan, maka mereka takkan keberatan memerahkan susu untuk wanita janda tua atau mengadon tepung roti untuk anak-anak yatim, sebagai dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar.
Dan jika mereka para pembesar, maka mereka takkan main dan merasa segan untuk memikul makanan yang diikat dengan tali di atas punggung mereka, seperti kita saksikan pada 'Ammar; atau menyerahkan gaji yang menjadi haknya lalu pergi menjalin daun kurma untuk kantong atau bakul sebagai yang diperbuat oleh Salman....!
Wahai, marilah kita tekurkan kening dan tundukkan kepala kita, sebagai ta'dhim dan penghormatan kepada Agama yang telah mengajari mereka semua, dan kepada Rasulullah yang telah mendidik mereka....dan sebelum Agama sertaRasulullah itu, terutama kepada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung, yang telah memilih mereka untuk semua ini, serta menjadikan mereka sebagai pelopor dan sebaik-baik ummat yang pernah dilahirkan sebagai teladan bagi seluruh manusia ....
Ketika itu Hudzaifah ibnul Yaman seorang yang ahli tentang bahasa rahasia dan bisikan ghaib, sedang berkemas-kemas menghadapi panggilan Ilahi menghadapi sekarat mautnya. Kawan-kawannya yang sedang berkumpul sekelilingnya menanyakan kepadanya: "Siapakah yang harus kami ikuti menurutmu, jika terjadi pertikaian di antara ummat ...?" Sambil mengucapkan kata-katanya yang akhir, Hudzaifah menjawab:
"Ikutilah oleh kalian Ibnu Sumayyah, kauena sampai matinya ia tak hendak berpisah dengan kebenaran .. !"
Benar, 'Ammar akan tetap mengikuti kebenaran itu ke mana saja perginya .... Dan sekarang sementaua kita menyelusuri jejak langkahnya, dan-menyelidiki peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupannya, marilah kita pergi menghampiri suatu peristiwa besar .... ! Hanya sebelum kita memperhatikan kejadian yang mempesona dan amat mengharukan itu, baik tentang keutamaan dan kesempurnaannya, tentang kemampuan dan keunggulannya, maupun tentang kegigihan dan kesungguhannya.
Marilah kita perhatikan lebih dulu suatu peristiwa lain yang terjadi sebelumnya, ialah ungkapan Rasulullah melagenai peristiwa yang akan menimpa 'Ammar di kemudian hari!
Hal itu terjadi tidak lama setelah menetapnya Kaum Muslimin di Madinah. Dan Rasul al-amin yang dibantu oleh shahabat-shahabatnya yang budiman sibuk dalam membaktikan diri kepada Rabb mereka, membina rumah dan mendirikan mesjid-Nya.
Hati yang beriman dipenuhi kegembiraan dan sinar harapan menyampaikan puji dan syukur kepada Allah.... !
Semuanya bekerja dengan riang gembira ...,mengangkut batu, mengaduk pasir dengan kapur atau mendirikan tembok, sekelompok di sini dan sekelompok lagi di sana, sedang cakrawala bahagia bergema dipenuhi nyanyian mereka yang dikumandangkan dengan suara merdu dan seronok:
"Andainya kita duduk-duduk berpangku tangan, sedang Nabi sibuk bekerja tak pernah diam ....
Maka perbuatan kita adalah perbuatan sesat lagi menyesatkan....!"
Demikian mereka bernyanyi dan berdendang. Lain alunan suara mereka menyanyikan lagu lainnya:
"Ya Allah, hidup bahagia adalah hidup di akhirat Berilah rahmat Kaum Anshar dan Kaum Muhajirat
Dan setelah itu terdengar pula lagu ketiga:
"Apakah akan sama nilainya... ?
Orang yang bekerja membina masjid Sibuk bekerja, baik berdiri maupun duduk
Dengan yang menyingkir berpangku tangan .... ?"
Tak ubahnya mereka bagai anai-anai yangsedang sibuk bekerja, bahkan mereka adalah balatentara Allah yang memanggul bendera-Nya dan membina bangunan-Nya.
Sementara Rasulullah yang budiman lagi terpercaya tak hendak terpisah dari mereka, mengangkat batu yang paling berat dan melakukan pekerjaan yang paling sukar .... dan alunan suara mereka yang sedang berdendang melukiskan kegembiraan yang tulus dan hati yang pasrah ...,sedang langit tempat mereka bernaung berbangga diri terhadap bumi tempat mereka berpijak ..., pendeknya kehidupan yang penuh gairah sedang menyelenggarakan pesta pora yang paling meriah ....
Maka di tengah-tengah khalayak ramai yang sedang hilir mudik itu, kelihatanlah 'Ammar bin Yasir sedang mengangkat batu besar dari tempat pengambilannya ke perletakannya.
Tiba-tiba "rahmat kurnia Allah" yakni Muhammad Rasulullah melihatnya, dan rasa santun belas kasihan telah membawa beliau mendekatinya, dan setelah berhampiran maka tangan beliau yang penuh barkah itu mengipaskan debu yang menutupi kepala 'Ammar lain dengan pandangan yang dipenuhi nur ilahi diamat-amati wajah yang beriman diliputi ketenangan itu, kemudian bersabda di hadapan semua shahabatnya:
"Aduhai Ibnu Sumayyah, ia dibunuh oleh golongan pendurhaka ....!"
Ramalan ini diulangi oleh Rasulullah sekali lagi...,kebetulan bertepatan dengan ambruknya dinding di atas tempat 'Ammar bekerja, hingga sebagian kawannya menyangka bahwa ia tewas yang menyebabkan Rasulullah meratapi kematiannya itu. Para shahabat sama terkejut dan menjadi ribut karenanya, tetapi dengan nada menenangkan dan penuh kepastian, Rasulullah menjelaskan:
"Tidak,'Ammar tidak apa-apa, hanya nanti ia akan dibunuh oleh golongan pendurhaha !"
Maka wahai, siapakah kiranya yang dimaksud dengan golongan tersebut ....
Dan bilakah serta di manakah terjadinya peristiwa itu .... ?
'Ammar mendengarkan ramalan itu dan meyakini kebenaran pandangan tembus yang disingkapkan oleh Rasul yang utama. Tetapi ia tidak merasa gentar, karena semenjak menganut Islam ia telah dicalonkan untuk menghadapi maut dan mati syahid di setiap detik baiksiang maupun malam ....
Dan hari-hari pun berlalu ...,tahun demi tahun silih berganti. Rasulullah saw. telah kembali ke tempat tertinggi..., disusul oleh Abu Bakar ke tempat ridla Ilahi ...,lalu berangkatlah pula Umar pergi mengiringi .... Setelah itu khilafat dipegang oleh Dzun Nurain Utsman bin 'Affan ....
Sementara itu musuh-musuh Islam yang bergerak di bawah tanah, berusaha menebus kekalahannya di medan tempur dengan jalan menyebarluaskan fitnah ....
Terbunuhnya Umar merupakan hasil pertama yang dicapai oleh gerakan atau subversi ini, yang gerakannya merembes ke Madinah tak ubahnya bagai angin panas, dan bergerak dari negeri yang kerajaan dan singgasananya telah dibebaskan oleh ummat Islam ….
Berhasilnya usaha mereka terhadap Umar membangkitkan minat dan semangat mereka untuk melarnjutkannya, mereka sebarkan fitnah dan nyalakan apinya di sebagian besar negeri-negeri Islam. Dan mungkin Utsman r.a. tidak memberikan perhatian khusus terhadap masalah ini hingga terjadilah pula peristiwa yang menyebabkan syahidnya Utsman dan terbukanya pintu fitnah yang melanda Kaum Muslimin....
Mu'awiyah * bangkit hendak merebut jabatan khalifah dari tangan khalifah Ali karamallahu wajhah yang baru diangkat
*) Hampir setiap riwayat hidup para shahabat Rasulullah yang berusia lanjut yang dipaparkan dalam buku ini ada sangkut pautnya dengan Muawiyah. Oleh karena itu perlu diungkapkan serba singkat mengenai riwayat hidupnya.
Muawiyah dilahirkan dari keluarga hartawan dan pedagang besar yang menguasai perekonomian hampir seluruh semenanjung Arabia. Ayahnya bernama Shakhr bin dan dibai'at. Dan pendirian shahabat pun bermacam-macam, ada yang menghindar dan mengunci diri di rumahnya, dengan Harb, yang sehari-harinya disebut Abu Sufyan. Abu Sufyan inilah yang menjadi panglima besar kafir Quraisy pada perang Uhud, Khandaq dan pemimpin pemerintahan sampai Mekah dibebaskan oleh Rasuiullah.
Ibunya bernama Hindun bin Utbah, seorang wanita lincah, cekatan yang mempunyai andil besar dalam membantu suami di perang Uhud. Pada waktu perang Badar, Hindun kehilangan ayah, paman, saudara dan puteranya. Untuk menuntut bela terhadap keluarganya itu, ia mengupah Wahsyi sebagai pembunuh bayaran untuk membunuh dan mengambil jantung Hamzah paman Nabi dan syahid agung untuk dimakannya mentah-mentah. Usaha menuntut bela ini dapat dicapainya. Setelah Mekah dibebaskan, bersamaan dengan ayahnya ia pun masuk Islam.
Setelah masuk Islam, ia menjadi salah seorang sekretaris Rasulullah saw. Ia pun ikut perang Hunain dan dengan gagah berani memperlihatkan keperwiraannya sebagai seorang putera bekas panglima dan mendapat pembagian rampasan perang bersama ayahnya melebihi yang lain karena keduanya masih muallaf (orang yang barn masuk Islam, yang mendapat jaminan hidup lebih dari orang yang sudah betul-betul beriman, supaya tidak murtad lagi).
Di zaman Khilafah Abubakar r.a., ia ikut bertempur melawan Romawi di Syam (Damsyiq) di bawah pimpinan kakaknya Yazid bin Abi Sofyan. Ketika Yazid wafat, Muawiyah mengambil alih pimpinan pemerintahan dan kemudian oleh Khalifah Abubakar r.a. ditetapkan, menjadi wall negeri Syam sebagai pengganti kakaknya itu.
Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khatthab r.a., ia masih menjadi wali negeri Damsyiq. Ketika Khalifah Umar r.a. meninjau Syam, beliau mendapatkan Muawiyah di Istananya yang sangat mewah; Umar berkata: "INI ADALAH KISRA (KAISAR) ARAB"!! Tidak lama setelah itu, karena berbagai alasan, Umar memberhentikan dari jabatannya dan Said bin Amir pelopor hidup sederhana menggantikan Muawiyah.
Pada masa Khalifah Utsman, Muawiyah diangkat kembali menjadi wall negeri seluruh Syria, termasuk Palestina. Banyak pengaduan rakyat kepada Khalifah Utsman tentang tindakan wall negeri ini, termasuk keberandalan puteranya. Akan tetapi sebagian besar surat pengaduan itu tidak disampaikan kepada Khalifah oleh sekretaris beliau yang bernama Marwam (saudara sepupu Muawiyah). Atas pengkhianatan Marwam initah timbulnya pemberontakan dan terbunuhnya Khalifah Utsman.
Muawiyah adalah seorang jenius, pintar dan cerdik, politisi dan panglima perang. la mampu menggunakan kekuasaan dan harta negara dalam mencari kawan dan merangkul bawahan.
Ia wafat pada tahun 60 hijrah dalam usia 78 tahun. Semoga Allah menerima amal baktinya.
Demikianiah sekelumit riwayat hidup Muawiyah yang serba singkat (Ed, Pen).
SumberBacaan :Ibnu Hajar al-hsqalani: Tahdzib Attahdzib Jilid 10. Dar Shadar, Beirut, 1968.
Izuddin bin al-atsir: Usdul Ghabah P Ma 'rifatis Shahabah, As-Syu'b, Mesir, 1970.
Izuddin bin al-Atsir: AI-Kamil fil Tarikh, Dar Shadar, Beirut, 1965.
Khalid Muhammad Khalid: Ar-Rijal Haulal Raslll, Darul Kutub al-Arabiah, Beirut, 1973.
mengambil ucapan Ibnu Umar sebagai semboyannya:
"Siapa yang menyerukan marilah shalat, saya penuhi ....
Dan siapa yang mengatakan: marilah mencapai bahagia, sayaturuti....
Tetapi yang mengatakan: marilah bunuh saudaramu yang Muslimin dan marilah rampas harta bendanya, maka saya jawab: tidlak....!"
Di antara mereka ada yang berpihak kepada Mu'awiyah. Dan ada pula yang berdiri mendampingi Ali, membai'at dan pengangkatannya sebagai khalifahKaum Muslimin ....
Dan tahukah anda di pihak mana 'Ammar berdiri waktu itu?
Di pihak siapakah berdirinya laki-laki yang mengenai dirinya Rasulullah saw. pernah bersabda:
"Dan ambillah olehmu petunjuk yang dipakai oleh 'Ammar sebagai bimbingan.... !"
Dan bagaimanakah pendirian orang yang mengenai dirinya Rasulu!lah saw. pernah pula bersabda:
"Barangsiapa yang memusuhi 'Ammar, maka ia akan dimusuhi oleh Allah .... !"
Dan orang yang bila suaranya kedengaran mendekat ke rumah Rasulullah, maka beliau segera menyambut dengan sabdanya: "Selamat datang bagi orang baik dan diterima baik idzinkanlah ia masuk .... !"
Ia berdiri di samping Ali bin Abi Thalib, bukan karena fanatik atau berpihak, tetapi karena tunduk kepada kebenaran dan teguh memegang janji! Ali adalah Khalifah Kaum muslimin, dan berhak menerima bai'at sebagai pemimpin ummat. Dan khilafat itu diterinmanya, karena memang ia berhak untuk itu dan lavak untuk menjabatnya .
Baik sebelum maupun sesudah ini, Ali memiliki keutamaan-keutamaan yang menjadikan bedudukannya di samping Rasulullah tak ubah bagai kedudukan Harun di samping Musa ....
Dengan cahaya pandangan ruhani dan ketulusannya,'Ammar yang selalu mengikuti kebenaran ke mana juga perginya, dapat mengetahui pemilik hak satu-satunya dalam perselisihan ini.
Dan menurut keyakinannya, tak seorang pun berhak atas hal ini dewasa itu selain Imam Ali, oleh sebab itulah ia berdiri di sampingnya ....
Dan Ali r.a. sendiri merasa gembira atas sokongan yang diberikannya itu, mungkin tak ada kegembiraan yang lebih besar daripada itu, hingga keyakinannya bahwa ia berada di pihak yang benar kian bertambah, yakni selama tokoh utama pencinta kebenaran 'Ammar datang kepadanya dan berdiri di sisinya ....
Kemudian datanglah saat perang Shiffin yang mengerikan itu. Imam Ali menghadapi pekerjaan penting ini sebagai tugas memadamkan pembangkangan dan pemberontakan. Dan 'Ammar ikut bersamanya. Waktu itu usianya telah 93 tahun .
Apa dalam usia 93 tahun ia masih pergi ke medan juang .... ?
Benar ...,selama menurut keyakinannya peperangan itu menjadi tugas kewajibannya .... ! Bahkan ia melakukannya lebih semangat dan dahsyat dari yang dilakukan oleh orang-orang muda berusia 30 tahun ....
Tokoh yang pendiam dan jarang bicara ini hampir saja tidak menggerakkan kedua bibirnya, kecuali mengucapkan kata-kata mohon perlindungan berikut:
"Aku berlindung kepada Allah dari fitnah ....
Aku berlindung kepada Allah dari fitnah ....".
Tak lama setelah Rasulullah wafat, kata-kata ini merupakan do'a yang tak putus lekang dari bibirnya. Dan setiap hari berlalu setiap itu pula ia memperbanyak do'a dan mohon perlindungannya itu ..., seolah-olah hatinya yang suci merasakan bahaya mengancam yang semakin dekat dan menghampir juga.
Dan tatkala bahaya itu tiba dan fitnah merajalela, Ibnu Sumayyah telah mengerti di mana ia harus berdiri. Maka di hari perang Shiffin walaupun sebagai telah kita katakan usianya telah 93 tahun, ia bangkit menghunus pedangnya, demi membela kebenaran yang menurut keimanannya harus dipertahankan.
Pandangan terhadap pertempuran ini telah dima'lumkannya dalam kata-kata sebagai berikut:
"Hai ummat manusia!
Marilah kita berangkat menuju gerombolan yang mengaku-ngaku hndak menuntutkan bela Utsman!
Demi Allah! Maksud mereka bukanlah hendak menuntutkan belanya itu, tetapi sebenarnya mereka telah merasakan manisnya dunia dan telah ketagihan terhadapnya, dan mereka mengetahui bahwa kebenaran itu menjadi penghalang bagi pelampiasan nafsu serakah mereka. Mereka bukan yang berlomba dan tidak termasuk barisan pendahulu memeluk Agama. Islam. Argumentasi apa sehingga mereka merasa berhak untuk ditaati oleh Kaum Muslimin dan diangkat sebagai pemimpin, dan tidak pula dijumpai dalam hati mereka perasaan takut kepada Allah, yang akan mendorong mereka untuk mengikuti kebenaran .... !
Mereka telah menipu orang banyak dengan mengakui hendak menuntutkan bela kematian Utsman, padahal tujuan mereka yang sesungguhnya ialah hendak menjadi raja dan penguasa adikara... .!"
Kemudian diambilnya bendera dengan tangannya, lain dikibarkannya tinggi-tinggi di atas kepala sambil berseru:
"Demi Dzat yang menguasai nyawaku .... ! Saya telah bertempur dengan mengibarkan bendera ini bersama Rasulullah saw., dan inilah aku siap berperang pula dengan mengibarkannya sekarang ini ..... !
Demi nyawa saya berada dalam tangan-Nya .... !
Seandainya mereka menggempur dan menyerbu hingga berhasil mencapai kubu pertahanan kita, saya tahu pasti bahwa kita berada di pihak yang haq, dan bahwa mereka di pihak yang bathil ....!"
Orang-orang mengikuti 'Ammar, mereka percaya kebenaran ucapannya.
Berkatalah Abu Abdirrahman Sullami:
"Kami ikut serta dengan Ali r.a. di pertempuran Shiffin, maka saya lihat 'Ammar bin Yasir r.a. setiap ia menyerbu ke sesuatu jurusan, atau turun ke sesuatu lembah, para shahabat Rasulullah pun mengikutinya, tak ubahnya ia bagai panji-panji bagi mereka ....!"
Dan mengenai ',Ammar sendiri, sementara ia menerjang dan menyusup ke medan juang, ia yakin akan menjadi salah seorang syuhadanya.... Ramalan Rasulullah saw terang terpampang di ruang matanya dengan huruf-huruf besar:
"Ammar ahan dibunuh oleh golongan pendurhaha ...':
Oleh sebab itu suaranya bergema di serata arena dengan senandung ini:
"Hari ini daku akan berjumpa dengan para kekasih tercinta .... Muhammad dan para shahabatnya .... !"
Kemudian bagai sebuah peluru dahsyat ia menyerbu ke arah Mu'awiyah dan orang-orang sekeliiingnya dari golongan Bani Umayyah, lalu melepaskan seruannya yang nyaring yang menggetarkan:
"Dulu kami hantam kalian di saat diturunkannya.
Kini kami hantam lagi kalian karena menyelewengkannya
Tebasan maut menghentikan niat jahat
Dan memisahkan kawanan pengkhianat
Atau al-Had berjalan kembali pada relnya"
Maksudnya dengan sya'irnya itu, bahwa para shahabat yang terdahulu dan 'Ammar termasuk salah seorang di antara mereka. Dulu telah memerangi golongan Bani Umayyah yang dikepalai oleh Abu Sufyan ayah Muawiyah pemanggul panji-panji syirik dan pemimpin tentara musyrikin .... Mereka perangi orang-orang itu karena secara terus terang al-Quran menitahkannya disebabkan mereka adalah orang-orang musyrik.
Dan sekarang di bawah pimpinan Muawiyah, walaupun mereka telah menganut Islam dan meskipun al-Quranul Karim tidak menitahkan secara tegas memerangi mereka, tetapi menurut ijtihad 'Ammar dalam penyelidikannya mengenai kebenaran dan pengertiannya terhadap maksud dan tujuan al-Quran, meyakinkan dirinya akan kehausan memerangi mereka, sampai barang haq yang ditumpas itu kembali kepada pemiliknya, serta api fitnah dan pemberontakan itu dapat dipadamkan untuk selama-lamanya ....
Juga maksudnya, bahwa dulu mereka memerangi orang-orang Bani Umayyah karena mereka kafir kepada Agama dan kafir kepada al-Quran .... Dan sekarang meueka menggempur orang-orang itu karena mereka menyelewengkan Agama dan menyimpang dari ajaran al-Quranul Karim serta mengacaukan ta'wil dan salah menafsirkannya, dan mencoba hendak menyesuaikan tujuan ayat-ayatnya dengan kemauan dan keinginan mereka pribadi.... !
Maka tokoh tua yang berusia 93 tahun ini menerjuni akhir perjuangan hidupnya yang menonjol dengan gagah berani. Dan sebelum ia berangkat ke rafiqul A'la, ia tanamkan pendidikan terakhir tentang keteguhan hati membela kebenaran, dan ditinggalkannya sebagai contoh teladan perjuangannya yang besar dan mulia lagi berkesan dan mendalam ....
Orang-orang dari pihak Mu'awiyah mencoba sekuat daya untuk menghindari 'Ammar, agar pedang mereka tidak menyebabkan kematiannya hingga ternyata bagi manusia bahwa merekalah "golongan pendurhaka".
Tetapi keperwiraan 'Ammar yang berjuang seolah-olah ia satu pasukan tentara juga, menghilangkan pertimbangan dan akal sehat mereka. Maka sebagian dari anak buah Mu'awiyah mengintai-ngintai kesempatan untuk menewaskannya, hingga setelah kesempatan itu terbuka mereka laksanakanlah dan tewaslah 'Ammar di tangan tentara Mu'awiyah ......
Sebagian besar dari tentara Mu'awiyah terdiri dari orang-orang yang barn saja masuk Agama Islam, yakni orang-orang yang menganutnya tidak lama setelah bertalu-talunya genderang kemenangan terhadap kebanyakan negeri yang dibebaskan Islam, balk dari kekuasaan Romawi maupun dari penjajahan Persi.
Maka mereka inilah sebenarya yang menjadi biang keladi dan menyalakan api peuang saudara yang dimulai oleh pembangkangan Mu'awiyah dan penolakannya untuk mengakui Ali sebagai Khalifah dan Imam .... ! Jadi mereka inilah yang bagaikan kayu bakar menyalakan apinya hingga jadi besar dan menggejolak.
Dan bagaimana juga gawatnya pertikaian ini, sedianya akan dapat diselesaikan dengan jalan damai andainya masih terpegang dalam tangan Muslimin pertama. Tetapi demi bentuknya jadi meruncing, ia jatuh ke dalam tokoh-tokoh kotor yang tidak peduli akan nasib Islam hingga api kian menyala dan tambah berkobar....
Berita tewasnya 'Ammar segera tersebar dan ramalan Rasulullah saw. yang didengar oleh semua shahabatnya sewaktu mereka sedang membina masjid di Madinah di masa yang telah jauh sebelumnya, berpindah dari mulut ke mulut:
"Aduhai Ibnu Sumayyah ...,ia dibunuh oleh golongan pendurhaka!"
Maka sekarang tahulah orang-orang siapa kiranya golongan pendurhaka itu ..., yaitu golongan yang membunuh 'Ammar ..., yang tidak lain dari pihak Mu'awiyah .... !
Dengan kenyataan ini semangat dan kepercayaan pengikut-pengikut Ali kian bertambah. Sementara di pihak Mu'awiyah, keraguan mulai menyusup ke dalam hati mereka, bahkan sebagian telah bersedia-sedia hendak memisahkan diri dan bergabung ke pihak Ali ....
Mengenai Mu'awiyah, demi mendengar peristiwa yang telah terjadi ia segera keluar mendapatkan orang banyak dan menyatakan kepada mereka bahwa ramalan itu benar adanya, dan Rasulullah benar-benar telah meuamalkan bahwa 'Ammar akan dibunuh oleh golongan pemberontak .... Tetapi siapakah yang telah membunuhnya itu .... ? Kepada orang-orang sekeliling diserukannya: "Yang telah membunuh 'Ammar ialah orang-orang yang keluar bersama dari rumahnya dan membawanya pergi berperang ....!"
Maka tertipulah dengan ta'wil yang dicari-cari ini orang-orang yang memendam maksud tertentu dalam hatinya, sementara pertempuran kembali berkobar sampai saat yang telah ditentukan ....
Adapun 'Ammar, ia dipangku oleh Imam Ali ke tempat ia menshalatkannya bersama Kaum Muslimin, lalu dimakamkan dengan pakaiannya! Benar, dengan pakaian yang dilumuri oleh darahnya yang bersih suci! Karena tidak satu pun dari sutera atau beludru dunia yang layak untuk menjadi kain kafan bagi seorang syahid mulia, seorang suci utama dari tingkatan 'Ammar.... !
Dan Kaum Muslimin pun berdiri keheran-heranan di kuburnya .... ! Semenjak beberapa saat yang lalu 'Ammar berdendang di depan mereka di atas arena perjuangan ...,hatinya penuh dengan kegembiraan, tak ubah bagai seorang perantau yang merindukan kampung halaman tiba-tiba dibawa pulang, dan terlompatlah dari mulutnya seruan:
"Hari ini aku akan berjumpa dengan para kekasih tercinta ....
Dengan Muhammad saw dan para shahabatnya....!"
Apakah ia telah mengetahui hari yang mereka janjikan akan bertemu dan waktu yang sangat ia tunggu-tunggu .... ?
Para shahabat saling jumpa-menjumpai dan bertanya: "Apakah anda masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasululiah saw. ...,dan tiba-tiba wajahnya berseri-seri lalu sabdanya:
"Surga telah merinduhan 'Ammar ....':
"Benar", ujar yang lain. "dan waktu itu juga disebutnya namanama lain yang lain, di antaranya 'Ali, Salman dan Bilal ....".
Nah, bila demikian halnya, maka surga benar-benar telah merindukan 'Ammar .... ! Dan jika demikian, maka telah lama surga merindukaya, sedang kerinduannya tertangguh, menunggu 'Ammar menyelesaikan kewajiban dan memenuhi tanggung jawabnya .... Dan tugas itu telah dilaksanakannya dan dipenuhinya dengan hati gembira.
Maka sekarang ini, tidakkah sudah selayaknya ia memenuhi panggilan rindu yang datang menghimbau dari haribaan sura .... ? Menang, datanglah saatnya ia mengabulkan panggilan itu, karena tak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula .... !
Demikian dilemparkannya tombaknya, dan setelah itu ia pergi berlalu ....
Dan ketika tanah pusaranya didatarkan oleh para sahabat di atas jasadnya, maka ruhnya yang mulia telah bersemayam di tempat bahagia ..., nun di sana dalam surga yang kekal abadi, yang telah lama rindu menanti ....
SEORANG TOKOH PENGHUNI SURGA
Seandainya ada orang yang dilahirkan di Surga, lain dibesarkan dalam haribaannya dan jadi dewasa, kemudian dibawa ke dunia untuk jadi hiasan dan nur cahaya, maka'Ammar bersama ibunya Sumayyah dan bapaknya Yasir, adalah beberapa orang di antara mereka....
Tetapi kenapa kita mengatakan tadi "seandainya", seolah-olah itu hanya pengandaian belaka, padahal keluarga Yasir benar-benar penduduk Surga? Ketika Rasululiah saw. bersabda:
"Shabar wahai keluarga Yasir, tempat yang telah dijanjikan bagi kalian adalah Surga!"
kata-kata itu diucapkannya bukanlah hanya sebagai hiburan belaka, tetapi benar-benar mengakui kenyataan yang diketahuinya dan menguatkan fakta yang dilihat dan disaksikannya ....
Yasir bin 'Amir yakni ayahanda 'Ammar, berangkat meninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya .... Rupanya ia berkenan dan merasa cocok tinggal di Mekah. Bermukimlah ia di sana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah ibnul Mughirah ....
Abu Hudzaifah mengawinkannya dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayyah binti Khayyath, dan dari perkawinan yang penuh berkah ini, kedua suami isteri itu dikaruniai seorang putera bernama 'Ammar....
Keislaman mereka• termasuk dalam golongan yang mula pertama, sebagai halnya orang shalih;yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan sebagai halnya orang-orang shalih yang termasuk dalam golongan yang mula pertama masuk Islam, mereka cukup menderita karena siksa dan kekejaman Quraisy ....
Orang-orang Quraisy menjalankan siasat terhadap Kaum Muslimin sesuai suasana. Seandainya mereka ini golongan bangsawan dan berpengaruh, mereka hadapi dengan ancaman dan gertakan. Abu Jahal orang yang menggertaknya dengan ungkapan: "Kamu berani meninggalkan agama nenek moyangmu padahal mereka lebih baik daripadamu ! Akan kami uji sampai di mana ketabahanmu, akan kami jatuhkan kehormatanmu, akan kami rusak perniagaanmu dan akan kami musnahkan harta bendamu!"
Dan setelah itu mereka lancarkan kepadanya perang urat syaraf yang amat sengit.
Dan sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Mekah yang rendah martabatnya dan yang miskin, atau dari golongan budak belian, maka mereka didera dan disulutnya dengan api bernyala.
Maka keluarga Yasir termasuk dalam golongan yang kedua ini .... Dan soal penyiksaan mereka, diserahkan kepada Bani Makhzum. Setiap hari Yasir, Sumayyah dan 'Ammar dibawa ke padang pasir Mekah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai adzab dan siksa!
Penderitaan dan pengalaman Sumayyah dari siksaan ini amat ngeri dan`menakutkan, tetapi tidak akan kita paparkan panjang lebar sekarang ini. Insya Allah pada kesempatan lain akan -kita ceritakan pengurbanan dan- keteguhan hati yang ditunjukkan oleh Sumayyah bersama shahabat-shahabat dan kawan-kawan seperjuangannya di hari-hari yang bersejarah itu ....
Cukuplah kita sebutkan sekarang tanpa berlebih-lebihan bahwa syahidah Sumayyah telah menunjukkan sikap dan pendirian tangguh, yang dari awal hingga akhirnya telah membuktikan kepada kemanusiaan suatu kemuliaan yang tak pernah hapus dan kehormatan yang pamornya tak pernah luntur. Suatu sikap yang telah menjadikannya seorang bunda kandung bagi orang-orang Mu'min di setiap zaman, dan. bagi para budiman di sepanjang masa ....
Rasulullah saw. tidak lupa mengunjungi tempat-tempat yang diketahuinya sebagai arena penyiksaan bagi keluarga Yasir. Ketika itu tidak suatu apa pun yang dimilikinya untuk menolak bahaya dan mempertahankan diri.'Dan rupanya demikian itu sudah menjadi kehendak Allah ....
Maka Agama baru, yakni Agama Nabi Ibrahim yang suci murni, suatu Agama yang hendak dikibarkan panji-panjinya oleh Muhammad saw, bukakiah suatu gerakan perubahan secara vertikal dan horizontal, tetapi merupakan suatu tata cara hidup bagi manusia beriman. Dan manusia beriman ini haruslah memiliki dan mewarisi bersama Agama itu secara lengkap dengan kepahlawanan, perjuangan dan pengurbanannya....
Pengurbanan-pengurbanan mulia yang dahsyat ini tak ubahnya dengan tumbal yang akan menjamin bagi Agama dan 'aqidah keteguhan yang takkan lapuk ... .! Ia juga.menjadi contoh teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggaan dan kasih sayang.... Ia adalah menara yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang untuk mencapai hakikat Agama, kebenaran dan kebesarannya....
Demikianlah, berlaku pula bagi Agama Islam, qurban dan pengurbanan ini. Makna ini telah dijelaskan oleh al-Quran kepada Kaum Muslimin bukan hanya pada satu atau dua ayat.
Firman Allah swt.:
Apakah manusia mengira bahwa mereha ahan dibiarkan mengatahan: "Kami telah beriman" padahal mereka belum lagi diuji?(Q.S. 29 al-'Ankabut:2)
Apakah halian mengira akan dapat masuh surga, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang di antara kalian, begitu pun orang-orang yang tabah ?(Q.S. 3 Ali Imran: 142)
Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah orang-orang Yang benar dan terbukti pula orang-orang yang dusta.(Q.S. 29 al-'ankabut: 3)
Apakah kalian mengira akan dibiarhan begitu saja, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang di antara kalian?(Q.S. 9 Attaubat: 16)
Allah tiada hendah membiarhan orang-orang beriman dalam Keadaan kalian sekarang ini, hingga dipisahhan-Nya mana-mana yang jelek daripada yang baik.(Q.S. 3 Ali Imran: 179)
Dan mushibah yang telah menimpa halian di saat berhadapannya dua pasukan, adalah dengan idzin Allah, yakni agar terbukti baginya orang-orang yang beriman!"(Q.S. 3 Ali Imran: 166)
Memang, demikianlah Al-Qur'an mendidik putera dan para pendukungnya bahwa pengurbanan merupakan esensi atau sari dari keimanan, dan bahwa kepahlawanan menghadapi kekejaman dan kekerasan dihadapi dengan keshabaran, keteguhan dan pantang mundur, hanyalah akan membentuk keutamaan iman yang cemerlang dan mengagumkan ....
Oleh sebab itu di kala sedang meletakkan dasarnya, memancangkan tiang-tiang dan mengemukakan model contohnya, hendaklah Agama Allah ini memperkukuh diri dengan pengurbanan jiwa dan memhersihkan jiwa dengan pengurbanan harta, maka terpilihlah untuk kepentingan mulia ini beberapa orang putera, para pemuka dan tokoh-tokoh utamanya untuk menjadi ikutan sempurna dan teladan istimewa bagi orang-orang beriman yang menyusul kemudian!
Maka Sumayyah ...,Yassir...,dan 'Ammar dari golongan luar biasa yang beroleh barkah ini, adalah pilihan dari taqdir, yang dengan pengurbanan, ketekunan dan keuletan mereka itu, dapat memateri kebesaran dan keabadian Islam secara kuat dan kukuh ....
Telah kita katakan tadi bahwa Rasulullah saw. tiap hari berkunjung ke tempat disiksanya keluarga Yasir, mengagumi ketabahan dan kepahlawanannya ...,sementara hatinya yang mulia bagaikan hancur karena santun dan belas kasihan menyaksikan mereka menerima siksa yang tak terderitakan lagi.
Pada suatu hari ketika Rasulullah saw. mengunjungi mereka, 'Ammar memanggilnya, katanya:
"WahaiRasulullah, adzab yang kami derita telah sampai ke puncak".
Maka seru Rasulullah saw.:
"Shabarlah, wahai Abal Yaqdhan ....
"Shabarlah, wahai heluarga Yasir ....
"Tempat yang dijanjikan bagi halian ialah Surga ... .!"
Siksaan yang diami oleh 'Ammar dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat. Berkata 'Amar bin Hakam:'Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tak menyadari apa yang diucapkannya"
Berkata pula 'Ammar bin Maimun:
"Orang-rang musyrik membakar 'Ammar bin Yasir dengan api. Maka Rasulullah saw. lewat di tempatnya lain memegang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda:
"Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh 'Ammar, sebagaimana dulu hamu juga sejuk dingin di tubuh Ibrahim...!"
Bagaimanapun juga, semua bencana itu tidaklah dapat menekan jiwa 'Ammar, walau telah menekan punggung dan menguras tenaganya. Ia baru merasa dirinya benar-benar celaka, ketika pada suatu hari tukang-tukang cambuk dan para penderanya menghabiskan segala daya upaya dalam melampiaskan kedhaliman dan kekejannya...., semenjak hukuman bakar dengan besi panas, sampai disalib di atas pasir panas dengan ditindih batu laksana bara merah, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka.
Pada hari itu, ketika ia telah tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu mengatakan kepadanya: "Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami!", lain diajarkan mereka kepadanya kata-kata pujaan itu, sementara ia mengikutinya tanpa menyadari apa yang diucapkannya.
Ketika ia siuman sebentar akibat dihentikannya siksaan, tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkannya ...,maka hilanglah akalnya dan terbayanglah di ruang matanya betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi ...,hingga beberapa saat dirasakannya siksaan orang-orang musyrik terhadap dirinya sebagai obat pembalur luka dan suatu keni'matan juga ....!
Dan seandainya ia dibiarkan dalam perasaan itu agak beberapa jam saja, tak dapat tiada tentulah akan membawa ajalnya ...
'Ammar dapat bertahan menanggungkan semua siksa yang ditimpakan atas tubuhnya, ialah karena jiwanya sedang berada pada kondisi puncak. Tetapi sekarang ini, demi disangkanya jiwanya telah menyerah kalah, maka dukacita dan sesal kecewa hampir saja menghabiskan tenaga dan melenyapkan nyawanya ....
Tetapi iradat Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah memutuskan agar peristiwa yang' mengharukan itu mencapai titik kesudahan yang amat luhur... Dan tangan wahyu yang penuh berkah itu pun terulurlah menjabat tangan'Ammar, sambil menyampaikan ucapan selamat kepadanya: "Bangunlah hai pahlawan .. • •! Tak ada sesalan atasmu dan tak ada cacat"
Ketika Rasulullah saw. menemui shahabatnya itu didapatinya ia sedang menangis, maka disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau seraya sabdanya:
"Orang-orang hafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu …?"
"Benar': wahai RasuIullah': ujar 'Ammar sambil meratap.
Maha sabda Rasulullah sambil tersenyum: "Jika mereka memaksaimu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi ....!"
Lalu dibacakan Rasulullah kepadanya ayat mulia berikut ini:
Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan ...(Q.S. 16 an-Nahl: 106)
Kembalilah 'Ammar diliputi oleh ketenangan dan dera yang menimpa tubuhnya: bertubi-tubi tidak terasa sakit lagi, dan apa juga yang akan terjadi, terjadilah dan ia tidak akan peduli. Jiwanya berbahagia, keimanannya di fihak yang menang! Ucapannya yang dikeluarkan secara terpaksa itu dijamin bebas oleh al-Quran, maka apa lagi yang akan dirisaukannya….?
'Ammar menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahan luar biasa, hingga pendera-penderanya merasa lelah dan menjadi lemah, dan bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang maha kukuh ....!
Setelah pindahnya Rasulullah saw. ke Medinah, Kaum Muslimin tinggal bersama beliau bermukim di sana, secepatnya masyarakat Islam terbentuk dan menyempurnakan barisannya.
Maka di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman ini 'Ammar pun mendapatkan kedudukan yang tinggi Rasulullah saw. amat sayang kepadanya, dan beliau sering membanggakan keimanan dan ketaqwaan 'Ammar kepada para shahabat.
Bersabda Rasulullah saw:
"Diri 'Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya…..!"
Dan sewaktu terjadi selisih faham antara Khalid bin Walid dengan 'Ammar, Rasulullah saw. bersabda:
"Siapa yang memusuhi 'Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah, dan siapa yang membenci 'Ammar, maka ia akan dibenci Allah! "
Maka tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid pahlawan Islam itu selain segera mendatangi 'Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta ma'af ....!
Suatu peristiwa terjadi pula ketika Rasulullah saw. bersama para shahabat mendirikan mesjid di Madinah, yakni tiada lama setelah kepindahannya ke sana. Imam Ali karamallahu wajhah menggubah sebuah bait sya'ir yang didendangkan berulang-ulang diikuti oleh Kaum Muslimin yang sedang bekerja itu, dan baitnya adalah sebagai beribut:
"Orang yang memakmurkan mesjid nilainya tidak sama....
Sibuk bekerja sambil duduk di sini berdiri di sana ....
Sedang pemalas lari menghindar tertidur di sana…."
Kebetulan waktu itu 'Ammar sedang bekerja di salah satu sisi bangunan. Ia juga turut berdendang, mengulang-ulangnya dengan nada tinggi .... Salah seorang kawan menyangka bahwa 'Ammar bermaksud dengan nyanyian itu hendak menonjolkan dirinya, hingga di antara mereka terjadi pertengkaran dan keluar kata-kata yang menunjukkan kemarahan. Mendengar itu Rasulullah murka, sabdanya:
"Apa mahsud mereka terhadap 'Ammar ....?
Diserunya mereka ke Surga, tapi mereka hendak mengajaknya ke neraha ....!
Sungguh, 'Ammar adalah biji matahu sendiri... .!"
Jika Rasulullah saw. telah menyatakan kesayangannya terhadap seorang Muslim demikian rupa, pastilah keimanan orang itu, kecintaan dan jasanya terhadap Islam, kebesaran jiwa dan ketulusan hati serta keluhuran budinya telah mencapai batas dan puncak kesempurnaan…..!
Demikian halnya 'Ammar ....!
Berkat ni'mat dan petunjuk-Nya, Allah telah memberikan kepada 'Ammar ganjaran setimpal, dan menilai takaran kebaikannya secara penuh. Hingga disebabkan tingkatan petunjuk dan keyakinan yang telah dicapainya, maka Rasulullah menyatakan kesucian imannya dan mengangkat dirinya sebagai contoh teladan bagi para shahabat, sabdanya:
"Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti Abu Bakar dan Umar dan ambillah pula hidayah yang dipakai 'Ammar untuk Jadi bimbingan!"
Mengenai perawakannya, para ahli riwayat melukiskannya sebagai berikut:
Ia adalah seorang yang bertubuh tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya yang biru ...,seorang yang amat pendiam dan tak suka banyak bicara ....
Nah, bagaimanakah kiranya garis kehidupan raksasa pendiam yang bermata biru dan berdada lebar, serta tubuhnya penuh dengan bekas-bekas siksaan kejam, dan di waktu yang bersamaan jiwanya telah ditempa dengan ketabahan yang amat mengagumkan dan kebesaran yang luar biasa ... ? Bagaimanakah jalan kehidupan yang ditempuh oleh pengikut yang jujur dan Mu'min yang tulus serta pejuang yang berani mati ini .:..; ?
Sungguh telah diterjuninya bersama Rasulullah sebagai gurunya semua perjuangan bersenjata, baik.Badar, Uhud, Khandaq, Tabuk ... pendeknya semua tanpa keculali .... Dan tatkala Rasulullah telah mendahuluinya ke ar Rafiqul A'la, maka raksasa ini tidaklah berhenti, tetapi melanjutkan perjuangannya terus-menerus ....
Di kala Kaum Muslimin berhadap-hadapan dengan kaum Persi dan Romawi, begitu juga ketika menghadapi pasukan kaum murtad,'Ammar selalu berada di barisan pertama ..., sebagai seorang prajurit yang gagah perkasa dengan tebasan pedangnya yang tak pernah meleset, ia sebagai seorang Mu'min yang shalih dan mulia tidak satu pun yang dapat menghalanginya dalam mencapai ridla Allah.
Dan tatkala Amirul Mu'minin Umar memilih calon-calon wail negeri secara cermat dan hati-hati bagi Kaum Muslimin, maka matanya tetap tertuju dan tak hendak beralih dari 'Ammar bin Yasir .... Ia segera menemuinya dan mengangkatnya sebagai wali negeri Kufah dengan Ibnu Mas'ud sebagai •Bendaharanya.
Dan kepada penduduknya Umar menulis sepucuk surat berita gembira dengan diangkatnya wali negeri baru itu, katanya:
"Saya kirim kepada tuan-tuan 'Ammar bin Yasir sebagai 'Amir, dan Ibnu Mas'ud sebagai Bendahara dan Wazir ....Kedua mereka adalah orang-orang pilihan, dari golongan shahabat Muhammad saw., dan termasuk pahlawan-pahlawan Badar... .!"
Dalam melaksanakan pemerintahan,'Ammar melakukan suatu sistim yang rupanya tidak dapat diikuti oleh ouang-orang yang rakus akan dunia, hingga mereka mengadakan atau hampir mengadakan persekongkolan terhadap dirinya . • • • Pangkat dan jabatannya itu tidak menambah kecuali keshalihan, zuhud dan kerendahan hatinya. Salah seorang yang hidup semasa dengannya di Kufah, yaitu Ibnu Abil Hudzail, bercerita:
"Saya lihat 'Ammar bin Yasir sewaktu menjadi 'Amir di Kufah, membeli Sayuran di pasar lain mengikatnya dengan tail dan memikulnya di atas punggung, dan membawanya pulang….".
Dan salah seorang awam berkata kepadanya sewaktu ia menjadi Amir di Kufah itu: "Hai yang telinganya terpotong!", menghinanya dengan telinganya yang putus ketika menghadapi orang-orang murtad di pertempuran Yamamah. Tetapi jawaban amir yang memegang tampuk kekuasaan itu tidak lebih dari:
"Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik ... •
Karena ia ditimpa kecelakaan waktu perang fi sabilillah
Memang, telinganya itu putus dalam perang sabil di Yamamah • . .,yakni salah satu diantara hari-hari gemilang bagi 'Ammar….Raksasa ini maju bagaikan angin topan dan menyerbu barisan tentara Musailamatul Kadzab sehingga melumpuhkan kekuatan musuh ... •
Ketika dilihatnya gerakan Muslimin mengendor segera dibangkitkannya semangat mereka dengan seruannya yang gemuruh, hingga mereka kembali maju menerjang bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya • • • •
Abdullah bin Umar r.a. menceritakan peristiwa itu sebagai berikut :
'Waktu perang Yamamah saya lihat 'Ammar sedang berada di atas sebuah batu karang. Ia berdiri sambil berseru: "Hai Kaum Muslimin, apakah tuan-tuan hendak lari dari Surga ...? Inilah saya 'Ammar bin Yasir, kemarilah tuan-tuan…..!
Ketika saya melihat dan memperhatikannya, kiranya sebelah telinganya telah putus beruntai-untai, sedang ia berperang dengan amat sengitnya ...!
Wahai, barang siapa yang masih meragukan kebesaran Muhammad saw., seorang Rasul yang benar dan guru yang sempurna, baiklah ia berdiri sejenak di hadapan contoh-contoh yang telah ditunjukkan oleh para pengikut dan shahabatnya, lalu bertanya kepada dirinya: "Siapakah yang akan mampu mengemukakan teladan dan contoh luhur ini kalau bukan seorang Rasul mulia dan maha guru utama?"
Jika mereka menerjuni suatu perjuangan di jalan Allah, pastilah mereka akan maju ke depan bagaikan orang yang hendak mencari maut dan bukan merebut kemenangan ....!
Jika mereka para khalifah dan hakim-hakim pengadilan, maka mereka takkan keberatan memerahkan susu untuk wanita janda tua atau mengadon tepung roti untuk anak-anak yatim, sebagai dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar.
Dan jika mereka para pembesar, maka mereka takkan main dan merasa segan untuk memikul makanan yang diikat dengan tali di atas punggung mereka, seperti kita saksikan pada 'Ammar; atau menyerahkan gaji yang menjadi haknya lalu pergi menjalin daun kurma untuk kantong atau bakul sebagai yang diperbuat oleh Salman....!
Wahai, marilah kita tekurkan kening dan tundukkan kepala kita, sebagai ta'dhim dan penghormatan kepada Agama yang telah mengajari mereka semua, dan kepada Rasulullah yang telah mendidik mereka....dan sebelum Agama sertaRasulullah itu, terutama kepada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung, yang telah memilih mereka untuk semua ini, serta menjadikan mereka sebagai pelopor dan sebaik-baik ummat yang pernah dilahirkan sebagai teladan bagi seluruh manusia ....
Ketika itu Hudzaifah ibnul Yaman seorang yang ahli tentang bahasa rahasia dan bisikan ghaib, sedang berkemas-kemas menghadapi panggilan Ilahi menghadapi sekarat mautnya. Kawan-kawannya yang sedang berkumpul sekelilingnya menanyakan kepadanya: "Siapakah yang harus kami ikuti menurutmu, jika terjadi pertikaian di antara ummat ...?" Sambil mengucapkan kata-katanya yang akhir, Hudzaifah menjawab:
"Ikutilah oleh kalian Ibnu Sumayyah, kauena sampai matinya ia tak hendak berpisah dengan kebenaran .. !"
Benar, 'Ammar akan tetap mengikuti kebenaran itu ke mana saja perginya .... Dan sekarang sementaua kita menyelusuri jejak langkahnya, dan-menyelidiki peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupannya, marilah kita pergi menghampiri suatu peristiwa besar .... ! Hanya sebelum kita memperhatikan kejadian yang mempesona dan amat mengharukan itu, baik tentang keutamaan dan kesempurnaannya, tentang kemampuan dan keunggulannya, maupun tentang kegigihan dan kesungguhannya.
Marilah kita perhatikan lebih dulu suatu peristiwa lain yang terjadi sebelumnya, ialah ungkapan Rasulullah melagenai peristiwa yang akan menimpa 'Ammar di kemudian hari!
Hal itu terjadi tidak lama setelah menetapnya Kaum Muslimin di Madinah. Dan Rasul al-amin yang dibantu oleh shahabat-shahabatnya yang budiman sibuk dalam membaktikan diri kepada Rabb mereka, membina rumah dan mendirikan mesjid-Nya.
Hati yang beriman dipenuhi kegembiraan dan sinar harapan menyampaikan puji dan syukur kepada Allah.... !
Semuanya bekerja dengan riang gembira ...,mengangkut batu, mengaduk pasir dengan kapur atau mendirikan tembok, sekelompok di sini dan sekelompok lagi di sana, sedang cakrawala bahagia bergema dipenuhi nyanyian mereka yang dikumandangkan dengan suara merdu dan seronok:
"Andainya kita duduk-duduk berpangku tangan, sedang Nabi sibuk bekerja tak pernah diam ....
Maka perbuatan kita adalah perbuatan sesat lagi menyesatkan....!"
Demikian mereka bernyanyi dan berdendang. Lain alunan suara mereka menyanyikan lagu lainnya:
"Ya Allah, hidup bahagia adalah hidup di akhirat Berilah rahmat Kaum Anshar dan Kaum Muhajirat
Dan setelah itu terdengar pula lagu ketiga:
"Apakah akan sama nilainya... ?
Orang yang bekerja membina masjid Sibuk bekerja, baik berdiri maupun duduk
Dengan yang menyingkir berpangku tangan .... ?"
Tak ubahnya mereka bagai anai-anai yangsedang sibuk bekerja, bahkan mereka adalah balatentara Allah yang memanggul bendera-Nya dan membina bangunan-Nya.
Sementara Rasulullah yang budiman lagi terpercaya tak hendak terpisah dari mereka, mengangkat batu yang paling berat dan melakukan pekerjaan yang paling sukar .... dan alunan suara mereka yang sedang berdendang melukiskan kegembiraan yang tulus dan hati yang pasrah ...,sedang langit tempat mereka bernaung berbangga diri terhadap bumi tempat mereka berpijak ..., pendeknya kehidupan yang penuh gairah sedang menyelenggarakan pesta pora yang paling meriah ....
Maka di tengah-tengah khalayak ramai yang sedang hilir mudik itu, kelihatanlah 'Ammar bin Yasir sedang mengangkat batu besar dari tempat pengambilannya ke perletakannya.
Tiba-tiba "rahmat kurnia Allah" yakni Muhammad Rasulullah melihatnya, dan rasa santun belas kasihan telah membawa beliau mendekatinya, dan setelah berhampiran maka tangan beliau yang penuh barkah itu mengipaskan debu yang menutupi kepala 'Ammar lain dengan pandangan yang dipenuhi nur ilahi diamat-amati wajah yang beriman diliputi ketenangan itu, kemudian bersabda di hadapan semua shahabatnya:
"Aduhai Ibnu Sumayyah, ia dibunuh oleh golongan pendurhaka ....!"
Ramalan ini diulangi oleh Rasulullah sekali lagi...,kebetulan bertepatan dengan ambruknya dinding di atas tempat 'Ammar bekerja, hingga sebagian kawannya menyangka bahwa ia tewas yang menyebabkan Rasulullah meratapi kematiannya itu. Para shahabat sama terkejut dan menjadi ribut karenanya, tetapi dengan nada menenangkan dan penuh kepastian, Rasulullah menjelaskan:
"Tidak,'Ammar tidak apa-apa, hanya nanti ia akan dibunuh oleh golongan pendurhaha !"
Maka wahai, siapakah kiranya yang dimaksud dengan golongan tersebut ....
Dan bilakah serta di manakah terjadinya peristiwa itu .... ?
'Ammar mendengarkan ramalan itu dan meyakini kebenaran pandangan tembus yang disingkapkan oleh Rasul yang utama. Tetapi ia tidak merasa gentar, karena semenjak menganut Islam ia telah dicalonkan untuk menghadapi maut dan mati syahid di setiap detik baiksiang maupun malam ....
Dan hari-hari pun berlalu ...,tahun demi tahun silih berganti. Rasulullah saw. telah kembali ke tempat tertinggi..., disusul oleh Abu Bakar ke tempat ridla Ilahi ...,lalu berangkatlah pula Umar pergi mengiringi .... Setelah itu khilafat dipegang oleh Dzun Nurain Utsman bin 'Affan ....
Sementara itu musuh-musuh Islam yang bergerak di bawah tanah, berusaha menebus kekalahannya di medan tempur dengan jalan menyebarluaskan fitnah ....
Terbunuhnya Umar merupakan hasil pertama yang dicapai oleh gerakan atau subversi ini, yang gerakannya merembes ke Madinah tak ubahnya bagai angin panas, dan bergerak dari negeri yang kerajaan dan singgasananya telah dibebaskan oleh ummat Islam ….
Berhasilnya usaha mereka terhadap Umar membangkitkan minat dan semangat mereka untuk melarnjutkannya, mereka sebarkan fitnah dan nyalakan apinya di sebagian besar negeri-negeri Islam. Dan mungkin Utsman r.a. tidak memberikan perhatian khusus terhadap masalah ini hingga terjadilah pula peristiwa yang menyebabkan syahidnya Utsman dan terbukanya pintu fitnah yang melanda Kaum Muslimin....
Mu'awiyah * bangkit hendak merebut jabatan khalifah dari tangan khalifah Ali karamallahu wajhah yang baru diangkat
*) Hampir setiap riwayat hidup para shahabat Rasulullah yang berusia lanjut yang dipaparkan dalam buku ini ada sangkut pautnya dengan Muawiyah. Oleh karena itu perlu diungkapkan serba singkat mengenai riwayat hidupnya.
Muawiyah dilahirkan dari keluarga hartawan dan pedagang besar yang menguasai perekonomian hampir seluruh semenanjung Arabia. Ayahnya bernama Shakhr bin dan dibai'at. Dan pendirian shahabat pun bermacam-macam, ada yang menghindar dan mengunci diri di rumahnya, dengan Harb, yang sehari-harinya disebut Abu Sufyan. Abu Sufyan inilah yang menjadi panglima besar kafir Quraisy pada perang Uhud, Khandaq dan pemimpin pemerintahan sampai Mekah dibebaskan oleh Rasuiullah.
Ibunya bernama Hindun bin Utbah, seorang wanita lincah, cekatan yang mempunyai andil besar dalam membantu suami di perang Uhud. Pada waktu perang Badar, Hindun kehilangan ayah, paman, saudara dan puteranya. Untuk menuntut bela terhadap keluarganya itu, ia mengupah Wahsyi sebagai pembunuh bayaran untuk membunuh dan mengambil jantung Hamzah paman Nabi dan syahid agung untuk dimakannya mentah-mentah. Usaha menuntut bela ini dapat dicapainya. Setelah Mekah dibebaskan, bersamaan dengan ayahnya ia pun masuk Islam.
Setelah masuk Islam, ia menjadi salah seorang sekretaris Rasulullah saw. Ia pun ikut perang Hunain dan dengan gagah berani memperlihatkan keperwiraannya sebagai seorang putera bekas panglima dan mendapat pembagian rampasan perang bersama ayahnya melebihi yang lain karena keduanya masih muallaf (orang yang barn masuk Islam, yang mendapat jaminan hidup lebih dari orang yang sudah betul-betul beriman, supaya tidak murtad lagi).
Di zaman Khilafah Abubakar r.a., ia ikut bertempur melawan Romawi di Syam (Damsyiq) di bawah pimpinan kakaknya Yazid bin Abi Sofyan. Ketika Yazid wafat, Muawiyah mengambil alih pimpinan pemerintahan dan kemudian oleh Khalifah Abubakar r.a. ditetapkan, menjadi wall negeri Syam sebagai pengganti kakaknya itu.
Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khatthab r.a., ia masih menjadi wali negeri Damsyiq. Ketika Khalifah Umar r.a. meninjau Syam, beliau mendapatkan Muawiyah di Istananya yang sangat mewah; Umar berkata: "INI ADALAH KISRA (KAISAR) ARAB"!! Tidak lama setelah itu, karena berbagai alasan, Umar memberhentikan dari jabatannya dan Said bin Amir pelopor hidup sederhana menggantikan Muawiyah.
Pada masa Khalifah Utsman, Muawiyah diangkat kembali menjadi wall negeri seluruh Syria, termasuk Palestina. Banyak pengaduan rakyat kepada Khalifah Utsman tentang tindakan wall negeri ini, termasuk keberandalan puteranya. Akan tetapi sebagian besar surat pengaduan itu tidak disampaikan kepada Khalifah oleh sekretaris beliau yang bernama Marwam (saudara sepupu Muawiyah). Atas pengkhianatan Marwam initah timbulnya pemberontakan dan terbunuhnya Khalifah Utsman.
Muawiyah adalah seorang jenius, pintar dan cerdik, politisi dan panglima perang. la mampu menggunakan kekuasaan dan harta negara dalam mencari kawan dan merangkul bawahan.
Ia wafat pada tahun 60 hijrah dalam usia 78 tahun. Semoga Allah menerima amal baktinya.
Demikianiah sekelumit riwayat hidup Muawiyah yang serba singkat (Ed, Pen).
SumberBacaan :Ibnu Hajar al-hsqalani: Tahdzib Attahdzib Jilid 10. Dar Shadar, Beirut, 1968.
Izuddin bin al-atsir: Usdul Ghabah P Ma 'rifatis Shahabah, As-Syu'b, Mesir, 1970.
Izuddin bin al-Atsir: AI-Kamil fil Tarikh, Dar Shadar, Beirut, 1965.
Khalid Muhammad Khalid: Ar-Rijal Haulal Raslll, Darul Kutub al-Arabiah, Beirut, 1973.
mengambil ucapan Ibnu Umar sebagai semboyannya:
"Siapa yang menyerukan marilah shalat, saya penuhi ....
Dan siapa yang mengatakan: marilah mencapai bahagia, sayaturuti....
Tetapi yang mengatakan: marilah bunuh saudaramu yang Muslimin dan marilah rampas harta bendanya, maka saya jawab: tidlak....!"
Di antara mereka ada yang berpihak kepada Mu'awiyah. Dan ada pula yang berdiri mendampingi Ali, membai'at dan pengangkatannya sebagai khalifahKaum Muslimin ....
Dan tahukah anda di pihak mana 'Ammar berdiri waktu itu?
Di pihak siapakah berdirinya laki-laki yang mengenai dirinya Rasulullah saw. pernah bersabda:
"Dan ambillah olehmu petunjuk yang dipakai oleh 'Ammar sebagai bimbingan.... !"
Dan bagaimanakah pendirian orang yang mengenai dirinya Rasulu!lah saw. pernah pula bersabda:
"Barangsiapa yang memusuhi 'Ammar, maka ia akan dimusuhi oleh Allah .... !"
Dan orang yang bila suaranya kedengaran mendekat ke rumah Rasulullah, maka beliau segera menyambut dengan sabdanya: "Selamat datang bagi orang baik dan diterima baik idzinkanlah ia masuk .... !"
Ia berdiri di samping Ali bin Abi Thalib, bukan karena fanatik atau berpihak, tetapi karena tunduk kepada kebenaran dan teguh memegang janji! Ali adalah Khalifah Kaum muslimin, dan berhak menerima bai'at sebagai pemimpin ummat. Dan khilafat itu diterinmanya, karena memang ia berhak untuk itu dan lavak untuk menjabatnya .
Baik sebelum maupun sesudah ini, Ali memiliki keutamaan-keutamaan yang menjadikan bedudukannya di samping Rasulullah tak ubah bagai kedudukan Harun di samping Musa ....
Dengan cahaya pandangan ruhani dan ketulusannya,'Ammar yang selalu mengikuti kebenaran ke mana juga perginya, dapat mengetahui pemilik hak satu-satunya dalam perselisihan ini.
Dan menurut keyakinannya, tak seorang pun berhak atas hal ini dewasa itu selain Imam Ali, oleh sebab itulah ia berdiri di sampingnya ....
Dan Ali r.a. sendiri merasa gembira atas sokongan yang diberikannya itu, mungkin tak ada kegembiraan yang lebih besar daripada itu, hingga keyakinannya bahwa ia berada di pihak yang benar kian bertambah, yakni selama tokoh utama pencinta kebenaran 'Ammar datang kepadanya dan berdiri di sisinya ....
Kemudian datanglah saat perang Shiffin yang mengerikan itu. Imam Ali menghadapi pekerjaan penting ini sebagai tugas memadamkan pembangkangan dan pemberontakan. Dan 'Ammar ikut bersamanya. Waktu itu usianya telah 93 tahun .
Apa dalam usia 93 tahun ia masih pergi ke medan juang .... ?
Benar ...,selama menurut keyakinannya peperangan itu menjadi tugas kewajibannya .... ! Bahkan ia melakukannya lebih semangat dan dahsyat dari yang dilakukan oleh orang-orang muda berusia 30 tahun ....
Tokoh yang pendiam dan jarang bicara ini hampir saja tidak menggerakkan kedua bibirnya, kecuali mengucapkan kata-kata mohon perlindungan berikut:
"Aku berlindung kepada Allah dari fitnah ....
Aku berlindung kepada Allah dari fitnah ....".
Tak lama setelah Rasulullah wafat, kata-kata ini merupakan do'a yang tak putus lekang dari bibirnya. Dan setiap hari berlalu setiap itu pula ia memperbanyak do'a dan mohon perlindungannya itu ..., seolah-olah hatinya yang suci merasakan bahaya mengancam yang semakin dekat dan menghampir juga.
Dan tatkala bahaya itu tiba dan fitnah merajalela, Ibnu Sumayyah telah mengerti di mana ia harus berdiri. Maka di hari perang Shiffin walaupun sebagai telah kita katakan usianya telah 93 tahun, ia bangkit menghunus pedangnya, demi membela kebenaran yang menurut keimanannya harus dipertahankan.
Pandangan terhadap pertempuran ini telah dima'lumkannya dalam kata-kata sebagai berikut:
"Hai ummat manusia!
Marilah kita berangkat menuju gerombolan yang mengaku-ngaku hndak menuntutkan bela Utsman!
Demi Allah! Maksud mereka bukanlah hendak menuntutkan belanya itu, tetapi sebenarnya mereka telah merasakan manisnya dunia dan telah ketagihan terhadapnya, dan mereka mengetahui bahwa kebenaran itu menjadi penghalang bagi pelampiasan nafsu serakah mereka. Mereka bukan yang berlomba dan tidak termasuk barisan pendahulu memeluk Agama. Islam. Argumentasi apa sehingga mereka merasa berhak untuk ditaati oleh Kaum Muslimin dan diangkat sebagai pemimpin, dan tidak pula dijumpai dalam hati mereka perasaan takut kepada Allah, yang akan mendorong mereka untuk mengikuti kebenaran .... !
Mereka telah menipu orang banyak dengan mengakui hendak menuntutkan bela kematian Utsman, padahal tujuan mereka yang sesungguhnya ialah hendak menjadi raja dan penguasa adikara... .!"
Kemudian diambilnya bendera dengan tangannya, lain dikibarkannya tinggi-tinggi di atas kepala sambil berseru:
"Demi Dzat yang menguasai nyawaku .... ! Saya telah bertempur dengan mengibarkan bendera ini bersama Rasulullah saw., dan inilah aku siap berperang pula dengan mengibarkannya sekarang ini ..... !
Demi nyawa saya berada dalam tangan-Nya .... !
Seandainya mereka menggempur dan menyerbu hingga berhasil mencapai kubu pertahanan kita, saya tahu pasti bahwa kita berada di pihak yang haq, dan bahwa mereka di pihak yang bathil ....!"
Orang-orang mengikuti 'Ammar, mereka percaya kebenaran ucapannya.
Berkatalah Abu Abdirrahman Sullami:
"Kami ikut serta dengan Ali r.a. di pertempuran Shiffin, maka saya lihat 'Ammar bin Yasir r.a. setiap ia menyerbu ke sesuatu jurusan, atau turun ke sesuatu lembah, para shahabat Rasulullah pun mengikutinya, tak ubahnya ia bagai panji-panji bagi mereka ....!"
Dan mengenai ',Ammar sendiri, sementara ia menerjang dan menyusup ke medan juang, ia yakin akan menjadi salah seorang syuhadanya.... Ramalan Rasulullah saw terang terpampang di ruang matanya dengan huruf-huruf besar:
"Ammar ahan dibunuh oleh golongan pendurhaha ...':
Oleh sebab itu suaranya bergema di serata arena dengan senandung ini:
"Hari ini daku akan berjumpa dengan para kekasih tercinta .... Muhammad dan para shahabatnya .... !"
Kemudian bagai sebuah peluru dahsyat ia menyerbu ke arah Mu'awiyah dan orang-orang sekeliiingnya dari golongan Bani Umayyah, lalu melepaskan seruannya yang nyaring yang menggetarkan:
"Dulu kami hantam kalian di saat diturunkannya.
Kini kami hantam lagi kalian karena menyelewengkannya
Tebasan maut menghentikan niat jahat
Dan memisahkan kawanan pengkhianat
Atau al-Had berjalan kembali pada relnya"
Maksudnya dengan sya'irnya itu, bahwa para shahabat yang terdahulu dan 'Ammar termasuk salah seorang di antara mereka. Dulu telah memerangi golongan Bani Umayyah yang dikepalai oleh Abu Sufyan ayah Muawiyah pemanggul panji-panji syirik dan pemimpin tentara musyrikin .... Mereka perangi orang-orang itu karena secara terus terang al-Quran menitahkannya disebabkan mereka adalah orang-orang musyrik.
Dan sekarang di bawah pimpinan Muawiyah, walaupun mereka telah menganut Islam dan meskipun al-Quranul Karim tidak menitahkan secara tegas memerangi mereka, tetapi menurut ijtihad 'Ammar dalam penyelidikannya mengenai kebenaran dan pengertiannya terhadap maksud dan tujuan al-Quran, meyakinkan dirinya akan kehausan memerangi mereka, sampai barang haq yang ditumpas itu kembali kepada pemiliknya, serta api fitnah dan pemberontakan itu dapat dipadamkan untuk selama-lamanya ....
Juga maksudnya, bahwa dulu mereka memerangi orang-orang Bani Umayyah karena mereka kafir kepada Agama dan kafir kepada al-Quran .... Dan sekarang meueka menggempur orang-orang itu karena mereka menyelewengkan Agama dan menyimpang dari ajaran al-Quranul Karim serta mengacaukan ta'wil dan salah menafsirkannya, dan mencoba hendak menyesuaikan tujuan ayat-ayatnya dengan kemauan dan keinginan mereka pribadi.... !
Maka tokoh tua yang berusia 93 tahun ini menerjuni akhir perjuangan hidupnya yang menonjol dengan gagah berani. Dan sebelum ia berangkat ke rafiqul A'la, ia tanamkan pendidikan terakhir tentang keteguhan hati membela kebenaran, dan ditinggalkannya sebagai contoh teladan perjuangannya yang besar dan mulia lagi berkesan dan mendalam ....
Orang-orang dari pihak Mu'awiyah mencoba sekuat daya untuk menghindari 'Ammar, agar pedang mereka tidak menyebabkan kematiannya hingga ternyata bagi manusia bahwa merekalah "golongan pendurhaka".
Tetapi keperwiraan 'Ammar yang berjuang seolah-olah ia satu pasukan tentara juga, menghilangkan pertimbangan dan akal sehat mereka. Maka sebagian dari anak buah Mu'awiyah mengintai-ngintai kesempatan untuk menewaskannya, hingga setelah kesempatan itu terbuka mereka laksanakanlah dan tewaslah 'Ammar di tangan tentara Mu'awiyah ......
Sebagian besar dari tentara Mu'awiyah terdiri dari orang-orang yang barn saja masuk Agama Islam, yakni orang-orang yang menganutnya tidak lama setelah bertalu-talunya genderang kemenangan terhadap kebanyakan negeri yang dibebaskan Islam, balk dari kekuasaan Romawi maupun dari penjajahan Persi.
Maka mereka inilah sebenarya yang menjadi biang keladi dan menyalakan api peuang saudara yang dimulai oleh pembangkangan Mu'awiyah dan penolakannya untuk mengakui Ali sebagai Khalifah dan Imam .... ! Jadi mereka inilah yang bagaikan kayu bakar menyalakan apinya hingga jadi besar dan menggejolak.
Dan bagaimana juga gawatnya pertikaian ini, sedianya akan dapat diselesaikan dengan jalan damai andainya masih terpegang dalam tangan Muslimin pertama. Tetapi demi bentuknya jadi meruncing, ia jatuh ke dalam tokoh-tokoh kotor yang tidak peduli akan nasib Islam hingga api kian menyala dan tambah berkobar....
Berita tewasnya 'Ammar segera tersebar dan ramalan Rasulullah saw. yang didengar oleh semua shahabatnya sewaktu mereka sedang membina masjid di Madinah di masa yang telah jauh sebelumnya, berpindah dari mulut ke mulut:
"Aduhai Ibnu Sumayyah ...,ia dibunuh oleh golongan pendurhaka!"
Maka sekarang tahulah orang-orang siapa kiranya golongan pendurhaka itu ..., yaitu golongan yang membunuh 'Ammar ..., yang tidak lain dari pihak Mu'awiyah .... !
Dengan kenyataan ini semangat dan kepercayaan pengikut-pengikut Ali kian bertambah. Sementara di pihak Mu'awiyah, keraguan mulai menyusup ke dalam hati mereka, bahkan sebagian telah bersedia-sedia hendak memisahkan diri dan bergabung ke pihak Ali ....
Mengenai Mu'awiyah, demi mendengar peristiwa yang telah terjadi ia segera keluar mendapatkan orang banyak dan menyatakan kepada mereka bahwa ramalan itu benar adanya, dan Rasulullah benar-benar telah meuamalkan bahwa 'Ammar akan dibunuh oleh golongan pemberontak .... Tetapi siapakah yang telah membunuhnya itu .... ? Kepada orang-orang sekeliling diserukannya: "Yang telah membunuh 'Ammar ialah orang-orang yang keluar bersama dari rumahnya dan membawanya pergi berperang ....!"
Maka tertipulah dengan ta'wil yang dicari-cari ini orang-orang yang memendam maksud tertentu dalam hatinya, sementara pertempuran kembali berkobar sampai saat yang telah ditentukan ....
Adapun 'Ammar, ia dipangku oleh Imam Ali ke tempat ia menshalatkannya bersama Kaum Muslimin, lalu dimakamkan dengan pakaiannya! Benar, dengan pakaian yang dilumuri oleh darahnya yang bersih suci! Karena tidak satu pun dari sutera atau beludru dunia yang layak untuk menjadi kain kafan bagi seorang syahid mulia, seorang suci utama dari tingkatan 'Ammar.... !
Dan Kaum Muslimin pun berdiri keheran-heranan di kuburnya .... ! Semenjak beberapa saat yang lalu 'Ammar berdendang di depan mereka di atas arena perjuangan ...,hatinya penuh dengan kegembiraan, tak ubah bagai seorang perantau yang merindukan kampung halaman tiba-tiba dibawa pulang, dan terlompatlah dari mulutnya seruan:
"Hari ini aku akan berjumpa dengan para kekasih tercinta ....
Dengan Muhammad saw dan para shahabatnya....!"
Apakah ia telah mengetahui hari yang mereka janjikan akan bertemu dan waktu yang sangat ia tunggu-tunggu .... ?
Para shahabat saling jumpa-menjumpai dan bertanya: "Apakah anda masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasululiah saw. ...,dan tiba-tiba wajahnya berseri-seri lalu sabdanya:
"Surga telah merinduhan 'Ammar ....':
"Benar", ujar yang lain. "dan waktu itu juga disebutnya namanama lain yang lain, di antaranya 'Ali, Salman dan Bilal ....".
Nah, bila demikian halnya, maka surga benar-benar telah merindukan 'Ammar .... ! Dan jika demikian, maka telah lama surga merindukaya, sedang kerinduannya tertangguh, menunggu 'Ammar menyelesaikan kewajiban dan memenuhi tanggung jawabnya .... Dan tugas itu telah dilaksanakannya dan dipenuhinya dengan hati gembira.
Maka sekarang ini, tidakkah sudah selayaknya ia memenuhi panggilan rindu yang datang menghimbau dari haribaan sura .... ? Menang, datanglah saatnya ia mengabulkan panggilan itu, karena tak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula .... !
Demikian dilemparkannya tombaknya, dan setelah itu ia pergi berlalu ....
Dan ketika tanah pusaranya didatarkan oleh para sahabat di atas jasadnya, maka ruhnya yang mulia telah bersemayam di tempat bahagia ..., nun di sana dalam surga yang kekal abadi, yang telah lama rindu menanti ....
Langganan:
Postingan (Atom)
